RADAR TULUNGAGUNG - Asal usul Tulungagung menyimpan kisah legenda yang sarat makna tentang perjuangan, kepemimpinan, dan pertolongan ilahi.
Cerita ini bermula dari masa sulit di sebuah wilayah bernama Kadipaten Betak, yang dipimpin oleh Adipati Betak.
Kala itu, wilayah Betak mengalami lonjakan pendatang yang ingin menetap. Namun, keterbatasan lahan menjadi masalah besar.
Satu-satunya wilayah yang tersisa hanyalah rawa luas yang dikenal sebagai Ngrowo.
Sayembara Mengeringkan Rawa Ngrowo
Dalam upaya mencari solusi, Adipati Betak mengadakan sayembara. Ia menjanjikan jabatan patih bagi siapa pun yang mampu mengeringkan rawa Ngrowo.
Banyak orang dari berbagai daerah datang mencoba peruntungan. Namun, semua usaha berakhir sia-sia.
Setiap kali air surut, genangan kembali muncul. Hal ini disebabkan oleh sumber mata air di tengah rawa yang tak pernah berhenti mengalir.
Kegagalan demi kegagalan membuat sang adipati hampir putus asa. Hingga pada hari terakhir sayembara, harapan seakan benar-benar sirna.
Munculnya Jaka Baru dari Lereng Wilis
Di saat genting itulah, muncul seorang pemuda bernama Jaka Baru. Ia berasal dari lereng Gunung Wilis dan datang dengan niat mengikuti sayembara.
Meski diragukan, Jaka Baru tetap yakin. Ia bahkan berani mempertaruhkan nyawanya jika gagal.
Sebelum memulai, ia pulang untuk meminta restu kepada ayahnya, Ki Ageng Mangir.
Dari sang ayah, ia mendapatkan petunjuk sederhana namun penuh makna: gunakan ijuk dan lidi dari pohon aren untuk menutup sumber air.
Cara Sederhana yang Mengubah Segalanya
Setelah kembali ke Betak, Jaka Baru langsung menuju rawa Ngrowo. Ia memanjatkan doa, lalu menyelam mencari sumber mata air tersebut.
Dengan menggunakan segenggam ijuk, ia menyumbat sumber air. Kemudian, ia menancapkan sebatang lidi di sisinya.
Ajaibnya, aliran air berhenti seketika. Perlahan, rawa mulai mengering hingga akhirnya berubah menjadi daratan.
Lahirnya Nama Tulungagung
Keberhasilan itu membuat Adipati Betak sangat terharu. Ia menyebut peristiwa tersebut sebagai “pitulungan agung”, yang berarti pertolongan besar dari Sang Pencipta.
Sebagai bentuk penghargaan, Jaka Baru diangkat menjadi patih Kadipaten Betak.
Seiring waktu, wilayah bekas rawa Ngrowo berkembang menjadi pusat pemukiman baru. Dari istilah “pitulungan agung” yang sering diucapkan, masyarakat kemudian menyebut daerah tersebut sebagai Tulungagung.
Dari Legenda Menjadi Identitas Daerah
Kisah asal usul Tulungagung bukan sekadar cerita rakyat, tetapi juga menjadi simbol harapan dan kerja keras.
Legenda ini mengajarkan bahwa solusi besar tidak selalu datang dari cara rumit. Terkadang, kunci keberhasilan justru terletak pada kesederhanaan, ketekunan, dan doa.
Hingga kini, cerita tentang Jaka Baru dan rawa Ngrowo tetap hidup di tengah masyarakat sebagai bagian dari identitas budaya yang diwariskan turun-temurun.
Editor : Manda Dwi Agustin