RADAR TULUNGAGUNG – Sejarah Tulungagung menyimpan perjalanan panjang yang tak banyak diketahui publik. Dari jejak manusia purba hingga menjadi kabupaten maju seperti saat ini, wilayah ini mengalami transformasi besar selama ribuan tahun.
Sejarah Tulungagung bermula sejak masa prasejarah. Hal itu dibuktikan dengan penemuan artefak di gua-gua kawasan pegunungan selatan seperti Song Gentong dan Song Terus.
Temuan berupa alat batu dan sisa tulang hewan menunjukkan bahwa manusia purba pernah hidup secara nomaden dengan mengandalkan berburu dan meramu.
Tak hanya itu, bukti kehidupan masa neolitikum dan megalitikum juga ditemukan, seperti menhir dan sarkofagus di wilayah Campur Darat dan Kalidawir. Ini menandakan masyarakat kala itu sudah memiliki sistem kepercayaan terhadap roh leluhur.
Masuknya Pengaruh Kerajaan Besar
Memasuki abad ke-8, sejarah Tulungagung mulai terhubung dengan kekuasaan kerajaan Hindu awal seperti Kerajaan Kanjuruhan. Meski pusatnya berada di Malang, pengaruhnya menjangkau wilayah selatan Sungai Brantas, termasuk Tulungagung.
Selanjutnya, pada abad ke-10, wilayah ini masuk dalam pengaruh Kerajaan Medang di bawah pemerintahan Mpu Sindok. Perpindahan pusat kekuasaan ke Jawa Timur menjadikan Tulungagung sebagai jalur strategis antara pedalaman dan pesisir selatan.
Salah satu bukti penting dari masa ini adalah Prasasti Lawadan di Boyolangu yang menunjukkan adanya sistem pemerintahan dan penetapan tanah sima atau bebas pajak.
Peran Penting di Era Kediri hingga Majapahit
Pada masa Kerajaan Kediri, Tulungagung berkembang sebagai daerah agraris yang menopang kebutuhan pangan kerajaan. Sistem irigasi kuno mulai diterapkan untuk meningkatkan hasil pertanian.
Kemudian di era Kerajaan Singhasari, wilayah ini semakin terintegrasi dalam sistem pemerintahan yang lebih terpusat. Infrastruktur mulai berkembang, termasuk jalur distribusi hasil bumi.
Puncaknya terjadi pada masa Kerajaan Majapahit di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Tulungagung menjadi daerah penyangga logistik sekaligus wilayah spiritual.
Salah satu peninggalan penting adalah Arca Gayatri di Boyolangu yang diyakini sebagai simbol penghormatan kepada Gayatri Rajapatni. Hal ini menunjukkan tingginya nilai spiritual wilayah tersebut.
Masa Islam hingga Kolonial
Memasuki abad ke-15, sejarah Tulungagung memasuki fase islamisasi. Penyebaran Islam dilakukan secara damai melalui jalur budaya oleh para ulama yang terkait dengan jaringan Wali Songo.
Proses ini berlanjut saat wilayah berada di bawah kekuasaan Kesultanan Demak dan Pajang, hingga akhirnya masuk ke dalam sistem pemerintahan Kesultanan Mataram.
Pada masa kolonial Belanda, Tulungagung dikenal dengan nama Ngrowo. Pemerintah kolonial menerapkan sistem tanam paksa yang berdampak besar pada kehidupan masyarakat. Namun, di sisi lain, Belanda juga membangun infrastruktur seperti irigasi dan jalan raya.
Perubahan nama resmi dari Ngrowo menjadi Tulungagung terjadi pada tahun 1901, yang diambil dari kata “tulung” (mata air) dan “agung” (besar).
Perjuangan Kemerdekaan hingga Era Modern
Saat masa penjajahan Jepang dan setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 1945, Tulungagung menjadi basis penting perjuangan rakyat. Wilayah seperti Sendang dan Besuki menjadi lokasi strategis untuk perang gerilya.
Pada masa Agresi Militer Belanda II, perlawanan rakyat Tulungagung terus berlangsung meski dalam tekanan besar. Semangat gotong royong masyarakat menjadi kunci bertahannya perjuangan.
Pasca kemerdekaan, Tulungagung berkembang pesat, terutama di sektor pertanian dan industri. Pada era Orde Baru, daerah ini dikenal sebagai lumbung padi nasional serta pusat industri marmer, khususnya di Campur Darat.
Kini, Tulungagung terus berkembang sebagai kabupaten modern dengan kekuatan ekonomi di sektor pertanian, industri marmer, dan kerajinan batik. Di sisi lain, nilai budaya dan tradisi tetap dijaga sebagai identitas daerah.
Sejarah panjang ini menunjukkan bahwa Tulungagung bukan sekadar wilayah administratif, tetapi juga saksi perjalanan peradaban yang terus hidup hingga saat ini.
Editor : Manda Dwi Agustin