JAKARTA - Sejarah Tulungagung ternyata menyimpan jejak panjang peradaban sejak zaman prasejarah hingga era modern. Wilayah di selatan Jawa Timur ini disebut telah dihuni manusia sejak masa Plistosen, menjadi bagian kejayaan Majapahit, hingga berkembang sebagai pusat budaya dan industri marmer di era modern.
Kabupaten Tulungagung tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil marmer. Di balik perkembangan kotanya saat ini, terdapat rangkaian sejarah panjang yang membentuk identitas masyarakatnya. Mulai dari penemuan manusia purba di Wajak, peninggalan Hindu-Buddha, pengaruh Islam, masa kolonial Belanda, hingga perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Nama Tulungagung sendiri disebut mulai dikenal sejak era Kerajaan Kadiri pada abad ke-11 hingga ke-13. Salah satu versi menyebut nama itu berasal dari istilah “pitulungan agung” yang berarti pertolongan besar, sementara versi lain mengaitkannya dengan legenda tulang raksasa yang ditemukan di wilayah tersebut.
Baca Juga: Moto3 2026 Mugello: Tangis Haru di Garasi Honda, Feda Ega Pratama Bela Tim Usai Rumor Katalunya
Jejak Prasejarah dan Kejayaan Majapahit di Tulungagung
Jejak awal sejarah Tulungagung bermula dari kehidupan manusia prasejarah di kawasan Goa Song Gentong. Dalam narasi sejarah yang berkembang, manusia pada masa Plistosen disebut hidup berburu dan meramu di sekitar kawasan air terjun dan hutan lebat.
Memasuki era Neolitikum, masyarakat mulai mengenal sistem bercocok tanam dan membangun permukiman sederhana di lereng Gunung Wilis. Kepercayaan animisme berkembang dengan keyakinan bahwa pohon besar dan batu memiliki kekuatan spiritual.
Perkembangan besar terjadi saat pengaruh Hindu-Buddha masuk ke Nusantara. Tulungagung menjadi bagian penting dalam jalur budaya Jawa Timur. Salah satu peninggalan paling terkenal adalah Candi Gayatri di Boyolangu yang dibangun pada masa Majapahit untuk menghormati Gayatri Rajapatni, istri Raden Wijaya.
Selain itu, wilayah Wajak menjadi perhatian dunia setelah penemuan fosil manusia purba pada 1889 oleh Eugene Dubois. Fosil tersebut dikenal sebagai Manusia Wajak dan disebut menjadi salah satu mata rantai penting evolusi manusia di Nusantara.
Pada masa Majapahit abad ke-13 hingga ke-15, Tulungagung berkembang sebagai daerah agraris penopang kebutuhan pangan kerajaan. Jalur perdagangan dari Trowulan menuju pesisir selatan juga melintasi wilayah ini.
Relief candi dan karya seni yang ditemukan di sejumlah situs menunjukkan tingginya kemampuan seniman dan pemahat asal Tulungagung pada masa itu.
Baca Juga: Polygon SISQ H Grey SUV E-Bike 2026 Resmi Hadir, Tembus 45 Km/Jam dengan Fitur Automatic Shifting
Masa Kolonial hingga Perjuangan Kemerdekaan
Memasuki abad ke-19, Tulungagung resmi menjadi bagian administrasi Hindia Belanda. Pemerintah kolonial membangun jalan dan jembatan untuk mendukung pengangkutan hasil bumi seperti kopi dan tebu.
Namun, sistem tanam paksa atau cultuur stelsel membuat masyarakat mengalami tekanan ekonomi berat. Rakyat dipaksa bekerja dan menyerahkan hasil pertanian untuk kepentingan kolonial.
Meski tidak terjadi perang besar seperti Perang Diponegoro, masyarakat Tulungagung disebut melakukan berbagai bentuk perlawanan kultural. Tokoh agama dan pemimpin tradisional menjadi benteng pertahanan masyarakat dalam menjaga identitas lokal.
Pada masa pendudukan Jepang 1942-1945, penderitaan masyarakat semakin berat akibat kerja paksa Romusha. Banyak warga dikirim keluar daerah untuk kepentingan perang Jepang.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Tulungagung langsung menyatakan diri sebagai bagian Republik Indonesia. Para pemuda membentuk laskar perjuangan dan bergerilya menghadapi agresi militer Belanda pada periode 1945-1949.
“Rakyat dengan rela menyediakan makanan dan informasi bagi para pejuang,” demikian disebut dalam narasi sejarah perjalanan Tulungagung.
Tulungagung Modern, Budaya Tetap Bertahan di Tengah Globalisasi
Memasuki era Orde Baru, Tulungagung berkembang melalui sektor pertanian dan industri kerajinan marmer. Hingga kini, marmer Tulungagung masih menjadi salah satu identitas ekonomi daerah.
Selain marmer, kesenian tradisional seperti wayang kulit, ludruk, campursari, hingga jaranan masih bertahan di tengah modernisasi. Tradisi sadranan atau ziarah kubur menjelang Ramadan juga tetap dijaga masyarakat.
Bahasa Jawa dialek Tulungagung masih digunakan dalam kehidupan sehari-hari dengan tradisi unggah-ungguh yang kuat. Di sisi lain, perkembangan teknologi dan pendidikan membuat generasi muda Tulungagung mulai aktif di sektor digital dan ekonomi kreatif.
Kini, Tulungagung menghadapi tantangan baru seperti alih fungsi lahan pertanian, pengelolaan sampah, hingga banjir musiman. Namun semangat gotong royong yang disebut sebagai bagian dari filosofi “pitulungan agung” dinilai masih menjadi kekuatan masyarakat.
Sejarah panjang Tulungagung disebut bukan hanya tentang kerajaan dan peperangan, tetapi juga perjalanan masyarakat biasa yang bertani, berkesenian, berdagang, dan menjaga budaya dari generasi ke generasi.
Warisan itu masih terlihat dari keberadaan situs sejarah, pesantren, candi, hingga tradisi budaya yang tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Editor : Divka Vance Yandriana