TULUNGAGUNG - Tradisi Malam 1 Suro kembali menjadi perhatian menjelang datangnya bulan Muharam. Namun, di tengah perkembangan zaman, makna asli ritual Megeng Napas dan Ngumbah Pusaka dalam tradisi Malam 1 Suro dinilai mulai bergeser dan kerap disalahpahami sebagai praktik klenik semata.
Pandangan tersebut disampaikan wartawan senior Tulungagung, Soenarwoto atau yang akrab disapa Cak Wot, dalam refleksi budaya bertajuk Megeng Napas dan Ngumbah Pusaka. Menurutnya, ritual yang telah diwariskan leluhur Jawa selama berabad-abad sejatinya mengandung pesan spiritual dan pengendalian diri yang mendalam.
Dalam budaya Jawa, bulan Suro merupakan bulan yang dianggap suci dan memiliki keterkaitan dengan bulan Muharam dalam kalender Islam. Karena itu, berbagai tradisi yang berkembang di masyarakat Jawa merupakan bentuk akulturasi budaya Jawa dan nilai-nilai Islam yang telah berlangsung sejak lama.
Makna Megeng Napas Bukan Sekadar Menahan Napas
Menurut Soenarwoto, banyak generasi muda saat ini memahami ritual Megeng Napas secara harfiah. Padahal makna sesungguhnya jauh lebih dalam daripada sekadar menahan napas.
Ia menjelaskan, Megeng Napas merupakan simbol pengendalian hawa nafsu dan pengikisan ego manusia. Ritual tersebut biasanya dilakukan melalui laku tirakat berupa semedi, berdoa, tidak tidur semalaman atau dikenal dengan istilah cegah melek, serta berpuasa atau cegah dahar.
“Megeng napas itu maknanya menahan nafsu atau mengikis ego,” tulis Soenarwoto dalam refleksinya.
Laku spiritual tersebut bertujuan menjernihkan hati dan pikiran agar manusia lebih dekat kepada Tuhan. Dalam filosofi Jawa, seseorang tidak dapat mencapai kemuliaan hidup hanya dengan menjalani kehidupan secara pasif tanpa usaha memperbaiki diri.
Tradisi itu juga menjadi sarana introspeksi menjelang pergantian tahun Jawa. Melalui pengendalian diri, masyarakat diajak mengevaluasi perjalanan hidup sekaligus mempersiapkan diri menjadi pribadi yang lebih baik.
Ngumbah Pusaka Dimaknai Sebagai Membersihkan Hati
Selain Megeng Napas, tradisi lain yang identik dengan Malam 1 Suro adalah Ngumbah Pusaka atau mencuci pusaka.
Di berbagai daerah, ritual ini sering diwujudkan dengan membersihkan keris, tombak, maupun benda-benda pusaka peninggalan leluhur. Namun menurut Soenarwoto, makna filosofis Ngumbah Pusaka sesungguhnya bukan terletak pada benda fisiknya.
“Ngumbah pusaka sendiri maknanya mencuci hati dari segala karat kesalahan dan dosa. Bukan sekadar mencuci keris dan tombak,” tulisnya.
Dalam pandangan budaya Jawa, pusaka terbesar manusia bukanlah benda yang diwariskan leluhur, melainkan hati dan akhlak yang harus terus dijaga kebersihannya.
Karena itu, ritual Ngumbah Pusaka sejatinya menjadi simbol pembersihan batin, introspeksi diri, serta upaya memperbaiki hubungan manusia dengan Tuhan maupun sesama.
Makna tersebut dinilai penting untuk dipahami agar masyarakat tidak hanya melihat tradisi sebagai seremoni budaya tanpa memahami nilai yang terkandung di dalamnya.
Nilai Filosofis Tradisi Suro Dinilai Mulai Bergeser
Soenarwoto juga menyoroti fenomena sebagian perayaan Malam 1 Suro yang kini lebih menonjolkan aspek hiburan dibandingkan pesan spiritualnya.
Menurutnya, sejumlah kegiatan budaya yang semula bertujuan sebagai sarana perenungan kini lebih banyak diisi pertunjukan hiburan dan kegiatan seremonial. Bahkan tidak sedikit yang menjadikannya sebagai agenda wisata maupun peningkatan pendapatan daerah.
Ia menilai kondisi tersebut membuat esensi tradisi perlahan memudar.
“Kiranya itulah ritual leluhur kini hilang tuah tinggal tulah; hilang keramatnya tinggal balaknya,” tulisnya.
Di sisi lain, ia juga mengingatkan bahwa generasi muda perlu mendapatkan literasi budaya yang memadai agar tidak terburu-buru menganggap seluruh tradisi leluhur sebagai praktik mistis atau syirik.
Menurutnya, budaya Jawa kaya akan simbol, pasemon, dan pesan moral yang membutuhkan pemahaman mendalam. Nilai-nilai tersebut justru dapat menjadi bekal dalam membangun karakter, pengendalian diri, serta penghormatan terhadap warisan budaya bangsa.
Menjelang datangnya Malam 1 Suro, refleksi tersebut menjadi pengingat bahwa tradisi Megeng Napas dan Ngumbah Pusaka bukan sekadar ritual tahunan, melainkan sarana membersihkan diri lahir dan batin agar manusia mampu menjalani kehidupan dengan lebih bijaksana.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.