JAKARTA - Sejarah Tulungagung ternyata menyimpan jejak panjang peradaban besar Nusantara, mulai dari era Kerajaan Medang, Panjalu, Jenggala hingga Majapahit. Wilayah yang dahulu dikenal sebagai Lodoyong dan Ngerawa itu disebut menjadi saksi perebutan kekuasaan para raja Jawa sejak abad ke-9 Masehi, termasuk kisah Raja Erlangga, Ken Arok, hingga kejayaan Majapahit.
Nama Tulungagung sendiri berasal dari bahasa Jawa Kawi, yakni “tulung” yang berarti pertolongan atau sumber air, serta “agung” yang berarti besar. Dari makna itu, Tulungagung dikenal sebagai “pertolongan agung” sekaligus “sumber air besar”. Wilayah ini baru resmi menggunakan nama Tulungagung pada 1 April 1901 menggantikan nama Ngerawa.
Namun, setelah ditemukannya Prasasti Lawadan bertarikh 18 November 1205 Masehi, tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai hari lahir Kabupaten Tulungagung. Prasasti itu menjadi bukti penting bahwa wilayah ini telah memiliki peran strategis sejak masa kerajaan kuno di Jawa Timur.
Jejak Kerajaan Medang dan Pertempuran Besar di Tulungagung
Sejarah Tulungagung mulai terlihat jelas sejak masa pemerintahan Sri Darmodaya Rakyan Watukura Dyah Balitung yang memimpin Kerajaan Medang sekitar tahun 898–910 Masehi. Dalam masa pemerintahannya muncul Prasasti Penampihan I yang ditemukan di Desa Geger, Kecamatan Sendang, Tulungagung.
Prasasti bertahun 898 Masehi itu menjelaskan adanya anugerah tanah perdikan bagi wilayah Penampihan. Hal ini menunjukkan bahwa Tulungagung telah mengenal sistem pemerintahan lokal sejak lebih dari 1.100 tahun lalu.
Pada masa itu, Dyah Balitung melakukan ekspansi besar ke Jawa Timur untuk menaklukkan Kerajaan Kanjuruhan. Dalam penyerangan tersebut, pasukan Medang sempat terpukul mundur dan bertahan di kawasan Gunung Wilis, Tulungagung.
Masyarakat setempat disebut memberi bantuan besar kepada pasukan Medang hingga akhirnya kemenangan berhasil diraih. Dari sinilah muncul makna “pertolongan agung” yang diyakini menjadi asal nama Tulungagung.
Peristiwa penting lain terjadi pada era Raja Erlangga sekitar abad ke-11. Setelah Kerajaan Medang di Jawa Tengah runtuh akibat serangan Sriwijaya pada 929 Masehi, Empu Sindok memindahkan pusat kerajaan ke Jawa Timur.
Di masa Erlangga, wilayah Lodoyong yang kini menjadi Tulungagung berkembang menjadi kerajaan kuat di selatan Sungai Brantas. Penguasa Lodoyong saat itu adalah Ratu Diah Tulodong yang disebut sebagai lawan tangguh Erlangga.
Dalam Prasasti Terep tahun 1032 Masehi disebutkan Erlangga bahkan sempat kalah dan terusir dari istananya akibat serangan pasukan Lodoyong. Tiga tahun kemudian, Erlangga berhasil bangkit dan menundukkan wilayah tersebut.
Bendungan Raksasa dan Awal Mula Rawa Tulungagung
Selain menjadi pusat perebutan kekuasaan, sejarah Tulungagung juga berkaitan erat dengan proyek hidrologi besar pada masa Erlangga. Wilayah selatan Brantas kala itu sering dilanda banjir akibat jebolnya tanggul Waringin Sapta.
Banjir besar menyebabkan sawah rusak, gagal panen, hingga perdagangan terganggu. Lodoyong yang dikenal sebagai penghasil padi unggulan pun terancam lumpuh secara ekonomi.
Untuk mengatasi masalah itu, Erlangga memerintahkan pembangunan bendungan besar dan saluran air menuju Sungai Brantas. Proyek tersebut melibatkan pasukan Kahuripan, prajurit Lodoyong, dan masyarakat Brang Kidul.
Sungai baru yang dibuat kala itu dikenal sebagai Sungai Ngerawa. Nama tersebut kemudian menjadi asal-usul wilayah Ngerawa yang mendominasi kawasan Tulungagung lama.
Meski bendungan berhasil dibangun pada sekitar 1037 Masehi, kawasan rawa tetap bertahan selama berabad-abad karena kondisi geografis yang lebih rendah dari Sungai Brantas. Fakta ini memperkuat sejarah Tulungagung sebagai daerah yang identik dengan rawa dan sumber air besar.
Pada masa selanjutnya, Erlangga membagi kerajaannya menjadi Panjalu dan Jenggala demi meredam perebutan takhta antara kedua putranya. Namun, wilayah Brang Kidul atau Lodoyong disebut tetap berdiri mandiri dan tidak sepenuhnya masuk ke dua kerajaan tersebut.
Peran Tulungagung di Era Ken Arok dan Majapahit
Peran Tulungagung kembali mencuat pada akhir Kerajaan Kediri dan lahirnya Tumapel yang dipimpin Ken Arok. Dalam Prasasti Lawadan tahun 1205 Masehi disebutkan Raja Kertajaya memberi anugerah sima perdikan kepada wilayah Lawadan karena masyarakat setempat membantu melindungi sang raja dari serangan Ken Arok.
Prasasti tersebut kini menjadi tonggak penting sejarah Tulungagung. Penduduk Lawadan diberi hak istimewa, termasuk pembebasan pajak dan kebebasan membangun pemerintahan mandiri.
Memasuki era Majapahit, Tulungagung menjadi kawasan penting bagi keluarga kerajaan. Beberapa tokoh besar Majapahit bahkan didarmakan di wilayah ini, termasuk Maharani Gayatri Rajapatni.
Situs seperti Candi Boyolangu, Candi Dadi, Candi Sanggrahan, hingga kawasan Gua Pasir menjadi bukti kuat hubungan Tulungagung dengan pusat kekuasaan Majapahit.
Dalam Kakawin Negarakertagama tahun 1365 Masehi, sejumlah wilayah di Tulungagung seperti Waringin Pitu, Kalangbret, Bayalangu, dan Pagerwojo disebut sebagai daerah penting kerajaan.
Bahkan, Waringin Pitu ditetapkan sebagai daerah perdikan kerajaan oleh Raja Kertawijaya pada 1447 Masehi. Prasasti Waringin Pitu menunjukkan betapa besarnya perhatian keluarga Majapahit terhadap kawasan Tulungagung.
Jejak panjang itu membuktikan bahwa Tulungagung bukan sekadar daerah di selatan Jawa Timur, melainkan salah satu wilayah penting dalam perjalanan sejarah kerajaan-kerajaan besar Nusantara.
Editor : Divka Vance Yandriana