JAKARTA - Sejarah Tulungagung ternyata menyimpan kisah panjang yang berkaitan erat dengan kerajaan besar di Jawa, mulai dari Medang, Kahuripan, Panjalu, Jenggala hingga Majapahit. Wilayah yang kini dikenal sebagai Kabupaten Tulungagung disebut beberapa kali menjadi tempat perlindungan raja-raja besar dan pusat penting peradaban Jawa Timur sejak abad ke-9 Masehi.
Nama Tulungagung sendiri berasal dari bahasa Jawa Kawi, yakni “tulung” yang berarti pertolongan atau sumber air, dan “agung” yang berarti besar. Makna tersebut dianggap selaras dengan sejarah daerah itu yang berkali-kali memberikan “pertolongan agung” kepada para penguasa Jawa kuno.
Sejumlah prasasti kuno menjadi bukti kuat eksistensi wilayah ini. Salah satunya Prasasti Penampihan I bertahun 898 Masehi yang menunjukkan bahwa kawasan Tulungagung telah memiliki struktur pemerintahan sejak era Raja Sri Darmodaya Rakai Watukura Dyah Balitung dari Kerajaan Medang.
Tulungagung Pernah Menjadi Wilayah Strategis Kerajaan Jawa
Dalam catatan sejarah, wilayah Tulungagung dahulu dikenal dengan nama Nerawa atau Ngerawa karena sebagian besar daerahnya berupa rawa luas. Selain itu, kawasan ini juga disebut Bonowo yang berarti hutan rawa.
Pada masa Raja Dyah Balitung yang memerintah sekitar tahun 898–910 Masehi, wilayah Penampihan di Tulungagung menjadi lokasi penting saat pasukan Medang melakukan ekspansi ke Jawa Timur. Setelah berhasil menaklukkan Kerajaan Kanjuruhan, Balitung memberikan anugerah tanah perdikan kepada wilayah sekitar Penampihan sebagai bentuk penghormatan atas bantuan masyarakat setempat.
Bukti sejarah itu tertulis dalam Prasasti Kubu-Kubu bertanggal 17 Oktober 905 Masehi. Dalam prasasti tersebut muncul nama Panjora yang diduga merujuk pada wilayah Penjor di lereng Gunung Wilis, Tulungagung.
Tak hanya pada masa Medang, Tulungagung juga memiliki posisi penting ketika Raja Erlangga membangun kembali kekuasaan Medang di Jawa Timur setelah serangan Sriwijaya. Dalam berbagai prasasti, wilayah Lodoyong yang diyakini berada di Tulungagung disebut sebagai salah satu daerah kuat yang sempat melawan Erlangga.
Tokoh yang paling terkenal adalah Ratu Diah Tulodong, penguasa Lodoyong yang digambarkan sebagai pemimpin perempuan tangguh. Dalam Prasasti Terep tahun 1032 Masehi, disebutkan Erlangga bahkan sempat terusir dari istananya akibat serangan pasukan Lodoyong.
Tiga tahun kemudian, Erlangga berhasil menaklukkan wilayah tersebut. Namun Ratu Diah Tulodong tidak dibunuh dan tetap diberi kekuasaan sebagai bawahan Medang.
Bendungan Kuno dan Asal Usul Rawa Tulungagung
Salah satu bagian penting dalam sejarah Tulungagung adalah pembangunan sistem pengendalian banjir pada abad ke-11 Masehi. Saat itu, Sungai Brantas sering meluap dan menenggelamkan wilayah Brang Kidul atau selatan Brantas yang kini menjadi bagian Tulungagung.
Akibat banjir besar, sawah rusak, perdagangan terganggu, dan produksi pangan menurun. Kondisi tersebut bahkan tercatat memengaruhi pelabuhan Hujung Galuh karena kekurangan pasokan bahan pangan.
Untuk mengatasi persoalan itu, Raja Erlangga memerintahkan pembangunan bendungan besar di Waringin Sapta sekitar tahun 1037 Masehi. Proyek tersebut melibatkan pasukan Kahuripan, prajurit Lodoyong, dan masyarakat setempat.
Selain bendungan, dibangun pula saluran air bernama Sungai Ngerawa yang digunakan untuk mengalirkan air rawa menuju Sungai Brantas. Sistem pintu air dari kayu juga dibuat untuk mengendalikan arus banjir.
Proyek tersebut dianggap sebagai rekayasa hidrologi besar pada zamannya dan menjadi salah satu faktor berkembangnya pertanian di wilayah Tulungagung.
Dalam perkembangannya, daerah ini terus muncul dalam berbagai prasasti penting seperti Prasasti Kamulan 1194 Masehi, Prasasti Lawadan 18 November 1205 Masehi, hingga sejumlah prasasti era Panjalu Kediri.
Prasasti Lawadan sendiri kini dijadikan dasar penetapan Hari Jadi Kabupaten Tulungagung.
Tulungagung Jadi Tanah Penting pada Era Majapahit
Memasuki era Majapahit, posisi Tulungagung semakin penting karena dianggap sebagai tanah leluhur beberapa tokoh kerajaan. Sejumlah situs bersejarah di kawasan ini juga berkaitan dengan keluarga kerajaan Majapahit.
Salah satu yang paling terkenal adalah Candi Boyolangu yang disebut dalam Kakawin Negarakertagama sebagai tempat pendarmaan Maharani Gayatri Rajapatni, nenek Raja Hayam Wuruk.
Selain itu terdapat Candi Dadi, Candi Sanggrahan, hingga kawasan Mandala Pacira yang diyakini menjadi pusat pendidikan agama Buddha pada masa Majapahit.
Dalam Kakawin Negarakertagama tahun 1365 Masehi, sejumlah wilayah di Tulungagung seperti Kalangbret, Pagerwojo, Bayalangu, dan Waringinpitu juga disebut sebagai daerah penting yang mendapat perhatian kerajaan.
Pelabuhan penyeberangan di Waringinpitu bahkan tercatat menjadi jalur utama rombongan kerajaan Majapahit ketika berziarah ke tempat pendarmaan Gayatri Rajapatni di Boyolangu.
Jejak sejarah panjang itu menunjukkan Tulungagung bukan sekadar daerah biasa di Jawa Timur. Wilayah ini pernah menjadi pusat pertahanan, tempat perlindungan raja, kawasan pertanian strategis, hingga lokasi penting bagi kerajaan-kerajaan besar Nusantara selama ratusan tahun.
Editor : Divka Vance Yandriana