TULUNGAGUNG - Jalur pendakian Gunung Budheg Tulungagung menyuguhkan tantangan ekstrem yang menguji fisik dan mental para pencinta alam meskipun ketinggiannya tidak sampai 1000 mdpl. Kawasan pegunungan yang terletak di Jawa Timur ini menjadi destinasi favorit karena memiliki karakteristik trek yang sangat khas. Berbeda dengan gunung-gunung besar lain di sekitarnya, bukit purba ini langsung memberikan tantangan berat sejak awal keberangkatan.
Tim pendaki Simontivi melakukan penelusuran langsung untuk menaklukkan jalur pendakian Gunung Budheg Tulungagung tersebut. Pendakian dimulai dari area bawah pada pukul 14.29 WIB melalui titik kumpul di seputaran base camp utama. Pada area dasar ini, pihak pengelola telah menyediakan fasilitas spot foto khusus dengan latar belakang pemandangan tebing yang dinamakan puncak Giri Dewanata.
Kondisi alam di awal jalur pendakian ini didominasi oleh vegetasi pohon jati dengan kontur tanah yang cenderung gundul dan sangat kering. Karakteristik cuaca di sepanjang kawasan hutan jati ini terasa sangat panas menyengat dan gersang. Atmosfer udara yang panas tersebut menjadi pembeda utama jika dibandingkan dengan gunung lain seperti Gunung Wilis maupun Gunung Lawu.
Baca Juga: Indomobil E-Motor Tirano Disebut Paling Mirip Motor Bensin, Ini Fitur dan Kelebihannya
Tanjakan Ekstrem Tanpa Bonus di Seperempat Jalur Pertama
Setelah melewati batas base camp, para pendaki langsung dihadapkan pada tanjakan ekstrem yang terus menanjak tanpa ampun. Kontur tanah liat yang kering membuat pijakan kaki harus lebih berhati-hati agar tidak tergelincir selama melangkah ke atas. Di sepanjang jalur awal ini, terdapat percabangan jalan lurus maupun belokan yang dapat dipilih secara bebas oleh para pendaki sesuai selera masing-masing.
Saat berhasil menempuh seperempat dari total perjalanan menuju puncak, terdapat sebuah papan penanda fisik berwujud tulisan kayu. Area pemberhentian pertama ini membuktikan bahwa jalur pendakian dirancang terus menanjak tajam tanpa diberikan bonus jalur landai sama sekali. Kondisi trek yang terus mendaki ini menuntut konsumsi energi yang cukup besar dari setiap pendaki.
Tantangan fisik terasa semakin berat akibatembusan angin yang sangat kencang serta paparan sinar matahari yang cukup terik. Medan tanah liat yang kering berpotensi berubah menjadi sangat licin apabila kawasan perbukitan ini diguyur oleh hujan deras. Oleh karena itu, pemilihan jalur setapak yang tepat menjadi faktor krusial untuk keselamatan para pendaki.
Medan Batuan Raksasa dan Fasilitas Tali Pengaman
Memasuki pertengahan perjalanan menuju ke puncak, vegetasi tanaman di sekitar jalur setapak mulai terlihat tumbuh agak rapat. Kondisi hutan yang mulai teduh ini sedikit mengurangi sengatan cuaca panas yang sebelumnya dirasakan di area bawah. Pada titik ini, jalur pendakian mulai berubah secara ekstrem dari tanah liat kering menjadi didominasi batuan berukuran besar.
Pihak pengelola telah menyediakan fasilitas tali pengaman di titik-titik krusial yang memiliki tingkat kemiringan sangat tajam. Para pendaki dapat memilih untuk memanjat batuan besar tersebut menggunakan bantuan tali pengaman atau melewati jalur alternatif di sisi samping. Jalur batuan ini memiliki sudut kemiringan yang super tajam sehingga memaksa tubuh untuk terus merangkak naik.
Di tengah jalur batuan tersebut, terdapat sebuah batu berukuran sangat besar yang letaknya menjorok ke arah jalur pendakian. Rombongan pendaki diharuskan berjalan melipir melewati bagian bawah batu raksasa tersebut tanpa menggunakan bantuan tali tambat. Meskipun terdapat area datar, ukurannya sangat sempit dan tidak cukup luas untuk dijadikan tempat beristirahat dalam waktu lama.
Baca Juga: Indomobil E-Motor Tirano Disebut Paling Mirip Motor Bensin, Ini Fitur dan Kelebihannya
Insiden Luka Bacok Parang Saat Pembukaan Jalur Baru
Dalam proses penelusuran trek tengah tersebut, terungkap sebuah cerita mengenai insiden kecelakaan kerja yang dialami oleh salah seorang pendaki lokal. Insiden tersebut terjadi saat pendaki yang bersangkutan berusaha membuka jalur pendakian baru menggunakan sebilah parang. Saat sedang beraktivitas membabat semak belukar di atas pos 3, tangannya secara tidak sengaja terkena sabetan parang miliknya sendiri.
Sabetan senjata tajam tersebut mengenai tiga jari tangan sekaligus, dengan luka paling parah berada di bagian jari jempol. Akibat luka robek yang cukup dalam tersebut, korban terpaksa harus segera dievakuasi turun menuju ke area bawah untuk mendapatkan tindakan jahitan. Insiden berdarah ini terjadi tepat sesaat sebelum korban berhasil mencapai area puncak tertinggi.
Meskipun vegetasi di sekitar pos 3 tersebut tergolong sangat lebat dan teduh, faktor keselamatan penggunaan alat tajam harus tetap diutamakan. Kejadian ini menjadi pengingat penting bagi para pendaki lain untuk selalu waspada saat melintasi jalur rawan kecelakaan. Jalur setelah pos 3 ini memang dikenal sebagai salah satu area dengan tingkat kesulitan paling parah di Gunung Budheg.
Zona Berkemah dan Keindahan Panorama Puncak 585 MDPL
Setelah berhasil melewati rintangan batuan tajam dan tanjakan curam, para pendaki akhirnya tiba di kawasan camping zone atau area berkemah. Area datar yang cukup luas ini biasa digunakan oleh para pencinta alam untuk mendirikan tenda dan bermalam. Dari titik zona berkemah ini, tersaji keindahan panorama pemandangan bentang alam perumahan warga yang berada jauh di bawah jurang.
Dari zona berkemah, perjalanan dilanjutkan menuju tanjakan terakhir yang menjadi batas akhir dari rute pendakian ekstrem ini. Tepat setelah menempuh total waktu perjalanan selama 2 jam 30 menit, rombongan akhirnya berhasil menapakkan kaki di puncak tertinggi. Puncak Gunung Budheg Tulungagung ini berada di ketinggian resmi 585 meter di atas permukaan laut (MDPL).
Di area puncak tertinggi ini, para pendaki dapat melihat dengan jelas keberadaan bentang alam Bukit Lemparan di sisi bawah. Area perbukitan hitam tersebut merupakan sisa dari bekas peristiwa kebakaran lahan yang pernah melanda kawasan setempat beberapa waktu lalu. Selain itu, di area puncak ini juga terdapat sebuah titik cabang jalur yang mengarah langsung ke area puncak bendera. Setelah menikmati pemandangan matahari terbenam (sunset), rombongan pendaki mulai bergerak turun kembali pada pukul 17.30 WIB.
Editor : Natasha Eka Safrina