Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kisah Sumiran Karsodiwiryo Pendiri Reco Pentung, Anak Buruh dari Tulungagung yang Bangun Kerajaan Rokok hingga Viral karena Mitos Nyi Roro Kidul

Natasha Eka Safrina • Jumat, 22 Mei 2026 | 19:39 WIB
Kisah Sumiran Karsodiwiryo pendiri Reco Pentung dari anak buruh hingga bangun kerajaan rokok Tulungagung yang penuh legenda. (Google)
Kisah Sumiran Karsodiwiryo pendiri Reco Pentung dari anak buruh hingga bangun kerajaan rokok Tulungagung yang penuh legenda. (Google)

 

TULUNGAGUNG - Nama Sumiran Karsodiwiryo kembali menjadi sorotan setelah kisah perjuangannya membangun pabrik rokok Reco Pentung viral di media sosial. Pendiri rokok legendaris asal Tulungagung itu dikenal sebagai anak buruh miskin yang sukses membangun industri kretek besar di Jawa Timur sebelum akhirnya runtuh diterpa persaingan industri dan perubahan zaman.

Kisah hidup Sumiran Karsodiwiryo juga kembali ramai diperbincangkan karena dikaitkan dengan mitos Nyi Roro Kidul dan kawasan Pantai Popoh. Namun pihak keluarga membantah isu pesugihan yang selama ini berkembang di masyarakat.

Dari seorang anak buruh penggali tanah hingga menjadi pemilik pabrik rokok dengan ribuan pekerja, perjalanan hidup Sumiran Karsodiwiryo dianggap sebagai simbol perjuangan ekonomi rakyat Tulungagung pada masa lalu.

Sumiran Karsodiwiryo Bangun Reco Pentung dari Nol hingga Jadi Pabrik Besar

Sumiran Karsodiwiryo lahir di Tulungagung pada 9 September 1921 dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai buruh kasar penggali tanah dan pemasang tiang listrik, sementara Sumiran kecil sudah membantu bekerja sejak usia enam tahun.

Selepas sekolah rakyat atau SR, Sumiran mulai berdagang kecil-kecilan dengan menjual pisang goreng, kacang, hingga serabi keliling kampung. Pengalaman hidup keras itu membentuk mental pantang menyerah yang kemudian menjadi fondasi kesuksesannya.

Pada Mei 1946, Sumiran memulai usaha rokok kretek rumahan bersama istrinya, Supatmi. Produk pertama yang dibuat diberi nama Cap Ikan Dorang dengan sistem produksi manual menggunakan lintingan tangan.

Baca Juga: Dragon Zodiac Fortune 2026: Power, Leadership, and Global Opportunities on the Rise

Titik balik terjadi setelah 1949 ketika Sumiran meluncurkan merek Reco Pentung, terinspirasi dari patung ikon Tulungagung yang sempat diruntuhkan saat agresi Belanda. Nama itu kemudian melejit dan menjadi salah satu merek rokok terkenal di Jawa Timur.

“Masyarakat menyukai cita rasa khas kreteknya yang kuat dan aromatik,” disebutkan dalam narasi video tersebut.

Jumlah pekerja Reco Pentung terus bertambah dari belasan orang hingga ribuan pekerja. Pada 1991, jumlah karyawan disebut mencapai sekitar 4.500 orang dan menjadikan perusahaan tersebut sebagai salah satu pabrik rokok terbesar di wilayah Jawa Timur Selatan.

Reco Pentung Pernah Jaya, Tapi Runtuh karena Persaingan Industri Rokok Nasional

Kesuksesan Reco Pentung sempat terganggu pada era 1960-an ketika situasi politik nasional memanas pasca peristiwa G30S PKI. Produksi rokok mengalami penurunan drastis dan ribuan pekerja harus dirumahkan.

Namun Sumiran Karsodiwiryo tidak menyerah. Ia kembali bangkit dengan meluncurkan produk sigaret kretek putih bernama Gaya Baru pada awal 1970-an. Strategi itu berhasil menghidupkan kembali bisnis keluarga.

Pada 1982, merek Reco Pentung kembali diperkuat dengan kualitas baru dan mulai bersaing dengan merek besar seperti Gudang Garam, Djarum, Bentoel, hingga Sampoerna.

Baca Juga: Rabbit Zodiac Outlook 2026: Love, Creativity, and Financial Recovery Take Priority

Selain bisnis rokok, Sumiran juga aktif dalam organisasi pengusaha rokok dan pengembangan wisata Pantai Popoh melalui PT Sutera Bina Samudra.

Namun memasuki dekade 1990-an, industri rokok nasional berubah drastis. Perusahaan besar dengan modal triliunan dan teknologi modern mulai mendominasi pasar. Sementara Reco Pentung masih mengandalkan sistem semi manual dan distribusi lokal.

Kenaikan cukai, biaya produksi, serta ketatnya persaingan membuat perusahaan akhirnya berhenti beroperasi sekitar 1995. Pabrik di Jalan Mayor Sujadi Tulungagung kemudian menjadi sengketa hukum dan sebagian aset dilelang.

Mitos Nyi Roro Kidul dan Bantahan Keluarga Denny Darko

Selain dikenal sebagai pengusaha sukses, nama Sumiran Karsodiwiryo juga lekat dengan mitos Nyi Roro Kidul. Hal itu muncul karena kedekatannya dengan kawasan Pantai Popoh dan pembangunan fasilitas wisata di pesisir selatan Tulungagung.

Sebagian masyarakat percaya keberhasilan Reco Pentung berasal dari praktik pesugihan laut selatan. Namun keluarga besar Sumiran membantah tudingan tersebut.

Denny Darko yang merupakan cucu Sumiran menegaskan sang kakek hanyalah pecinta budaya Jawa dan tetap seorang muslim taat.

“Beliau hanya menghormati budaya dan menyediakan tempat untuk orang-orang yang masih mempercayai hal tersebut,” ujar Denny Darko dalam sebuah wawancara.

Menurut keluarga, kisah mistis yang berkembang hanyalah cara masyarakat menafsirkan kesuksesan besar seorang anak buruh yang berhasil membangun kerajaan rokok dari nol.

Kini bangunan bekas pabrik Reco Pentung masih berdiri di Tulungagung meski sebagian telah terbengkalai. Namun bagi masyarakat setempat, nama Sumiran Karsodiwiryo tetap dikenang sebagai pelopor ekonomi rakyat yang pernah membuka lapangan pekerjaan bagi ribuan warga.

Editor : Natasha Eka Safrina
#Sumiran Karsodiwiryo #sejarah rokok Reco Pentung #denny darko #Reco Pentung Tulungagung