RADAR TULUNGAGUNG – Sejarah Tulungagung dan misteri babadnya kembali menarik perhatian publik setelah kisah-kisah legenda lokal diangkat dalam narasi populer di media digital.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah cerita Roro Kembang Sore yang sarat tragedi, serta asal-usul nama Tulungagung yang penuh filosofi mendalam.
Sejarah Tulungagung tidak hanya berbicara tentang kerajaan besar seperti Majapahit, tetapi juga diperkaya dengan kisah babad yang diwariskan secara turun-temurun.
Dalam salah satu versi cerita, Tulungagung dikaitkan dengan peristiwa besar yang melibatkan tokoh-tokoh penting hingga masa kejayaan Majapahit.
Pada bagian awal kisah, diceritakan sosok Roro Kembang Sore, seorang perempuan cantik yang hidup dalam konflik cinta dan kekuasaan.
Ia jatuh cinta pada seorang pangeran, namun hubungan itu berujung tragis setelah sang kekasih dibunuh. Peristiwa ini menjadi salah satu bagian paling emosional dalam babad Tulungagung.
Kisah Tragis Roro Kembang Sore
Cerita Roro Kembang Sore menggambarkan konflik keluarga, pengkhianatan, hingga dendam yang berujung pada pertapaan. Setelah kehilangan orang yang dicintainya, ia memilih mengasingkan diri dan bertapa hingga akhir hayatnya.
Kisah ini juga berkaitan dengan munculnya tokoh besar dalam sejarah Nusantara, yakni Patih Gajah Mada.
Dalam narasi babad, disebutkan bahwa peristiwa-peristiwa di wilayah tersebut menjadi bagian dari perjalanan awal sosok yang kelak dikenal sebagai pemersatu Nusantara.
Selain itu, legenda ini juga melahirkan cerita rakyat lain, seperti asal-usul Gunung Budeg yang dikaitkan dengan kutukan seorang ibu kepada anaknya.
Asal-usul Nama Tulungagung
Tak kalah menarik, sejarah Tulungagung juga menjelaskan filosofi di balik namanya. Kata “Tulung” berarti menolong, sedangkan “Agung” berarti besar.
Makna ini mencerminkan harapan agar masyarakat Tulungagung memiliki jiwa gotong royong dan saling membantu.
Filosofi tersebut selaras dengan nilai-nilai Pancasila yang menjunjung tinggi kemanusiaan dan solidaritas sosial.
Hingga kini, semangat tolong-menolong masih menjadi identitas kuat masyarakat Tulungagung.
Jejak Sejarah di Situs Candi Penampihan
Selain legenda, bukti sejarah Tulungagung juga dapat ditemukan melalui peninggalan arkeologis seperti Candi Penampihan. Situs ini terletak di lereng Gunung Wilis dan diyakini telah digunakan sejak masa Mataram Kuno hingga Majapahit.
Candi ini memiliki struktur berundak yang merupakan kelanjutan dari tradisi punden berundak pada masa prasejarah. Hal ini menunjukkan bahwa wilayah Tulungagung telah menjadi pusat aktivitas spiritual sejak ribuan tahun lalu.
Para ahli menyebut, lokasi candi di tempat tinggi bukan tanpa alasan. Nenek moyang percaya bahwa tempat tinggi adalah wilayah suci yang dekat dengan Sang Pencipta.
Pesan Pelestarian Alam dari Leluhur
Menariknya, keberadaan Candi Penampihan juga mengandung pesan penting tentang pelestarian lingkungan. Air yang mengalir dari Gunung Wilis dianggap sebagai sumber kehidupan yang harus dijaga kesuciannya.
Konsep ini dikenal sebagai Tirta Amerta atau air kehidupan. Nilai tersebut mengajarkan bahwa manusia harus hidup selaras dengan alam, menjaga sumber daya air, dan tidak merusak lingkungan.
Identitas Budaya yang Tak Boleh Hilang
Sejarah Tulungagung bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi juga identitas yang membentuk karakter masyarakatnya saat ini. Dari legenda hingga peninggalan sejarah, semuanya menjadi bukti bahwa wilayah ini memiliki akar budaya yang kuat.
Para pemerhati budaya berharap generasi muda tidak melupakan sejarah dan nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur. Sebab, kehilangan sejarah sama halnya dengan kehilangan jati diri.
Dengan kekayaan sejarah, legenda, dan filosofi yang dimiliki, Tulungagung bukan hanya sekadar daerah, tetapi juga simbol perjalanan panjang peradaban di Jawa Timur.
Editor : Manda Dwi Agustin