Eksplorasi Gua Pasir Tulungagung: Meniti Jalur Batuan Terjal Berlatar Sunset di Cagar Budaya Purbakala

Natasha Eka Safrina • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 21:50 WIB
Situs purbakala Gua Pasir Tulungagung di Desa Junjung tawarkan eksotisme ukiran batu kuno dan jalur terjal tebing berlatar sunset.
Situs purbakala Gua Pasir Tulungagung di Desa Junjung tawarkan eksotisme ukiran batu kuno dan jalur terjal tebing berlatar sunset.

 

TULUNGAGUNG - Kawasan cagar budaya Gua Pasir Tulungagung menyuguhkan perpaduan wisata sejarah purbakala yang menantang sekaligus panorama matahari terbenam yang memukau. Lokasi peninggalan purbakala ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para pencinta sejarah dan petualang. Akses menuju ke objek wisata religi ini mengharuskan pengunjung melintasi jalur perbukitan yang cukup terjal.

Kondisi fisik tempat bersejarah ini berada di wilayah perbukitan selatan yang dipenuhi oleh pepohonan rindang. Berdasarkan penelusuran langsung di lapangan, kompleks Gua Pasir Tulungagung memiliki karakteristik trek yang didominasi batuan besar. Untuk mencapai mulut gua utama, para wisatawan harus mempersiapkan kondisi fisik yang prima demi meniti tangga alam.

Secara administratif, situs bersejarah Gua Pasir Tulungagung ini terletak di area Dusun Pasir, Desa Junjung, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Jarak situs ini dari arah pusat perkotaan terhitung tidak terlalu jauh dan mudah dijangkau menggunakan kendaraan pribadi. Pihak pengelola setempat telah menyediakan fasilitas penunjang bagi wisatawan yang datang berkunjung ke lokasi cagar budaya.

Baca Juga: Misteri Gua Pasir Tulungagung: Tempat Tapabrata Ratu Gayatri Majapahit dan Jejak Sejarah Sungai Brantas

Rute Perjalanan Menuju Lokasi dari Pusat Kota

Perjalanan menuju ke lokasi situs sejarah ini dapat dimulai dari titik pusat keramaian di seputaran Kota Tulungagung. Pengunjung dapat mengambil patokan awal dari area perempatan lampu merah Bambu Runcing yang berada di wilayah Jepun. Dari titik perempatan jepun tersebut, kendaraan dapat dipacu lurus menuju ke arah selatan dengan mengikuti jalan utama.

Perjalanan diteruskan hingga menemukan titik pertigaan besar yang berada di seputaran area Pasar Wajak. Setelah sampai di pertigaan tersebut, pengendara diharuskan berbelok ke arah selatan dan mengikuti papan petunjuk yang tersedia. Jalur ini akan langsung mengarahkan kendaraan masuk ke dalam wilayah administratif Desa Junjung.

Setelah memasuki jalan utama desa, pengendara akan menemukan sebuah pertigaan lagi lalu diarahkan berbelok ke selatan. Rute ini akan melewati sebuah jembatan beton yang menjadi penanda bahwa lokasi situs sudah semakin dekat. Di seputaran area jembatan, pihak pengelola telah memasang papan petunjuk arah fisik untuk memandu para wisatawan.

Baca Juga: Filosofi Kejawen tentang Nafsu dan Akhirat, Masyarakat Diingatkan Gunakan Akal Sehat

Fasilitas Area Parkir Luas dan Biaya Tiket Masuk

Setibanya di lokasi akhir, pengunjung akan langsung diarahkan menuju ke area tempat penitipan kendaraan yang telah disediakan. Kawasan lahan parkir di situs ini tergolong sangat luas dan mampu menampung puluhan kendaraan roda dua. Biaya operasional untuk penitipan kendaraan roda dua di lokasi ini hanya dikenakan tarif sebesar Rp2.000 saja.

Sementara itu, untuk biaya tiket masuk ke dalam kawasan objek wisata purbakala ini tidak dipungut biaya alias gratis. Setelah memarkirkan kendaraan, pengunjung dapat langsung berjalan kaki memasuki kawasan inti dari pelataran purbakala tersebut. Suasana di dalam area situs terasa sangat lapang karena keberadaan fasilitas lapangan hijau yang berukuran cukup luas.

Pada area dasar sebelum naik ke perbukitan, terdapat sebuah bangunan makam kuno yang dirawat dengan baik. Kompleks makam ini menjadi pembuka dari deretan peninggalan purbakala yang tersebar di sepanjang lereng bukit. Atmosfer udara di sekitar titik awal masuk ini terasa sangat sejuk dan rindang karena banyaknya vegetasi pohon.

Jejak Ukiran Batu Zaman Dulu dan Susunan Candi

Sebelum melangkah naik menuju ke objek utama, pengunjung dapat menyaksikan berbagai fragmen batuan purbakala di area bawah. Di beberapa sudut lapangan, terdapat bongkahan batu besar yang memuat bekas pahatan kuno hasil karya masa lampau. Ukiran-ukiran zaman dulu tersebut terlihat dipahat pada permukaan batu monolit meskipun kondisinya saat ini sudah agak memudar.

Kondisi batuan purbakala di area dalam ini menyuguhkan visualisasi yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan area pintu masuk. Suasana di sekitar bongkahan batu berukir ini terasa lebih dingin dan hening karena posisinya yang ternaungi pepohonan. Selain ukiran batu, di sekitar jalur ini juga dijumpai sisa-sisa reruntuhan susunan material batu yang menyerupai struktur candi.

Struktur kuno tersebut berwujud tatanan batu bata berukuran besar yang tersusun rapi di beberapa titik tanah. Fragmen susunan candi ini menjadi bukti otentik bahwa kawasan perbukitan ini merupakan kompleks keagamaan yang penting pada masa klasik. Keberadaan sisa bangunan suci ini letaknya tersebar secara acak di antara semak belukar di lereng gunung.

Baca Juga: Filosofi Jawa tentang Nafsu dan Akhirat, Pesan agar Bangsa Indonesia Tidak Menjadi Bodoh

Meniti Celah Batuan Terjal Menuju Puncak Gua

Tantangan sesungguhnya dari kegiatan eksplorasi ini adalah saat pengunjung mulai bergerak naik menuju ke letak gua. Posisinya bangunan gua buatan tersebut berada di bagian atas tebing batu yang memiliki tingkat kecuraman sangat tinggi. Akses jalan untuk menuju ke atas mengharuskan pengunjung berjalan kaki melintasi celah-celah sempit di antara batuan raksasa.

Kontur jalur setapak ini sangat terjal sehingga memaksa pengunjung untuk melangkah dengan ekstra hati-hati selama pendakian. Pijakan kaki harus bertumpu kuat pada bongkahan batu alam agar tidak tergelincir jatuh ke arah tebing bawah. Setelah melewati perjuangan meniti celah batu yang curam, pengunjung akhirnya akan sampai di pelataran atas mulut gua.

Rasa lelah setelah menempuh perjalanan menanjak akan langsung terbayar lunas ketika sampai di titik pemberhentian atas. Dari teras depan gua yang tinggi ini, tersaji keindahan pemandangan bentang alam wilayah Tulungagung dari ketinggian. Moment terbaik untuk mengunjungi tempat ini adalah saat sore hari karena letak gua menghadap pas ke arah pemandangan matahari terbenam (sunset).

Editor : Natasha Eka Safrina
Gua Pasir Tulungagung rute Gua Pasir Dandy Setyawan desa junjung Wisata Sejarah Tulungagung