JAKARTA - Rokok Bentul Biru pernah menjadi salah satu merek kretek paling populer di Indonesia pada era 1980 hingga 1990-an. Namun kini, nama besar Bentul Biru perlahan menghilang dari pasaran setelah perjalanan panjang industri, utang raksasa, hingga akhirnya diakuisisi perusahaan rokok global British American Tobacco pada 2009.
Bentul Biru dikenal sebagai salah satu pelopor inovasi di industri rokok nasional. Perusahaan asal Malang itu pernah menjadi produsen sigaret kretek mesin berfilter pertama di Indonesia sekaligus pionir penggunaan plastik untuk kemasan rokok.
Namun di balik kejayaannya, Bentul menghadapi tekanan besar akibat modernisasi industri, utang menggunung, hingga perubahan arah bisnis yang membuat merek legendaris tersebut kehilangan pamor di tengah persaingan industri rokok nasional.
Baca Juga: Dragon Zodiac Fortune 2026: Power, Leadership, and Global Opportunities on the Rise
Bentul Biru Berawal dari Industri Rumahan hingga Jadi Raksasa Kretek Nasional
Sejarah Bentul Biru bermula dari sebuah pabrik kecil bernama Strutus Fabrik Ong Hok Liong yang didirikan oleh Ong Hok Liong di Malang pada 10 September 1930. Pendiri Bentul sendiri lahir di Bojonegoro pada 12 Agustus 1893 dan merintis usaha rokok secara sederhana dari rumah.
Sebelum sukses dengan merek Bentul, Ong Hok Liong sempat memproduksi berbagai merek rokok seperti Gendang, Kelabang, Lampu, Turki, dan Jeruk Manis. Namun semuanya gagal di pasaran.
Titik balik datang pada 1954 setelah Ong Hok Liong mengganti nama perusahaannya menjadi PT Perusahaan Rokok Cap Bentul. Nama “Bentul” disebut berasal dari mimpi tentang ubi talas saat dirinya berziarah ke Gunung Kawi.
Dalam buku Bandit Saints of Java karya George Quinn tahun 2019 disebutkan Ong Hok Liong bermimpi melihat ubi talas saat tertidur di area makam keramat Gunung Kawi. Juru kunci makam kemudian menyarankan agar nama perusahaan rokoknya diganti.
Keputusan itu menjadi awal kebangkitan Bentul. Sebelum 1960, jumlah pekerja perusahaan telah mencapai sekitar 3.000 orang. Bentul kemudian tumbuh menjadi salah satu perusahaan rokok pribumi terbesar di Indonesia.
“Ketika dia meninggal pada tahun 1967, Bentul telah menjadi pabrik rokok pribumi terbesar kedua di Indonesia,” tulis George Quinn dalam bukunya.
Baca Juga: Rabbit Zodiac Outlook 2026: Love, Creativity, and Financial Recovery Take Priority
Jadi Pelopor Rokok Filter dan Kemasan Plastik di Indonesia
Memasuki akhir 1970-an, Bentul kembali mencatat sejarah besar dalam industri rokok nasional. Perusahaan ini menjadi pelopor sigaret kretek mesin berfilter pertama di Indonesia.
Saat itu mayoritas masyarakat Indonesia masih mengonsumsi rokok kretek tanpa filter. Kehadiran rokok filter Bentul dianggap sebagai simbol modernisasi industri tembakau nasional.
Tidak hanya itu, Bentul juga menjadi perusahaan pertama yang memperkenalkan penggunaan plastik sebagai pembungkus rokok. Inovasi tersebut kemudian diikuti hampir seluruh perusahaan rokok besar di Indonesia.
Pada era pemerintahan Soeharto, Bentul dikenal sebagai salah satu perusahaan rokok paling maju karena berani berinvestasi besar dalam teknologi otomatisasi pabrik.
Namun modernisasi itu justru menjadi dilema besar. Penggunaan mesin otomatis membuat kebutuhan tenaga kerja semakin berkurang. Kondisi tersebut dinilai tidak sejalan dengan kebijakan pemerintah Orde Baru yang lebih mendorong industri padat karya.
Bentul akhirnya kesulitan memaksimalkan pabrik modern yang telah dibangun dengan biaya sangat besar. Mesin-mesin canggih yang diharapkan menjadi simbol kemajuan justru berubah menjadi beban finansial perusahaan.
Terjerat Utang Ratusan Juta Dolar hingga Diakuisisi British American Tobacco
Memasuki dekade 1980-an, kondisi keuangan Bentul mulai memburuk. Perusahaan terlilit pinjaman besar dari BRI dan Bank Bumi Daya senilai USD 170 juta.
Tak hanya itu, utang kepada kreditor asing juga membengkak hingga mencapai USD 350 juta. Situasi tersebut memaksa keluarga Ong Hok Liong melepas sebagian besar saham perusahaan.
Nama Tommy Soeharto sempat disebut tertarik membeli saham Bentul. Namun perusahaan akhirnya jatuh ke tangan pengusaha Peter Sondakh melalui Rajawali Wirabhakti Utama.
Pada 1997, PT Perusahaan Rokok Cap Bentul resmi dibubarkan dan asetnya dipindahkan ke PT Bentul Prima. Tiga tahun kemudian perusahaan berubah nama menjadi PT Bentul International Investama Tbk.
Puncak perubahan terjadi pada 2009 ketika Bentul diakuisisi oleh British American Tobacco, perusahaan rokok terbesar kedua di dunia. Setahun setelahnya, Bentul Group bergabung dengan PT BAT Indonesia dengan kepemilikan saham mencapai 92,48 persen.
Meski berada di bawah perusahaan global, merek Bentul Biru justru semakin redup. Rokok yang dulu mudah ditemukan di berbagai warung dan toko kini nyaris hilang dari pasaran.
Perjalanan Bentul Biru menjadi gambaran perubahan besar industri kretek Indonesia. Dari usaha keluarga sederhana di Malang, tumbuh menjadi raksasa nasional, lalu tenggelam akibat utang, modernisasi, dan persaingan industri global.
Editor : Natasha Eka Safrina