TULUNGAGUNG – Makam Bupati ke-11 Tulungagung, Partowijoyo, di Desa Podorejo, Kecamatan Sumbergempol, menyimpan jejak penting sejarah perubahan nama Kabupaten Ngrowo menjadi Tulungagung. Sosok Partowijoyo disebut sebagai bupati yang menyaksikan langsung pergantian nama daerah tersebut pada akhir abad ke-19.
Kompleks makam kuno itu hingga kini masih dikunjungi masyarakat dan pegiat sejarah lokal. Selain menjadi tempat peristirahatan terakhir Partowijoyo, situs tersebut juga dianggap sebagai pengingat awal lahirnya identitas Kabupaten Tulungagung modern.
Dalam penelusuran sejarah yang diangkat kanal budaya lokal, disebutkan bahwa Partowijoyo memimpin Tulungagung pada periode 1896 hingga 1901, masa ketika pemerintah kolonial Hindia Belanda resmi mengganti nama Kabupaten Ngrowo menjadi Tulungagung.
Bupati Partowijoyo Jadi Saksi Perubahan Nama Ngrowo
Sejarah Tulungagung tidak lepas dari nama lama daerah tersebut, yakni Ngrowo. Nama itu berasal dari kondisi wilayah yang dahulu dikenal rawa-rawa dan sering tergenang air.
Perubahan besar terjadi pada masa kepemimpinan Bupati Partowijoyo. Dalam narasi video budaya yang beredar, disebutkan bahwa pada era itulah nama Kabupaten Ngrowo resmi diubah menjadi Tulungagung.
“Nama Ngrowo itu diubah menjadi nama Tulungagung,” ujar narator dalam video tersebut.
Partowijoyo dikenal sebagai Bupati ke-11 Tulungagung yang memimpin antara tahun 1896 sampai 1901. Masa pemerintahannya menjadi periode penting dalam sejarah administrasi dan identitas daerah di wilayah selatan Jawa Timur itu.
Pergantian nama tersebut diyakini berkaitan dengan upaya membangun citra baru daerah sekaligus menghapus kesan wilayah rawa yang melekat pada nama Ngrowo. Nama Tulungagung sendiri dipercaya berasal dari istilah “pitulungan agung” atau pertolongan besar.
Makam Kuno di Podorejo Masih Dijaga dan Diteliti
Kompleks makam Partowijoyo berada di Desa Podorejo, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung. Lokasi tersebut masih dijaga masyarakat dan menjadi salah satu situs sejarah lokal yang cukup dikenal.
Dalam video penelusuran budaya disebutkan bahwa makam itu pernah menjadi objek penelitian arkeologi sejak tahun 1986. Penelitian dilakukan untuk menelusuri sejarah dan peninggalan tokoh-tokoh penting Tulungagung tempo dulu.
“Sifat-sifat syekh Muhammad dipungut Balai Arkeologi Yogyakarta,” demikian potongan narasi dalam video yang menjelaskan adanya kajian terhadap situs tersebut.
Selain peneliti lokal, disebutkan pula pernah ada kunjungan dari pihak luar negeri, termasuk peneliti asal Amerika Serikat pada sekitar tahun 1999. Kunjungan itu dilakukan untuk melihat langsung situs sejarah dan perkembangan budaya lokal di Tulungagung.
Makam Partowijoyo memiliki nuansa khas kompleks pemakaman bangsawan Jawa lama. Area makam tampak teduh dengan bangunan sederhana dan dikelilingi pepohonan besar yang masih terawat hingga kini.
Jadi Pengingat Sejarah Awal Kabupaten Tulungagung
Keberadaan makam Bupati Partowijoyo kini tidak hanya dianggap sebagai situs pemakaman biasa. Banyak masyarakat melihatnya sebagai simbol perubahan besar dalam sejarah Kabupaten Tulungagung.
Partowijoyo dikenang sebagai pemimpin yang berada di masa transisi penting, ketika Ngrowo mulai berkembang menjadi wilayah administrasi modern bernama Tulungagung. Pergantian nama tersebut kemudian terus digunakan hingga sekarang.
Di tengah perkembangan kota dan modernisasi, situs makam kuno seperti ini dinilai penting untuk menjaga memori sejarah daerah. Apalagi Tulungagung memiliki banyak peninggalan budaya yang berkaitan dengan era Majapahit, Mataram Islam, hingga masa kolonial Belanda.
Pemerhati sejarah lokal berharap situs makam Partowijoyo dapat terus dirawat dan dikenalkan kepada generasi muda. Selain menjadi lokasi wisata sejarah, tempat tersebut juga memiliki nilai edukasi tentang perjalanan identitas Tulungagung dari masa ke masa.
Jejak perubahan nama Ngrowo menjadi Tulungagung menjadi salah satu peristiwa penting yang membentuk wajah daerah hingga saat ini. Dan nama Partowijoyo tetap tercatat sebagai salah satu tokoh yang menyaksikan perubahan bersejarah tersebut secara langsung.
Editor : Divka Vance Yandriana