Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Bangkrut Setelah Berjaya, Kisah Reco Pentung Tulungagung dan Mitos Nyi Roro Kidul yang Terus Hidup

Cholifatun Nisak • Rabu, 1 Juli 2026 | 19:58 WIB
Reco Pentung Tulungagung pernah berjaya dengan 4.500 pekerja sebelum bangkrut. Simak sejarah dan mitos Nyi Roro Kidul yang menyertainya.
Reco Pentung Tulungagung pernah berjaya dengan 4.500 pekerja sebelum bangkrut. Simak sejarah dan mitos Nyi Roro Kidul yang menyertainya.

TULUNGAGUNG, RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Reco Pentung Tulungagung pernah menjadi salah satu nama terbesar dalam industri rokok kretek di Jawa Timur. Berawal dari usaha kecil yang dirintis pada 1946, perusahaan ini berkembang menjadi raksasa industri yang mampu menghidupi ribuan keluarga sebelum akhirnya tumbang akibat tekanan bisnis dan perubahan industri.

Kisah Reco Pentung Tulungagung tidak hanya dikenal karena kejayaan bisnisnya, tetapi juga karena berbagai cerita yang mengiringinya. Mulai dari sejarah perjuangan sang pendiri, dampak ekonomi bagi masyarakat, hingga mitos yang mengaitkan kesuksesan perusahaan dengan sosok Nyi Roro Kidul.

Meski berbagai cerita mistis masih berkembang di masyarakat, keluarga pendiri Reco Pentung Tulungagung menegaskan bahwa keberhasilan perusahaan murni berasal dari kerja keras, kemampuan berwirausaha, dan kecintaan terhadap budaya Jawa.

Baca Juga: Bagan 16 Besar Piala Dunia 2026: Prancis vs Paraguay, Brasil Tantang Norwegia usai Meksiko Lolos

Berawal dari Usaha Kecil pada 1946

Perjalanan Reco Pentung dimulai pada 1946, tidak lama setelah Indonesia meraih kemerdekaan. Pendirinya, Haji Sumiran Karsodiwiryo, merintis usaha rokok kretek dalam skala kecil di Tulungagung.

Berkat ketekunan dan kemampuannya membaca peluang pasar, usaha tersebut berkembang pesat dari tahun ke tahun. Reco Pentung kemudian menjadi salah satu produsen rokok terbesar di wilayah Tulungagung dan mampu bersaing dengan berbagai merek nasional.

Nama Reco Pentung semakin dikenal luas pada era 1980-an hingga awal 1990-an. Saat itu perusahaan berada di puncak kejayaannya dan menjadi salah satu penggerak utama roda perekonomian daerah.

Pernah Mempekerjakan 4.500 Orang

Pada masa emasnya, Reco Pentung bukan sekadar perusahaan rokok. Kehadirannya menjadi sumber penghidupan bagi ribuan warga Tulungagung.

Jumlah tenaga kerja yang terserap mencapai sekitar 4.500 orang. Sebagian besar merupakan perempuan yang bekerja sebagai pelinting rokok kretek.

Aktivitas produksi yang terus berjalan membuat ribuan keluarga menggantungkan penghasilan dari perusahaan tersebut. Tidak berlebihan jika Reco Pentung kala itu disebut sebagai simbol kemakmuran masyarakat Tulungagung.

Keberadaan pabrik juga ikut mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui berbagai sektor pendukung, mulai dari perdagangan tembakau hingga jasa distribusi.

Bangkrut Setelah Persaingan Semakin Ketat

Namun kejayaan itu tidak berlangsung selamanya. Memasuki awal tahun 2000-an, Reco Pentung mulai menghadapi berbagai persoalan.

Persaingan industri rokok semakin ketat, biaya produksi meningkat, dan perubahan regulasi membuat perusahaan kesulitan mempertahankan bisnisnya.

Sekitar 2001 hingga 2002, perusahaan dinyatakan bangkrut. Ribuan pekerja kehilangan mata pencaharian, sementara berbagai persoalan hukum terkait aset perusahaan dan pesangon karyawan terus bergulir.

Bahkan pada 2016, sejumlah mantan pekerja masih sempat menggelar aksi untuk memperjuangkan hak-haknya.

Berakhirnya operasional Reco Pentung menjadi penutup perjalanan salah satu industri terbesar yang pernah dimiliki Kabupaten Tulungagung.

Baca Juga: Bagan 16 Besar Piala Dunia 2026: Prancis vs Paraguay, Brasil Tantang Norwegia usai Meksiko Lolos

Mitos Nyi Roro Kidul Terus Berkembang

Selain kisah bisnisnya, Reco Pentung juga tidak lepas dari berbagai cerita mistis yang berkembang di masyarakat.

Kesuksesan luar biasa perusahaan kerap dikaitkan dengan praktik pesugihan dan sosok Nyi Roro Kidul. Anggapan tersebut muncul karena pendiri Reco Pentung membangun Kompleks Reco Sewu yang di dalamnya terdapat berbagai patung budaya serta lukisan Nyi Roro Kidul.

Cerita tersebut kemudian berkembang luas hingga menjadi bagian dari sejarah lisan masyarakat Tulungagung.

Keluarga Tegaskan Tidak Ada Pesugihan

Pihak keluarga Sumiran Karsodiwiryo telah berulang kali membantah anggapan tersebut.

Mereka menegaskan bahwa Reco Sewu dibangun sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya, seni, dan tradisi Jawa, bukan sebagai tempat menjalankan praktik pesugihan.

Menurut keluarga, keberadaan patung, ornamen budaya, maupun lukisan Nyi Roro Kidul hanyalah representasi kebudayaan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir selatan Jawa.

Kesuksesan Reco Pentung, kata keluarga, lahir dari kerja keras, ketekunan, serta kemampuan bisnis sang pendiri dalam membangun industri dari nol hingga menjadi perusahaan besar.

Hingga kini, meski pabriknya telah lama berhenti beroperasi, nama Reco Pentung masih melekat dalam ingatan masyarakat Tulungagung. Perusahaan tersebut dikenang bukan hanya sebagai produsen rokok legendaris, tetapi juga sebagai simbol kebangkitan ekonomi daerah yang pernah memberi kehidupan bagi ribuan keluarga. Di sisi lain, kisah tentang mitos dan budaya yang menyertainya tetap menjadi bagian menarik dari sejarah panjang industri rokok di Jawa Timur.

Baca Juga: Top Skor Piala Dunia 2026: Lionel Messi Kokoh di Puncak, Pecahkan Rekor Dunia usai Fase Grup

Editor : Cholifatun Nisak
#Sumiran Karsodiwiryo #Pabrik Rokok Reco Pentung #Sejarah Reco Pentung #Reco Sewu #Reco Pentung Tulungagung