TULUNGAGUNG – Makam Tumenggung Surontani di Desa Wajak Kidul, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, menjadi salah satu situs sejarah sekaligus lokasi yang sarat cerita mistis di wilayah selatan Jawa Timur. Tokoh ini dipercaya sebagai pembabat hutan belantara yang kemudian berkembang menjadi Desa Wajak Kidul.
Kompleks makam yang berada di tengah permukiman warga itu hingga kini masih dirawat oleh juru kunci dan masyarakat sekitar. Selain dikenal sebagai tokoh penting dalam sejarah lokal Tulungagung, makam Tumenggung Surontani juga lekat dengan mitos kemunculan macan putih gaib yang dipercaya menjaga kawasan tersebut.
Cerita tentang Tumenggung Surontani terus hidup di tengah masyarakat dan menjadi bagian dari babad atau sejarah lisan Tulungagung yang diwariskan turun-temurun.
Tumenggung Surontani Disebut Tokoh Pembuka Wajak Kidul
Dalam penuturan warga dan narasi sejarah lokal, Tumenggung Surontani dikenal sebagai tokoh sakti yang berhasil membuka kawasan hutan lebat menjadi sebuah permukiman yang kini bernama Desa Wajak Kidul.
Situs makamnya berada di lokasi strategis di tengah desa sehingga mudah dijangkau masyarakat maupun peziarah. Kondisi makam juga tampak cukup terawat karena rutin dibersihkan oleh warga sekitar.
“Beliau adalah tokoh sakti yang berhasil mengubah hutan belantara menjadi sebuah desa bernama Wajak Kidul,” demikian narasi dalam video dokumentasi sejarah lokal tersebut.
Dalam sejumlah cerita rakyat, Tumenggung Surontani disebut memiliki hubungan dengan tokoh-tokoh penting pada masa Mataram Islam. Nama beliau bahkan kerap dikaitkan dengan perjalanan sejarah awal pembentukan wilayah Tulungagung bagian selatan.
Selain makam utama Tumenggung Surontani, di area kompleks juga terdapat makam tokoh lain seperti Mbah Demang Surogongso dan Mbah Nurradin yang diyakini masih memiliki hubungan sejarah dengan perkembangan kawasan tersebut.
Mitos Macan Putih Gaib Masih Dipercaya Warga
Salah satu hal yang membuat makam Tumenggung Surontani terkenal adalah cerita mistis tentang keberadaan macan putih gaib. Warga sekitar percaya sosok tersebut menjadi penjaga kawasan makam sejak zaman dahulu.
Konon, macan putih itu hanya akan menampakkan diri kepada orang-orang yang datang dengan niat buruk atau tidak sopan saat berada di area makam.
“Macan putih gaib akan menampakkan diri pada siapa saja yang punya niat buruk ketika datang ke tempat ini,” ujar narator dalam video.
Cerita itu masih dipercaya sebagian masyarakat hingga sekarang. Bahkan beberapa peziarah mengaku pernah mengalami kejadian mistis ketika datang ke lokasi makam, terutama pada malam-malam tertentu.
Juru kunci makam menyebut hari Jumat Legi menjadi waktu paling ramai dikunjungi peziarah. Tidak hanya masyarakat biasa, sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat juga disebut pernah datang untuk berziarah.
Meski demikian, warga tetap mengingatkan agar pengunjung menjaga sikap dan tutur kata selama berada di kawasan makam sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur.
Jadi Bagian Penting Sejarah dan Budaya Tulungagung
Keberadaan makam Tumenggung Surontani kini tidak hanya dipandang sebagai situs religi, tetapi juga bagian dari warisan sejarah Tulungagung yang masih hidup di tengah masyarakat.
Cerita tentang pembukaan hutan Wajak Kidul hingga kisah macan putih gaib menjadi bagian dari identitas budaya lokal yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Selain nilai sejarah, kompleks makam ini juga memiliki potensi wisata budaya dan religi karena berada di kawasan yang mudah diakses. Banyak peziarah datang untuk berdoa sekaligus mencari tahu sejarah awal terbentuknya Wajak Kidul.
Pemerhati budaya lokal berharap situs makam Tumenggung Surontani dapat terus dijaga dan didokumentasikan secara lebih serius. Sebab, banyak kisah sejarah Tulungagung yang selama ini hanya berkembang melalui tradisi lisan masyarakat.
Di tengah modernisasi dan perkembangan wilayah, makam Tumenggung Surontani menjadi pengingat bahwa setiap desa di Tulungagung memiliki riwayat panjang yang membentuk identitas daerah hingga sekarang.
Editor : Divka Vance Yandriana