RADAR TULUNGAGUNG – Sejarah Terowongan Neyama Tulungagung menjadi salah satu kisah kelam masa pendudukan Jepang di Indonesia.
Dibangun pada 1943, proyek ini menyisakan luka mendalam bagi masyarakat karena dikerjakan dengan sistem kerja paksa atau romusha.
Sejarah Terowongan Neyama Tulungagung tidak bisa dilepaskan dari upaya pemerintah Jepang mengatasi banjir yang kerap melanda wilayah tersebut.
Namun di balik tujuan itu, tersimpan penderitaan rakyat yang dipaksa bekerja dalam kondisi berat dan minim perlindungan.
Mengutip kajian historiografi, pembangunan terowongan ini diprakarsai oleh Residen Kediri saat itu, NJ Kihara.
Baca Juga: Daftar Bupati Tulungagung dari Masa ke Masa, Ini Fakta Sejarah dan Nama-Nama yang Pernah Memimpin
Ia mengusulkan pembuatan sistem drainase berupa terowongan yang menembus gunung untuk mengalirkan air dari Sungai Brantas menuju Samudra Hindia.
Proyek Drainase Ambisius di Era Jepang
Terowongan Neyama dirancang sebagai solusi banjir yang sudah lama menjadi masalah di Tulungagung. Wilayah ini dikenal memiliki kondisi geografis yang rentan genangan air, terutama di hilir Sungai Brantas.
Dengan potensi ekonomi yang cukup besar serta lokasi strategis, Jepang berkepentingan menjaga stabilitas wilayah ini. Karena itu, proyek drainase besar pun dijalankan.
Namun, pelaksanaan proyek ini jauh dari kata manusiawi. Jepang memanfaatkan tenaga rakyat melalui sistem romusha. Warga dipaksa bekerja tanpa upah layak, menggunakan alat sederhana, bahkan bahan peledak untuk menembus gunung.
Penderitaan Rakyat di Balik Pembangunan
Pembangunan Terowongan Neyama menjadi saksi bisu kekejaman penjajahan Jepang. Banyak pekerja mengalami kelelahan, kelaparan, hingga kehilangan nyawa.
Minimnya peralatan modern membuat pekerjaan semakin berat. Para pekerja hanya mengandalkan alat tangan sederhana, sementara risiko longsor dan kecelakaan selalu mengintai.
Bagi masyarakat Tulungagung, terowongan ini bukan sekadar infrastruktur, tetapi simbol penderitaan kolektif yang tidak terlupakan.
Tetap Berfungsi Hingga Pasca Kemerdekaan
Meski dibangun dengan penuh penderitaan, Terowongan Neyama terbukti memiliki fungsi penting. Hingga Jepang meninggalkan Indonesia pada 1945, sistem drainase ini masih bekerja dengan baik dalam mengalirkan air.
Namun, bencana alam kembali menguji ketahanan sistem tersebut. Banjir besar akibat aktivitas Gunung Kelud pada 1955 memaksa pemerintah Indonesia melakukan perbaikan.
Rehabilitasi dan Pengembangan
Pemerintah Indonesia melakukan rehabilitasi pada 1959 dan kembali pada 1980. Dalam proses ini, ditambahkan terowongan baru untuk meningkatkan kapasitas aliran air.
Langkah tersebut terbukti efektif dalam mengurangi genangan air di wilayah Tulungagung. Sistem drainase yang dibangun sejak era Jepang itu akhirnya berkembang menjadi infrastruktur penting bagi pengendalian banjir.
Berganti Nama Menjadi Terowongan Suka Makmur
Tonggak penting terjadi pada 1986 ketika Presiden Soeharto meresmikan kembali terowongan tersebut. Sejak saat itu, namanya diubah menjadi Terowongan Suka Makmur.
Perubahan nama ini menjadi simbol transformasi dari masa kelam menuju masa pembangunan. Terowongan yang dahulu identik dengan penderitaan kini menjadi bagian penting dalam mendukung kehidupan masyarakat.
Warisan Sejarah yang Tak Terlupakan
Sejarah Terowongan Neyama Tulungagung mengajarkan bahwa pembangunan infrastruktur tidak selalu lahir dari proses yang mudah. Ada pengorbanan besar di baliknya, terutama dari rakyat kecil.
Kini, terowongan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai saluran air, tetapi juga menjadi pengingat sejarah tentang perjuangan dan penderitaan masyarakat di masa penjajahan.
Bagi generasi muda, memahami sejarah ini menjadi penting agar nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan tetap dijunjung tinggi di masa depan.
Editor : Manda Dwi Agustin