JAKARTA - Nama Denny Darko kembali menjadi sorotan setelah mengungkap dirinya merupakan cucu pendiri rokok Reco Pentung asal Tulungagung, Jawa Timur. Dalam sebuah wawancara podcast, Denny Darko membantah tudingan lama yang menyebut keluarganya melakukan pesugihan dengan Nyai Roro Kidul demi kejayaan bisnis rokok tersebut.
Pernyataan itu muncul setelah sebuah video penelusuran pabrik dan makam pendiri Reco Pentung viral di media sosial. Dalam video tersebut, muncul narasi yang mengaitkan kejayaan perusahaan rokok legendaris itu dengan praktik mistis dan ritual Kejawen.
Denny Darko menegaskan tuduhan tersebut tidak benar. Menurutnya, sang kakek hanya menghormati budaya masyarakat pesisir selatan Jawa yang masih mempercayai mitos Nyai Roro Kidul.
“Buat saya itu hanya sebuah penggambaran dari hikayat yang ada, lalu diartikan menjadi sesuatu yang ingin dipercaya orang,” ujar Denny Darko dalam wawancara tersebut.
Baca Juga: Rabbit Zodiac Outlook 2026: Love, Creativity, and Financial Recovery Take Priority
Denny Darko Sebut Reco Pentung Pernah Jadi Rokok Besar di Jawa Timur
Dalam wawancara itu, Denny Darko membenarkan bahwa dirinya berasal dari keluarga pemilik perusahaan rokok Reco Pentung di Tulungagung. Perusahaan tersebut didirikan sekitar 1946, tidak lama setelah Indonesia merdeka.
Menurutnya, Reco Pentung pernah menjadi salah satu pabrik rokok besar di Jawa Timur dan berjaya pada era 1970 hingga 1980-an. Bahkan, keluarganya memiliki hubungan baik dengan sejumlah pengusaha rokok besar lain di wilayah Kediri dan Tulungagung.
“Kakek saya berteman baik dengan pendiri pabrik rokok Gudang Garam karena memang kotanya berdekatan,” katanya.
Denny Darko juga mengungkap bahwa ayahnya, Mulia Dody Sumiran, pernah menjadi peracik rasa utama di perusahaan tersebut. Ia menyebut bisnis keluarga itu akhirnya runtuh sekitar 2001 hingga 2002 akibat perubahan regulasi industri rokok dan persoalan manajemen perusahaan.
“Ada regulasi yang membuat kami tidak cepat beradaptasi, akhirnya ada masalah produksi dan keuangan,” jelasnya.
Meski perusahaan telah bangkrut, nama Reco Pentung masih dikenal masyarakat Tulungagung. Bahkan, menurut Denny Darko, warga lokal berusia di atas 30 tahun masih hafal jingle legendaris rokok tersebut.
“Rokok e pentung weton pabrik Tulungagung,” ucapnya menirukan jingle berbahasa Jawa yang dulu populer.
Baca Juga: Ox Zodiac Fortune in 2026: Stability and Career Progress Expected to Dominate the Year
Bantah Pesugihan Nyai Roro Kidul, Denny Darko Jelaskan Asal Usul Isu
Isu pesugihan Nyai Roro Kidul kembali mencuat setelah seorang konten kreator horor melakukan penelusuran ke lokasi bekas pabrik dan area wisata milik keluarga Denny Darko di Tulungagung.
Dalam video itu disebutkan bahwa kejayaan bisnis Reco Pentung berkaitan dengan praktik mistis. Namun, Denny Darko langsung membantah narasi tersebut.
Ia menjelaskan bahwa sang kakek dahulu membangun tempat wisata di kawasan pantai selatan Tulungagung. Di lokasi itu memang terdapat lukisan besar Nyai Roro Kidul sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya masyarakat nelayan setempat.
“Beliau mendirikan tempat meditasi untuk menghormati budaya masyarakat sekitar, bukan untuk pesugihan,” ujarnya.
Menurut Denny Darko, ketertarikan sang kakek terhadap budaya Jawa sering disalahartikan publik sebagai praktik spiritual tertentu. Ia menyebut kakeknya memang sempat mendalami tradisi Kejawen sebelum akhirnya lebih mendalami agama Islam dan menunaikan ibadah haji.
“Kalau dikatakan Kejawen, iya. Tapi bukan berarti punya kekuatan magis,” katanya.
Denny Darko juga menegaskan dirinya tidak percaya kekayaan keluarganya berasal dari praktik gaib. Ia bahkan berseloroh jika hal itu benar, dirinya mungkin sudah kembali memiliki pabrik rokok besar saat ini.
Ingin Bangkitkan Lagi Reco Pentung sebagai Warisan Budaya
Meski perusahaan rokok Reco Pentung telah lama tutup, Denny Darko mengaku masih memiliki keinginan untuk menghidupkan kembali merek tersebut sebagai bagian dari warisan budaya keluarga.
Ia mengatakan ayahnya pernah berpesan agar nama Reco Pentung tetap ada meski dalam skala kecil. Namun, keinginan itu belum terwujud karena dirinya bukan perokok dan belum menemukan partner bisnis yang tepat.
“Bukan untuk mengejar besar lagi, tapi sebagai legacy budaya yang sayang kalau hilang,” ucapnya.
Denny Darko juga menilai industri kretek memiliki nilai sejarah penting di Indonesia, terutama karena pernah menjadi bagian dari perkembangan ekonomi masyarakat Jawa Timur pada masa lalu.
Viralnya kembali kisah Reco Pentung membuat publik mengaitkannya dengan film Gadis Kretek yang sempat populer beberapa waktu lalu. Denny Darko mengakui banyak bagian dalam cerita industri kretek tempo dulu memang memiliki kemiripan dengan perjalanan bisnis keluarganya.
Editor : Natasha Eka Safrina