Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sejarah Tulungagung dan Asal Usul Namanya Terungkap, Dari Kabupaten Ngrowo hingga Legenda Baru Klinting yang Masih Dipercaya

Divka Vance Yandriana • Minggu, 24 Mei 2026 | 18:20 WIB
Sejarah Tulungagung dan asal usul namanya terungkap, dari Kabupaten Ngrowo hingga legenda Baru Klinting dan Majapahit.
Sejarah Tulungagung dan asal usul namanya terungkap, dari Kabupaten Ngrowo hingga legenda Baru Klinting dan Majapahit.

JAKARTA - Sejarah Tulungagung dan asal usul namanya kembali menarik perhatian setelah berbagai kisah tentang Kabupaten Ngrowo, legenda Baru Klinting, hingga jejak Kerajaan Majapahit ramai dibahas di media sosial dan kanal YouTube sejarah. Kabupaten di Jawa Timur ini diketahui telah berusia lebih dari 800 tahun dengan hari jadi resmi pada 18 November 1205 Masehi.

Kabupaten Tulungagung dikenal sebagai salah satu penghasil marmer terbesar di Indonesia sekaligus memiliki sejarah panjang sejak era Kerajaan Kadiri, Singasari, Majapahit, hingga Mataram Islam. Nama Tulungagung sendiri disebut memiliki dua versi asal usul yang masih dipercaya masyarakat hingga sekarang.

Selain kaya sejarah, Tulungagung juga menyimpan banyak peninggalan budaya seperti Candi Gayatri di Boyolangu serta kisah legenda Joko Baru atau Baru Klinting yang dikaitkan dengan terbentuknya wilayah tersebut. Cerita itu menjadi bagian penting identitas masyarakat Tulungagung dari masa ke masa.

Baca Juga: Feda Ega Pratama Moto3 2026: Hiroshi Aoyama Beberkan 4 Keunggulan Aneh yang Bikin Rookie Indonesia Ini Jadi Anomali Dunia Balap

Kabupaten Ngrowo Jadi Awal Sejarah Tulungagung

Sebelum dikenal sebagai Tulungagung, wilayah ini bernama Kabupaten Ngrowo atau Ngerowo. Nama tersebut muncul karena kondisi geografis daerah yang dipenuhi rawa dan sumber air besar.

Dalam sejarah lokal, Tulungagung disebut pernah menjadi bagian penting dari sejumlah kerajaan besar Nusantara seperti Singasari, Majapahit, Demak, Pajang, hingga Mataram Islam. Wilayah ini juga dikenal sebagai daerah strategis karena memiliki sumber air melimpah dan tanah subur.

Hari jadi Tulungagung ditetapkan pada 18 November 1205 Masehi. Tanggal tersebut merujuk pada Prasasti Lawadan yang mencatat penghargaan Raja Kertajaya dari Kerajaan Daha atau Kadiri kepada masyarakat Tani Lawadan di selatan Tulungagung.

Baca Juga: Sepeda Polygon Kalosi E-Bike Terbaru Jadi Incaran, Usung Motor Bafang dan Baterai Tahan Hingga 80 Km, Cocok untuk Pemula

Penghargaan diberikan karena kesetiaan masyarakat kepada Raja Kertajaya saat terjadi serangan dari timur Kerajaan Kadiri. Dalam prasasti itu terdapat candrasengkala “Sukra Sapraksa Mangga Siramasa” yang kemudian diterjemahkan sebagai tanggal 18 November 1205.

Sejak tahun 2003, tanggal keluarnya prasasti tersebut resmi dijadikan hari jadi Kabupaten Tulungagung. Penetapan itu sekaligus menegaskan bahwa wilayah ini memiliki sejarah panjang sejak era kerajaan kuno di Jawa Timur.

Legenda Baru Klinting dan Asal Nama Tulungagung

Asal usul nama Tulungagung memiliki sedikitnya dua versi yang berkembang di masyarakat. Versi pertama menyebut nama tersebut berasal dari istilah “pitulungan agung” atau pertolongan besar.

Baca Juga: Ahmad Sinan Akhirnya Beralih ke E-Bike, Polygon Kalosi Miles Jadi Pilihan Buat Gowes Jarak Jauh Tanpa Cepat Capek

Kisah itu berkaitan dengan seorang pemuda sakti dari Gunung Wilis bernama Joko Baru yang dipercaya berhasil mengeringkan sumber air besar di Ngrowo. Ia disebut menyumbat sumber air menggunakan lidi pohon aren sehingga wilayah yang sebelumnya tergenang menjadi lebih kering.

Dalam legenda rakyat, Joko Baru juga dikenal sebagai Baru Klinting, sosok manusia yang dikutuk menjadi ular oleh ayahnya. Untuk kembali menjadi manusia seutuhnya, ia harus melingkarkan tubuh di Gunung Wilis.

Namun tubuhnya disebut kurang sejengkal sehingga ia menjulurkan lidahnya. Pada saat bersamaan, lidah tersebut dipotong dan berubah menjadi tombak sakti yang hingga kini masih dipercaya disimpan masyarakat sekitar.

Versi kedua menyebut nama Tulungagung berasal dari dua kata, yakni “tulung” yang berarti sumber dan “agung” yang berarti besar. Nama itu menggambarkan wilayah Tulungagung sebagai daerah dengan sumber air melimpah sebelum dibangunnya bendungan di wilayah selatan pada masa pendudukan Jepang.

Jejak Majapahit dan Pemerintahan Kolonial Masih Tersimpan

Hubungan Tulungagung dengan Kerajaan Majapahit juga terlihat dari keberadaan Candi Gayatri di Desa Boyolangu, Kecamatan Boyolangu. Candi tersebut merupakan tempat pendharmaan Gayatri atau Sri Rajapatni, istri keempat Raden Wijaya, raja pertama Majapahit.

Gayatri juga dikenal sebagai ibu Tribhuwana Tunggadewi dan nenek Raja Hayam Wuruk yang membawa Majapahit mencapai masa kejayaan. Nama Boyolangu sendiri tercatat dalam Kitab Negarakertagama sebagai wilayah suci untuk penyucian diri.

Dalam perjalanan pemerintahan lokal, wilayah Ngrowo awalnya berpusat di Kalangbret dengan penguasa pertama Kiai Ngabehi Mangundirono. Setelah itu, pemerintahan dilanjutkan Tondowijoyo dan Raden Mas Mangunegoro.

Catatan sejarah yang lebih jelas muncul saat periode Kabupaten Ngrowo di Tulungagung dengan penguasa pertama Raden Mas Tumenggung Pringgoniningrat yang memimpin pada 1824 hingga 1830.

Secara administratif, nama Kabupaten Ngrowo resmi diubah menjadi Kabupaten Tulungagung pada 1 April 1901 saat pemerintahan Bupati ke-11, Raden Tumenggung Partowijoyo. Pergantian nama itu menjadi tonggak penting lahirnya identitas Tulungagung yang dikenal hingga sekarang.

Editor : Divka Vance Yandriana
#baru klinthing #sejarah tulungagung #Kabupaten Ngrowo