JAKARTA - Asal usul Tulungagung kembali menjadi perhatian publik setelah kisah tentang wilayah rawa bernama Ngrowo yang berubah menjadi daerah subur ramai dibahas di media sosial dan kanal sejarah YouTube. Nama Tulungagung dipercaya berasal dari frasa “tulung agung” atau pertolongan besar, yang lahir dari perjuangan masyarakat menghadapi banjir dan rawa luas di masa lampau.
Wilayah yang kini dikenal sebagai Kabupaten Tulungagung disebut dahulu berupa cekungan besar yang dipenuhi genangan air. Sungai Brantas yang meluap saat musim hujan membuat sebagian besar kawasan berubah menjadi rawa raksasa bernama Bonorowo atau Ngrowo. Kondisi itu membuat warga kesulitan bercocok tanam, membangun permukiman, hingga melakukan aktivitas perdagangan.
Legenda dan cerita rakyat yang berkembang turun-temurun menyebut perubahan besar terjadi setelah masyarakat bersama pemimpin lokal berhasil mengendalikan genangan air. Dari situlah lahir nama Tulungagung yang hingga kini menjadi simbol harapan, rasa syukur, dan kebangkitan masyarakat Jawa Timur.
Ngrowo Pernah Jadi Rawa Besar yang Menenggelamkan Permukiman
Sebelum menjadi daerah agraris dan pusat industri marmer, Tulungagung diyakini merupakan wilayah rawa luas yang dikelilingi pegunungan dan dialiri Sungai Brantas. Dalam berbagai cerita rakyat, daerah itu disebut Ngrowo, berasal dari kata “rowo” yang berarti rawa.
Kondisi geografis tersebut membuat banjir datang hampir setiap musim hujan. Air sulit mengalir keluar karena wilayahnya berupa cekungan alami. Warga hidup dalam keterbatasan dengan membangun rumah di dataran tinggi dan bergantung pada hasil alam seadanya.
Cerita rakyat menyebut masyarakat kala itu sering menghadapi gagal panen, penyakit akibat genangan air, hingga sulitnya akses antarwilayah. Bahkan sebagian legenda menggambarkan kawasan tersebut seperti “lautan darat” karena luasnya genangan air yang menutupi permukiman dan sawah.
Sejumlah versi sejarah lokal juga mengaitkan wilayah Ngrowo dengan era Kerajaan Majapahit hingga Mataram Islam. Kawasan ini disebut memiliki potensi pertanian besar, tetapi terhambat masalah banjir dan rawa yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Legenda Menak Sopal dan Makna Nama Tulungagung
Salah satu cerita paling terkenal dalam asal usul Tulungagung adalah legenda Kiai Menak Sopal. Tokoh ini dipercaya sebagai pemimpin yang memprakarsai pembangunan bendungan untuk mengendalikan air rawa Bonorowo.
Dalam kisah yang berkembang di masyarakat, Menak Sopal bersama warga membangun bendungan yang kini dikenal sebagai Dam Bagong. Pembangunan tersebut disebut penuh rintangan karena bendungan berkali-kali runtuh sebelum akhirnya berhasil berdiri kokoh.
Legenda itu kemudian berkembang dengan unsur mistis, termasuk kisah pengorbanan kepala gajah putih sebagai syarat agar bendungan tidak roboh. Setelah bendungan berhasil dibangun, air rawa perlahan surut dan tanah subur mulai muncul ke permukaan.
Masyarakat kemudian menyebut peristiwa itu sebagai “tulung agung” atau pertolongan besar. Nama tersebut akhirnya melekat menjadi identitas wilayah yang dianggap berhasil bangkit dari bencana alam dan kesulitan hidup.
Selain versi Menak Sopal, terdapat pula legenda Baru Klinting yang menceritakan terbentuknya rawa akibat kutukan naga sakti. Meski berbeda cerita, kedua legenda itu memiliki pesan yang sama, yakni pentingnya kerendahan hati, pengorbanan, dan hubungan manusia dengan alam.
Dari Daerah Rawa Menjadi Kota Marmer yang Mendunia
Setelah masalah genangan air berhasil dikendalikan, Tulungagung berkembang menjadi wilayah pertanian yang subur. Tanah bekas rawa mulai dimanfaatkan sebagai sawah dan pusat permukiman baru.
Perkembangan ekonomi Tulungagung semakin pesat ketika daerah ini dikenal sebagai penghasil marmer berkualitas tinggi. Bahkan hingga kini, Tulungagung mendapat julukan “Kota Marmer” karena hasil batu alamnya telah dipasarkan ke berbagai daerah hingga luar negeri.
Industri marmer menjadi salah satu penggerak ekonomi utama masyarakat. Produk seperti lantai marmer, ornamen bangunan, hingga kerajinan seni diproduksi dari kawasan tambang lokal yang tersebar di beberapa kecamatan.
Di sisi lain, masyarakat Tulungagung tetap menjaga tradisi dan cerita leluhur. Berbagai ritual budaya seperti bersih desa, larung sembonyo, hingga kesenian reog kendang masih dipertahankan sebagai bagian dari identitas daerah.
Kabupaten Tulungagung juga menetapkan 18 November 1205 sebagai hari jadi daerah, merujuk pada Prasasti Lawadan dari era Kerajaan Kadiri. Penetapan itu menjadi penanda bahwa wilayah tersebut memiliki sejarah panjang sejak masa kerajaan kuno di Jawa Timur.
Kini, kisah asal usul Tulungagung tidak hanya dipandang sebagai legenda semata, tetapi juga simbol perjuangan masyarakat dalam mengubah wilayah rawa menjadi daerah maju yang dikenal luas hingga mancanegara.
Editor : Divka Vance Yandriana