TULUNGAGUNG – Makam Ki Ageng Sengguruh di Dusun Pudensari, Desa Rejotangan, Kecamatan Rejotangan, Tulungagung, menjadi salah satu situs sejarah yang diyakini menyimpan jejak akhir masa Kerajaan Majapahit. Kompleks makam kuno di tepi Sungai Brantas itu disebut sebagai tempat peristirahatan tokoh penguasa telatah Aryo Blitar pada masa lampau.
Situs makam Ki Ageng Sengguruh berada di area pemakaman umum dengan luas sekitar 80 meter x 40 meter. Hingga kini, kawasan tersebut masih dijaga dan dirawat oleh warga sekitar serta pemerintah daerah karena dianggap memiliki nilai sejarah penting.
Keberadaan makam kuno itu kembali menarik perhatian publik setelah diulas dalam sebuah video penelusuran sejarah lokal di Tulungagung. Dalam video tersebut, makam Ki Ageng Sengguruh disebut memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Kadipaten kecil di era akhir Majapahit serta proses awal penyebaran Islam di Jawa.
Baca Juga: Asal Usul Tulungagung Terungkap, Berawal dari Rawa Bonorowo hingga Disebut Pitulungan Agung
Makam Ki Ageng Sengguruh Diyakini Berkaitan dengan Kadipaten Aryo Blitar
Menurut cerita turun-temurun masyarakat setempat, pada masa Kerajaan Majapahit berdiri sebuah kadipaten kecil yang menjadi cikal bakal wilayah Blitar. Kadipaten tersebut dipimpin Aryo Blitar yang disebut bermukim di sekitar Desa Aryojeding dan Dusun Pudensari.
Dalam narasi video disebutkan bahwa wilayah itu sempat menjadi tempat perlindungan tokoh-tokoh kerajaan saat terjadi konflik politik dan peperangan pada masa akhir Majapahit. Bahkan terdapat kisah tentang perpindahan pasukan hingga perebutan kekuasaan yang terjadi di kawasan tersebut.
“Makam kuno peninggalan Kerajaan Majapahit tersebut adalah tempat peristirahatan terakhir Ki Ageng Sengguruh yang pernah berkuasa di telatah Aryo Blitar,” demikian narasi dalam video penelusuran itu.
Baca Juga: Moto3 2026 Feda Ega Pratama Jerez: Comeback Gila dari P17 ke P6 Bikin Honda dan Aoyama Terkesima
Lokasi makam berada di tebing Sungai Brantas yang sejak dahulu dikenal sebagai jalur penting perdagangan dan mobilitas kerajaan di Jawa Timur. Posisi strategis itu membuat kawasan Rejotangan dipercaya memiliki peran penting dalam sejarah politik dan budaya masa lampau.
Selain itu, masyarakat sekitar masih meyakini adanya hubungan historis antara situs tersebut dengan peninggalan Majapahit lainnya di wilayah Tulungagung dan Blitar.
Struktur Makam Kuno Mirip Situs Penyebaran Islam Awal di Jawa
Kompleks makam Ki Ageng Sengguruh memiliki pagar keliling dengan susunan batu kuno. Jirat dan nisan makam juga dibuat dari batu andesit yang masih terlihat asli hingga sekarang.
Beberapa bagian makam memang sudah mengalami kerusakan akibat faktor usia. Ada nisan yang patah dan susunan batu yang tidak lagi utuh. Meski demikian, bentuk dasar makam masih dapat dikenali dengan jelas.
Yang menarik, bentuk nisan di makam Ki Ageng Sengguruh disebut memiliki kemiripan dengan makam kuno di Troloyo, Trowulan, Mojokerto, serta makam-makam awal Islam di Demak.
“Batu nisannya juga terbuat dari batu andesit dan berukir seperti makam kuno Demak dan Troloyo,” ujar narator video.
Kemiripan tersebut membuat sejumlah warga percaya bahwa kompleks makam ini berasal dari masa transisi Hindu-Buddha menuju Islam di Jawa. Hal itu terlihat dari perpaduan bentuk arsitektur Majapahit dengan pola makam Islam kuno.
Di tengah area pemakaman umum, situs makam kuno tampak menonjol karena struktur batu besar dan bentuk jirat yang berbeda dibanding makam modern di sekitarnya.
Masih Dirawat dan Menjadi Bagian Warisan Sejarah Tulungagung
Hingga kini, makam Ki Ageng Sengguruh masih rutin dibersihkan oleh juru pelihara dan warga sekitar. Area makam juga terlihat bersih meski berada di tengah kompleks pemakaman umum.
Warga setempat menganggap situs ini sebagai bagian penting dari sejarah lokal yang harus dilestarikan. Selain menjadi lokasi ziarah, makam tersebut juga sering dikunjungi pegiat sejarah dan pecinta budaya yang ingin menelusuri jejak Majapahit di Tulungagung.
Keberadaan makam kuno ini menambah daftar situs sejarah di Tulungagung yang masih menyimpan banyak misteri. Apalagi wilayah Rejotangan dikenal memiliki hubungan erat dengan jalur Sungai Brantas yang menjadi pusat peradaban Jawa Timur sejak era kerajaan kuno.
Sejumlah pemerhati sejarah berharap pemerintah daerah dapat melakukan penelitian lebih mendalam terkait asal-usul makam dan tokoh Ki Ageng Sengguruh. Kajian arkeologi dan sejarah dinilai penting untuk memperkuat informasi yang selama ini berkembang secara lisan di masyarakat.
Dengan kondisi makam yang masih relatif terjaga, situs ini dinilai memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata sejarah dan religi di Tulungagung.
Editor : Divka Vance Yandriana