JAKARTA - Asal usul Tulungagung ternyata berkaitan erat dengan legenda Kadipaten Betak dan sayembara mengeringkan rawa Ngrowo. Kisah ini menceritakan perjuangan seorang pemuda bernama Jaka Baru yang berhasil mengeringkan rawa luas berkat petunjuk ayahnya, hingga melahirkan nama Tulungagung yang berasal dari ucapan “pitulungan agung”.
Legenda asal usul Tulungagung bermula ketika Kadipaten Betak dipimpin oleh Adipati Betak yang menghadapi persoalan besar. Banyak pendatang baru datang untuk menetap, namun wilayah kadipaten sudah penuh dan tidak lagi memiliki lahan kosong untuk dijadikan permukiman.
Satu-satunya kawasan yang tersisa hanyalah rawa luas bernama Ngrowo. Karena terdesak kebutuhan, Adipati Betak memutuskan untuk mengeringkan rawa tersebut agar bisa dijadikan tempat tinggal masyarakat baru.
Sayembara Mengeringkan Rawa Ngrowo Gegerkan Kadipaten Betak
Berbagai upaya dilakukan Adipati Betak untuk mengeringkan rawa Ngrowo. Seluruh pasukan telah dikerahkan, namun air selalu kembali menggenang. Ternyata di tengah rawa terdapat sumber mata air yang terus memancar tanpa henti.
Kebingungan menghadapi masalah itu membuat sang penasihat mengusulkan sebuah sayembara. Adipati Betak kemudian mengumumkan bahwa siapa saja yang berhasil mengeringkan wilayah Ngrowo akan diangkat menjadi patih kepercayaannya.
“Barang siapa yang mampu mengeringkan wilayah Ngrowo, akan kuangkat menjadi patih kepercayaanku,” titah Adipati Betak.
Baca Juga: Polygon Tambora AE GRX E-Bike 2026 Resmi Hadir, Gravel Premium Rp68 Juta dengan Motor Bosch 55 Nm
Kabar sayembara tersebut langsung menyebar ke berbagai penjuru negeri. Banyak orang datang mencoba peruntungan demi mendapatkan jabatan patih. Namun, seluruh peserta gagal menaklukkan rawa tersebut.
Hari demi hari berlalu tanpa hasil. Air rawa selalu kembali memenuhi kawasan itu meskipun sempat surut. Kondisi tersebut membuat Adipati Betak mulai kehilangan harapan.
Di tengah keramaian sayembara, muncul seorang pemuda bernama Jaka Baru yang berasal dari lereng Gunung Wilis. Kehadirannya sempat diragukan karena banyak peserta sebelumnya yang juga mengaku sakti tetapi gagal menyelesaikan tantangan tersebut.
Jaka Baru Temukan Cara Mengeringkan Rawa Ngrowo
Sebelum mengikuti sayembara, Jaka Baru meminta izin kepada Adipati Betak untuk pulang meminta restu orang tuanya. Ia kemudian menemui ayahnya, Ki Ageng Mangir, yang sedang bertapa di lereng Gunung Wilis.
Ki Ageng Mangir memberikan petunjuk penting kepada putranya. Ia meminta Jaka Baru mengambil segenggam ijuk dan sebatang lidi dari pohon aren. Menurut sang ayah, kedua benda itu merupakan kunci untuk menutup sumber mata air di tengah rawa Ngrowo.
“Sumbatkan ijuk itu pada sumber airnya dan tancapkan lidi di sisinya,” pesan Ki Ageng Mangir.
Jaka Baru kemudian kembali ke Kadipaten Betak sambil membawa ijuk dan lidi tersebut. Setibanya di lokasi sayembara, ia memanjatkan doa sebelum masuk ke rawa.
Pemuda itu akhirnya menemukan sumber mata air yang selama ini membuat rawa terus tergenang. Dengan hati-hati, Jaka Baru menyumbat sumber air menggunakan ijuk aren lalu menancapkan lidi di sisinya.
Keajaiban pun terjadi. Aliran air berhenti seketika dan genangan rawa mulai surut perlahan hingga akhirnya kawasan Ngrowo benar-benar mengering.
Keberhasilan Jaka Baru disambut sukacita oleh Adipati Betak dan masyarakat yang menyaksikan langsung peristiwa tersebut.
Dari Ucapan “Pitulungan Agung” Lahir Nama Tulungagung
Melihat keberhasilan Jaka Baru, Adipati Betak berkali-kali mengucapkan kalimat “pitulungan agung” yang berarti pertolongan besar dari Sang Pencipta melalui bantuan Jaka Baru.
“Ini pitulungan agung. Ini benar-benar pitulungan agung,” ucap Adipati Betak penuh haru.
Sebagai bentuk penghargaan, Jaka Baru diangkat menjadi patih Kadipaten Betak. Sementara wilayah rawa yang telah mengering mulai dihuni masyarakat dan berkembang menjadi kawasan permukiman baru.
Tahun demi tahun berlalu, daerah tersebut semakin ramai didatangi penduduk. Pusat pemerintahan Kadipaten Betak akhirnya dipindahkan ke wilayah bekas rawa itu.
Dari ucapan “pitulungan agung” yang terus diingat masyarakat, nama wilayah tersebut kemudian berubah menjadi Tulungagung. Nama itu dipercaya menjadi simbol pertolongan besar dan harapan baru bagi masyarakat yang kala itu kesulitan mendapatkan tempat tinggal.
Legenda asal usul Tulungagung hingga kini masih dikenal luas oleh masyarakat Jawa Timur dan menjadi bagian penting dari sejarah budaya lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Editor : Divka Vance Yandriana