Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Asal Usul Tulungagung Terungkap, Berawal dari Rawa Bonorowo hingga Disebut Pitulungan Agung

Divka Vance Yandriana • Minggu, 24 Mei 2026 | 18:00 WIB
Asal usul Tulungagung berawal dari rawa Bonorowo dan banjir besar hingga muncul nama pitulungan agung atau pertolongan besar.
Asal usul Tulungagung berawal dari rawa Bonorowo dan banjir besar hingga muncul nama pitulungan agung atau pertolongan besar.

JAKARTA - Asal usul Tulungagung ternyata berkaitan erat dengan rawa raksasa bernama Bonorowo yang selama berabad-abad menjadi sumber banjir dan penderitaan masyarakat. Dari wilayah yang dulu dikenal sebagai Ngowo itu, lahir nama Tulungagung yang bermakna “pitulungan agung” atau pertolongan besar setelah keberhasilan mengendalikan banjir dan rawa.

Wilayah yang kini menjadi Kabupaten Tulungagung dulunya berada di kawasan cekungan luas di selatan Gunung Wilis. Aliran Bengawan Brantas dan anak sungainya membuat daerah tersebut kerap tergenang air. Kondisi geografis itu menyebabkan sebagian besar wilayah berubah menjadi rawa luas yang dikenal masyarakat dengan nama Bonorowo.

Asal usul Tulungagung menjadi perhatian karena kisahnya bukan hanya soal pergantian nama daerah, tetapi juga tentang perjuangan masyarakat menaklukkan alam demi bertahan hidup dan membangun peradaban baru.

Baca Juga: Veda Ega Pratama Moto3 2026: Pujian Legenda MotoGP Hiroshi Aoyama, Rookie Indonesia Ini Disebut Anomali Dunia Balap

Wilayah Ngowo Dikenal Sebagai Daerah Rawa yang Sulit Dihuni

Sebelum bernama Tulungagung, wilayah tersebut dikenal dengan nama Ngowo. Nama itu berasal dari kata “rowo” dalam bahasa Jawa yang berarti rawa atau daerah berair.

Kondisi alam saat itu sangat berat bagi masyarakat. Saat musim hujan tiba dan Bengawan Brantas meluap, permukiman serta lahan pertanian kerap tenggelam. Rumah panggung menjadi pilihan utama warga untuk bertahan dari banjir yang datang tanpa peringatan.

“Bonorowo adalah sumber kesulitan terbesar masyarakat Ngowo,” demikian narasi yang disampaikan dalam video sejarah tersebut.

Baca Juga: Sepeda Urban Polygon Murah hingga Rp9,5 Juta Jadi Incaran, Ini Daftar Lengkap E-Bike, Gravel, hingga Tandem Terbaru

Selain menyebabkan gagal panen, rawa luas itu juga menjadi sarang penyakit seperti malaria dan demam berdarah. Transportasi antarwilayah pun terganggu karena jalan berubah menjadi kubangan lumpur dan hanya bisa dilalui menggunakan perahu sederhana.

Data sejarah dalam narasi video menyebutkan masyarakat hidup dalam keterbatasan selama berabad-abad. Meski demikian, mereka tetap berusaha bertahan dengan membangun tanggul kecil dan saluran air sederhana secara gotong royong.

Kondisi itu membuat Ngowo dikenal sebagai daerah terpencil dan sulit berkembang. Namun, di balik keterbatasan tersebut, muncul harapan besar untuk mengubah rawa menjadi sumber kehidupan baru.

Baca Juga: Rekomendasi 5 Sepeda Gunung Polygon Murah Terbaik 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan Speknya Sudah Mantap

Upaya Pengendalian Rawa Bonorowo Jadi Titik Balik Sejarah

Perubahan besar mulai terjadi ketika pengaruh Kesultanan Mataram Islam dan pemerintahan kolonial Belanda masuk ke wilayah tersebut. Pengelolaan air dilakukan secara lebih sistematis demi mengurangi dampak banjir yang selama ini menghantui masyarakat.

Saluran drainase besar mulai dibangun untuk mengalirkan air dari rawa menuju sungai utama hingga ke laut. Tanggul penahan banjir juga diperkuat di sejumlah titik strategis.

Upaya tersebut membutuhkan tenaga besar dan berlangsung dalam waktu lama. Namun hasilnya perlahan mulai terlihat. Area rawa berkurang dan lahan pertanian baru mulai muncul.

“Keberhasilan mengatasi Bonorowo dianggap sebagai pitulungan agung atau pertolongan besar,” ungkap narasi video tersebut.

Keberhasilan itu membawa perubahan ekonomi bagi masyarakat. Sawah mulai produktif, banjir lebih terkendali, dan jalur transportasi menjadi lebih mudah diakses.

Dalam sejarah lokal, momentum itu dianggap sebagai titik lahirnya identitas baru wilayah yang sebelumnya identik dengan rawa dan bencana. Dari situlah muncul nama Tulungagung.

Makna Nama Tulungagung dan Penetapan Hari Jadi Kabupaten

Nama Tulungagung memiliki filosofi mendalam. Secara umum, nama itu diartikan sebagai “pitulungan agung” atau pertolongan besar. Makna tersebut merujuk pada keberhasilan masyarakat keluar dari penderitaan akibat rawa Bonorowo.

Selain itu, terdapat interpretasi lain yang menyebut “tulung” berarti sumber, sedangkan “agung” berarti besar. Dengan demikian, Tulungagung juga dapat dimaknai sebagai sumber air besar yang membawa kehidupan.

Kedua makna tersebut saling berkaitan karena air yang dulu menjadi bencana akhirnya berhasil dikelola menjadi sumber kemakmuran masyarakat.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Tulungagung menetapkan hari jadi daerah pada 18 November 1205. Penetapan tersebut didasarkan pada Prasasti Lawadan atau Prasasti Boyolangu yang berasal dari tahun 1127 Saka atau 1205 Masehi.

Prasasti itu dikeluarkan Raja Kadiri terakhir, Kertajaya, sebagai bentuk penghargaan kepada rakyat Lawadan atas jasa mereka membantu kerajaan menghadapi serangan musuh dari timur.

Penetapan hari jadi tersebut menjadi bukti bahwa wilayah Tulungagung telah memiliki jejak sejarah panjang sejak era kerajaan di Jawa Timur.

Kini, Tulungagung dikenal sebagai salah satu daerah penting di Jawa Timur. Namun di balik perkembangan tersebut, tersimpan kisah panjang tentang perjuangan masyarakat mengubah rawa Bonorowo menjadi wilayah yang lebih makmur dan layak dihuni.

Editor : Divka Vance Yandriana
#asal usul Tulungagung #sejarah tulungagung #Pitulungan Agung