Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Misteri Roro Kembang Sore dalam Babad Tulungagung, Kisah Cinta Tragis yang Dikaitkan dengan Patih Gajah Mada

Divka Vance Yandriana • Minggu, 24 Mei 2026 | 17:52 WIB
Misteri Roro Kembang Sore dalam Babad Tulungagung dikaitkan dengan awal perjalanan Perwira Mada menjadi Patih Gajah Mada.
Misteri Roro Kembang Sore dalam Babad Tulungagung dikaitkan dengan awal perjalanan Perwira Mada menjadi Patih Gajah Mada.

JAKARTA – Kisah Roro Kembang Sore dalam Babad Tulungagung kembali menarik perhatian pecinta sejarah dan legenda Nusantara. Cerita ini tidak hanya mengisahkan tragedi cinta dan pengkhianatan, tetapi juga dikaitkan dengan perjalanan awal sosok Perwira Mada sebelum dikenal sebagai Patih Gajah Mada di era Kerajaan Majapahit. Legenda tersebut menjadi bagian penting dari warisan budaya Tulungagung yang terus diwariskan secara turun-temurun.

Dalam cerita yang berkembang di masyarakat, Roro Kembang Sore digambarkan sebagai perempuan cantik yang hidup di tengah konflik politik dan perebutan kekuasaan. Sosoknya disebut memiliki hubungan erat dengan tragedi yang melibatkan Adipati Kalang, Kyai Besari, hingga Pangeran Lembu Peteng.

Legenda ini kembali ramai dibahas setelah berbagai kanal sejarah dan budaya lokal mengangkat ulang kisah Babad Tulungagung sebagai bagian dari kekayaan intelektual sejarah Jawa Timur.

Baca Juga: Moto 3 2026 Jeres: Feda Ega Pratama Tampil Gila dari P17 ke P6, Honda Team Asia Panen Pujian Hiroshi Aoyama

Kisah Cinta Tragis Roro Kembang Sore dan Pangeran Lembu Peteng

Roro Kembang Sore diceritakan sebagai putri cantik yang hidup di Kadipaten Betak. Dalam kisah tersebut, ia jatuh cinta kepada Pangeran Lembu Peteng, seorang bangsawan dari Majapahit yang tengah menjalankan tugas mencari keberadaan Kyai Besari dan Adipati Kalang.

Pertemuan keduanya terjadi di taman kadipaten. Hubungan mereka berkembang cepat hingga membuat keduanya tenggelam dalam asmara. Namun kisah cinta itu tidak berjalan mulus.

Hubungan mereka diketahui oleh Pangeran Berdalem, ayah Roro Kembang Sore. Kemarahan besar pun terjadi karena Pangeran Lembu Peteng dianggap mencoreng kehormatan keluarga. Konflik kemudian berubah menjadi peperangan sengit antara Pangeran Berdalem dan Pangeran Lembu Peteng.

Baca Juga: Polygon Calos Cruz E-Bike 2026 Viral, Sepeda Komuter Rp9 Jutaan dengan Pedal Assist dan Baterai 80 Km

Dalam pelarian, pasangan itu terus dikejar. Hingga akhirnya tragedi terjadi di tepi sungai ketika Kyai Besari dan Pangeran Berdalem berhasil menemukan mereka. Pangeran Lembu Peteng dibunuh dan jasadnya dibuang ke sungai.

Peristiwa tersebut menjadi titik kehancuran hidup Roro Kembang Sore. Ia memilih melarikan diri karena tak sanggup menerima kematian pria yang dicintainya. Kisah ini kemudian menjadi salah satu bagian paling tragis dalam legenda Babad Tulungagung.

Gunung Budeg dan Misteri Kutukan Joko Bodo

Dalam pelariannya, Roro Kembang Sore tiba di Desa Dadapan dan ditolong oleh seorang perempuan tua bernama Mbok Rondo Dadapan. Di tempat itu, ia bertemu Joko Bodo, pemuda desa yang jatuh hati kepadanya.

Baca Juga: Review Polygon Gili Meno E-Bike 2025, Sepeda Listrik Urban Hybrid yang Nyaman untuk Touring Jarak Jauh

Namun cinta Joko Bodo bertepuk sebelah tangan. Berkali-kali menyatakan perasaan, Roro Kembang Sore tetap menolak lamaran tersebut. Karena terus dipaksa, ia meminta Joko Bodo menjalani tapa bisu di sebuah gunung dekat desa.

Ketika Mbok Rondo mencari anaknya, ia mendapati Joko Bodo hanya diam termenung menghadap barat. Dalam kemarahan dan kesedihan, Mbok Rondo mengucapkan kalimat bahwa anaknya “diam seperti batu”.

Menurut legenda, seketika petir menyambar dan Joko Bodo berubah menjadi batu. Gunung tempat kejadian itu kemudian dipercaya masyarakat sebagai asal-usul nama Gunung Budeg di Tulungagung.

Cerita tersebut hingga kini masih dikenal luas di masyarakat sebagai bagian dari folklore lokal yang sarat pesan moral tentang cinta, kesetiaan, dan kutukan akibat ucapan.

Keterkaitan dengan Perwira Mada sebelum Menjadi Patih Gajah Mada

Bagian paling menarik dari kisah Babad Tulungagung adalah keterkaitannya dengan sosok Perwira Mada yang kemudian dipercaya menjadi Patih Gajah Mada.

Dalam cerita, Roro Kembang Sore akhirnya menyamar sebagai Resi Winandi, seorang pendeta perempuan di Gunung Cilik. Dari tempat itu ia menyusun strategi untuk membalas dendam kepada Adipati Kalang yang dianggap menjadi penyebab penderitaannya.

Saat Adipati Kalang datang ke Gunung Cilik, identitas Resi Winandi terbongkar sebagai Roro Kembang Sore. Ketakutan membuat Adipati Kalang mencoba melarikan diri. Namun ia kemudian diburu pasukan Perwira Mada.

Legenda menyebut Adipati Kalang akhirnya tewas secara mengenaskan setelah diserang pasukan tersebut. Keberhasilan Perwira Mada menumpas kekacauan diyakini menjadi salah satu faktor yang membuatnya memperoleh kedudukan tinggi hingga kelak dikenal sebagai Patih Gajah Mada.

Meski sebagian besar cerita berkembang dalam bentuk babad dan legenda tutur, kisah ini tetap dianggap memiliki nilai budaya dan historis penting bagi masyarakat Tulungagung.

Selain menyimpan unsur romantisme dan tragedi, Babad Tulungagung juga memperlihatkan bagaimana cerita rakyat Jawa kerap memadukan sejarah, spiritualitas, politik, dan mitologi dalam satu narasi besar yang terus hidup hingga sekarang.

Editor : Divka Vance Yandriana
#asal usul Tulungagung #Misteri Roro Kembang Sore #roro kembang sore