TULUNGAGUNG - Situs wisata sejarah Gua Pasir Tulungagung di kawasan perbukitan selatan menyimpan jejak spiritual penting sebagai tempat pertapaan Ratu Gayatri dari Kerajaan Majapahit. Lokasi peninggalan purbakala ini berada di area terpencil yang dikelilingi oleh pepohonan rindang. Berbagai tinggalan arkeologis berharga tersebar di area perbukitan yang dulunya menjadi saksi bisu perjalanan spiritual kaum bangsawan era klasik Nusantara.
Tim pesona dari Jtv Biro Kediri melakukan perjalanan langsung dari pusat kota bergeser menuju wilayah Tulungagung bagian selatan. Secara administratif, destinasi purbakala Gua Pasir Tulungagung ini terletak di area Desa Junjung, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Jarak tempuh dari arah pusat Kota Tulungagung menuju ke situs purbakala ini adalah sekitar 10 kilometer perjalanan darat.
Mendengar nama objek wisata Gua Pasir Tulungagung, sebagian besar masyarakat awam mungkin akan langsung membayangkan sebuah lubang di tanah gersang penuh pasir. Namun, bayangan tentang hamparan pasir tersebut dipastikan tidak akan terbukti sama sekali ketika pengunjung datang langsung ke lokasi. Penamaan kata "pasir" pada situs sejarah ini murni diambil dari nama Dusun Pasir yang berada di wilayah lereng Pegunungan Budheg.
Baca Juga: Filosofi Kejawen tentang Nafsu dan Akhirat, Masyarakat Diingatkan Gunakan Akal Sehat
Area Dua Hektar Tempat Pertapaan Suci Ratu Gayatri Majapahit
Berdasarkan catatan sejarah serta cerita tutur yang dijaga oleh pihak pengelola, kompleks situs purbakala ini memiliki fungsi yang sangat sakral pada masa lampau. Kawasan pegunungan selatan ini diduga kuat menjadi tempat bagi sosok Ratu Gayatri untuk melakukan proses ritual tapabrata. Ratu Gayatri dikenal luas sebagai salah satu tokoh perempuan agung sekaligus ratu berpengaruh dari era kejayaan Kerajaan Majapahit.
Secara keseluruhan, luas area situs purbakala yang berada di bawah pengawasan pihak Perhutani ini mencapai ukuran sekitar 2 hektar. Di dalam lahan seluas dua hektar tersebut, sebaran benda-benda cagar budaya terletak terpisah di beberapa titik koordinat perbukitan. Setiap titik penemuan menyuguhkan karakteristik peninggalan yang berbeda, mulai dari struktur batuan candi hingga pahatan batu monolit berukuran raksasa.
Peninggalan yang dapat dijumpai oleh para wisatawan di area pelataran luar antara lain berupa kumpulan arca kuno serta empat buah batu umpak. Tepat di sisi sebelah timur dari kumpulan arca tersebut, terdapat sisa-sisa dari struktur pondasi yang terbuat dari material batu bata candi. Selain itu, terdapat pula sebuah batu besar yang dipahat khusus dengan relief motif hewan purba.
Baca Juga: Filosofi Jawa Ungkap Makna Nafsu dan Akhirat, Manusia Diingatkan Jangan Mudah Terjebak Kebodohan
Relief Batu Perahu dan Burung Garuda Kencana Jalur Sungai Brantas
Salah satu peninggalan batu monolit yang paling menarik perhatian para peneliti adalah keberadaan sebuah batu besar yang memuat relief gambar perahu. Pahat relief perahu tersebut mengisahkan tentang kronologi perjalanan rombongan bangsawan zaman dahulu saat pertama kali tiba di wilayah Tulungagung. Berdasarkan tafsir sejarah, rombongan kerajaan tersebut kemungkinan besar datang menggunakan sarana transportasi perahu air melalui jalur transportasi Sungai Brantas.
Tepat di sisi bagian belakang dari relief batu perahu tersebut, para pemahat kuno juga menorehkan pahatan berwujud burung Garuda Kencana. Tidak jauh dari posisi relief burung garuda, terdapat struktur batuan berundak yang letaknya menempel pada bagian dinding tebing bukit. Batuan berundak ini diduga kuat memiliki fungsi sebagai akses tangga jalan bagi para resi untuk menuju ke area gua atas.
Benda purbakala unik lain yang ditemukan di sekitar jalur setapak menuju ke arah perbukitan adalah sebuah batu berbentuk hewan bulus atau kura-kura. Namun, peninggalan yang menjadi objek paling utama di kawasan cagar budaya ini adalah keberadaan bangunan dua buah gua buatan. Kedua gua tersebut memiliki fungsi spiritual yang sama sebagai tempat kontemplasi serta memiliki ukuran dimensi ruang yang relatif identik.
Baca Juga: Filosofi Jawa tentang Nafsu dan Akhirat, Pesan agar Bangsa Indonesia Tidak Menjadi Bodoh
Perbedaan Letak Dua Kamar Gua dan Fragmen Wayang Arjuna Wiwaha
Secara teknis, kedua bangunan gua buatan manusia tersebut memiliki ukuran panjang ruangan bagian dalam sekitar 4,5 meter. Sementara untuk ukuran lebar ruangan adalah sepanjang 1,5 meter dengan ukuran tinggi langit-langit bagian dalam juga mencapai 1,5 meter. Faktor utama yang membedakan antara bangunan gua satu dengan gua dua terletak pada posisi ketinggian elevasi serta keberadaan seni pahat dinding.
Bangunan gua pertama atau gua atas terletak di posisi yang tinggi dan posisinya berada sangat dekat dengan area puncak tebing tegak. Sementara untuk gua kedua atau gua bawah posisinya terletak tepat berada di bagian bawah dari dinding batuan tebing tersebut. Perbedaan mencolok lainnya adalah gua bagian atas memiliki hiasan relief indah, sedangkan gua bagian bawah memiliki dinding yang polos.
Pahatan relief pada gua atas menampilkan visualisasi dari kisah tokoh cerita wayang yang sangat melegenda, yaitu kisah Arjuna Wiwaha. Relief tersebut secara spesifik menggambarkan potongan adegan ketika tokoh Arjuna bersama para punggawanya sedang menghadapi ujian spiritual. Mereka digambarkan sedang digoda oleh deretan para bidadari kiriman dewa khayangan saat sedang khusyuk melakukan proses pertapaan.
Punden Makam Syekh Jangkung Maulana Tokoh Babat Alas Dusun
Selain menyuguhkan peninggalan arsitektur Hindu-Buddha, di dalam kompleks cagar budaya ini ternyata juga terdapat sebuah area pemakaman kuno. Masyarakat setempat mempercayai bahwa makam atau punden tersebut merupakan tempat peristirahat terakhir dari sosok tokoh pembuka wilayah. Tokoh misterius tersebut diyakini sebagai orang yang pertama kali melakukan aktivitas pembukaan lahan atau babat alas di Dusun Pasir.
Berdasarkan keterangan dari juru kunci situs, makam kuno tersebut diberi identitas resmi dengan nama makam Syekh Jangkung Maulana. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, sebagian besar masyarakat sekitar lereng gunung lebih mengenal tokoh tersebut dengan sebutan nama Bodo atau Mbah Bodo. Keberadaan kompleks makam punden tokoh babat alas ini senantiasa dijaga kesucian dan kelestariannya oleh warga sekitar.
Secara fisik, kompleks makam keramat di kawasan lereng perbukitan ini terdiri dari dua buah pusara yang letaknya berdampingan. Kedua pusara tersebut diketahui merupakan makam dari pasangan suami istri dari tokoh pemuka agama kuno tersebut. Keberadaan makam Islam di tengah situs pertapaan Majapahit ini menjadi bukti nyata terjadinya akulturasi budaya yang harmonis di sub area selatan Tulungagung.
Editor : Natasha Eka Safrina