Gunung Budheg Tulungagung, pendakian Gunung Budheg, jalur ekstrem, Simontivi, puncak 585 MDPL

Natasha Eka Safrina • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 18:50 WIB
Situs purbakala Gua Pasir Tulungagung era Majapahit di lereng Gunung Budheg ditemukan terpendam longsor. Simak sejarah relief Arjuna Wiwaha dan pondasi resi.
Situs purbakala Gua Pasir Tulungagung era Majapahit di lereng Gunung Budheg ditemukan terpendam longsor. Simak sejarah relief Arjuna Wiwaha dan pondasi resi.

 

TULUNGAGUNG - Situs purbakala Gua Pasir Tulungagung yang terletak di lereng utara Gunung Budheg menjadi bukti nyata keberadaan pusat pertapaan kuno dari abad ke-12 hingga 16 Masehi. Keberadaan cagar budaya ini pertama kali ditemukan oleh masyarakat setempat sejak masa pemerintahan kolonial Belanda. Namun, sebagian besar area bersejarah ini hingga sekarang masih terpendam di bawah lapisan tanah akibat terkena dampak longsoran gunung.

Secara administratif, objek bersejarah ini berada di Dusun pasir, Desa Junjung, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Lokasi Gua Pasir Tulungagung memiliki jarak tempuh kurang lebih sekitar 10 kilometer jika diakses dari pusat Kota Tulungagung. Secara geografis, situs ini berada dekat dengan kawasan Wajak dan berbatasan langsung dengan sisa-sisa area rawa purba di sekitarnya.

Situs sejarah Gua Pasir Tulungagung merupakan jenis gua buatan manusia yang dibuat secara sengaja dengan cara melubangi bagian lereng perbukitan kapur Kendeng Selatan. Di dalam kompleks purbakala ini tersimpan berbagai macam benda purbakala yang bernilai sejarah tinggi sebagai warisan budaya bangsa. Berbagai benda purbakala tersebut tersebar di antara bebatuan lereng gunung, mulai dari patung, relief, arca, artefak, hingga kompleks makam kuno.

Baca Juga: Review Indomobil E-Motor Tirano, Motor Listrik Adventure dengan Fitur Premium dan Jarak Tempuh 110 Km

Karakteristik Dua Kamar Gua dan Struktur Pondasi Rumah Resi

Pada kompleks pelataran situs sejarah ini, para peneliti menemukan keberadaan dua buah bangunan gua buatan yang memiliki ukuran serta arah hadap berbeda. Gua pertama terletak pada ketinggian 200 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan dapat diakses secara langsung tanpa menggunakan fasilitas tangga bantu. Ruangan gua pertama ini memiliki ukuran panjang 260 sentimeter, lebar 175 sentimeter, serta tingkat kedalaman ruangan mencapai 218 sentimeter.

Berbeda dengan gua pertama, bangunan gua kedua memiliki ukuran dimensi ruang yang relatif lebih besar dengan posisi tebing bagian bawah yang menjorok. Gua kedua ini memiliki ukuran panjang 305 sentimeter, lebar 205 sentimeter, tinggi 190 sentimeter, serta tingkat kedalaman bagian dalam mencapai 255 sentimeter. Ruang gua kedua ini dibangun menghadap persis ke arah barat dan tidak memiliki guratan relief pada dinding batunya.

Di sekitar pelataran gua, ditemukan pula sisa-sisa struktur bangunan kuno berbentuk bujur sangkar dengan ukuran panjang masing-masing sisinya sepanjang 700 sentimeter. Struktur tersebut berupa tatanan batu andesit rapi yang diperkirakan merupakan pondasi dari sebuah rumah tinggal semi permanen milik para resi. Selain pondasi, area luar gua juga dipenuhi oleh temuan arca lepas berbahan batu andesit yang kondisinya saat ini kurang terawat.

Arca Penjaga Pintu Dwarapala dan Misteri Makam Mbah Bodo

Pada bagian depan kompleks pelataran gua, terdapat beberapa buah arca lepas yang masih tersisa dan berdiri di antara semak belukar. Koleksi arca purba tersebut terdiri dari dua buah arca Dwarapala yang berfungsi sebagai sosok raksasa penjaga pintu gerbang suci. Selain arca penjaga pintu, ditemukan pula sebuah Arca Ganesha yang diletakkan pada bagian pelataran depan bangunan gua kuno tersebut.

Tepat di area depan deretan arca andesit tersebut, terdapat sebuah kompleks pemakaman kuno yang dikeramatkan oleh masyarakat sekitar lereng gunung. Berdasarkan cerita rakyat yang berkembang secara turun-temurun, makam kuno tersebut diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhir dari sosok Mbah Bodo. Kawasan pemakaman kuno ini kemudian lebih dikenal secara luas oleh warga setempat dengan sebutan situs Mbah Bodo.

Hingga saat ini, waktu pasti mengenai sejak kapan keberadaan makam Mbah Bodo tersebut berada di pelataran gua masih menjadi misteri. Selain makam, keberadaan peninggalan batu-batuan kuno lainnya di sekitar lokasi juga masih menyisakan teka-teki sejarah yang belum terpecahkan. Peninggalan tersebut meliputi batu umpak, miniatur bangunan kuno, serta ornamen batu patma atau teratai yang posisinya terletak secara tidak beraturan.

Baca Juga: Indomobil E-Motor Tirano Disebut Paling Mirip Motor Bensin, Ini Fitur dan Kelebihannya

Fragmen Relief Arjuna Wiwaha yang Belum Terselesaikan

Saat memasuki bagian dalam ruangan gua pertama, pengunjung dapat melihat guratan relief kuno yang mengangkat fragmen cerita legenda Arjuna Wiwaha. Berdasarkan sastra klasik, legenda kisah Arjuna Wiwaha sendiri sebenarnya dibagi secara terstruktur ke dalam tiga bagian cerita utama. Bagian pertama menceritakan kisah pertapaan Arjuna di gunung serta berbagai ujian spiritual yang diturunkan oleh para dewa dari kayangan.

Bagian kedua mengisahkan tentang pertempuran sengit antara Arjuna melawan sosok raksasa sakti yang bernama Niwatakawaca. Sementara pada bagian ketiga, dikisahkan mengenai proses diangkatnya Arjuna ke kayangan untuk menerima hadiah atas kemenangan pertempurannya. Namun, guratan relief yang terpahat di dinding gua ini hanya menampilkan bagian fragmen pertapaan Arjuna dan ujian dewa saja.

Seluruh pahatan kisah Arjuna Wiwaha di dalam ruangan gua buatan ini terlihat belum diselesaikan sepenuhnya oleh sang pemahat kuno. Pahatan relief yang terlihat paling jelas terletak pada bagian dinding sisi kanan dan sisi kiri gua, yaitu relief Punakawan. Relief tersebut menggambarkan adegan jenaka seorang tokoh Punakawan yang sedang digoda oleh deretan para bidadari kiriman dewa dari kayangan. Sementara itu, pahatan relief sosok tokoh Arjuna pada dinding bagian belakang gua hanya terlihat berupa guratan samar-samar saja.

Fungsi Kawasan Karsan sebagai Pusat Pendidikan Mandala Kedwuguruan

Berdasarkan banyaknya unsur bertapa yang tergambar pada guratan relief dinding, para sejarawan berhasil menyimpulkan fungsi utama dari situs sejarah ini. Para ahli berpendapat bahwa fungsi tempat ini pada masa lampau merupakan sebuah Karsan atau tempat tinggal khusus para pertapa. Kawasan ini diperuntukkan bagi orang-orang yang memilih meninggalkan kehidupan duniawi demi mendekatkan diri dengan dewa tertinggi.

Gua Pasir merupakan satu di antara beberapa buah situs Karsan atau wilayah Mandala Kedwuguruan yang tersebar di Lembah Wali Kungkul. Kawasan ini menawarkan pemandangan paleo ekologis yang eksotis dengan perpaduan pagar perbukitan kapur Kendeng Selatan dan rawa purba. Di sub area selatan Tulungagung ini, terdapat beberapa situs pertapaan sejenis yang tersebar secara berturut-turut mulai dari arah barat.

Situs pertapaan tersebut diawali dari Gua Tritis di Gunung Budheg, kemudian Gua Selomangleng yang memiliki relief Arjuna Wiwaha dan teras monolit. Selanjutnya terdapat situs Gua Banyurip yang dilengkapi dengan fasilitas tempat kontemplasi di area lereng terjal, hingga kompleks Gua Pasir. Di luar situs-situs utama tersebut, masih terdapat belasan gua pertapaan lainnya di sekitar lereng gunung yang perlu dicermati lebih mendalam.

Dalam kurun waktu setengah milenium, komunitas pertapa dan para ajar memanfaatkan kawasan terpencil ini sebagai pusat pembelajaran kerohanian dan kehidupan. Para murid menjalani tahap kehidupan suci yang dinamakan masa Brahmacari serta masa mengasingkan diri ke hutan atau Wana Prasta. Kawasan sunyi di bawah hutan lebat ini dipilih karena mampu memberikan nuansa alam yang tenang demi mencapai kesempurnaan batin.

Kawasan Lembah Wali Kungkul dapat diumpamakan sebagai panggung megah bagi sejarah perkembangan peradaban Jawa dari abad ke-12 hingga 16 Masehi. Area purbakala ini meninggalkan jejak Karsan yang sangat kompleks dengan pola penataan ruang yang masih relatif tergambar jelas. Situs ini menjadi contoh nyata dari bentuk adaptasi ekokultural masa lampau yang berjalan secara harmonis, inspiratif, dan religius bagi generasi penerus.

Editor : Natasha Eka Safrina
relief arjuna wiwaha Gua Pasir Tulungagung lereng Gunung Budheg situs Mbah Bodo pertapaan kuno