Sejarah Pabrik Rokok Reco Pentung Tulungagung: Imperium Kretek Sumiran Karsodiwiryo yang Kini Tinggal Kenangan

Natasha Eka Safrina • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 21:51 WIB
Sejarah kejatuhan pabrik rokok Reco Pentung Tulungagung milik Sumiran Karsodiwiryo diungkap. Simak fakta manajemen dan bantahan mitos Nyi Roro Kidul.
Sejarah kejatuhan pabrik rokok Reco Pentung Tulungagung milik Sumiran Karsodiwiryo diungkap. Simak fakta manajemen dan bantahan mitos Nyi Roro Kidul.

 

TULUNGAGUNG - Perjalanan sejarah pabrik rokok Reco Pentung Tulungagung menjadi cerminan nyata dari pasang surut industri kretek lokal yang pernah merajai perekonomian di wilayah Jawa Timur Selatan. Imperium bisnis yang dibangun oleh maestro kretek legendaris, Sumiran Karsodiwiryo, kini menyisakan puing-puing bangunan tua yang sarat akan nilai sejarah. Dari sebuah usaha linting rumahan yang sangat bersahaja, perusahaan ini bertransformasi menjadi salah satu penyokong utama bagi hajat hidup ribuan buruh pabrik di masanya.

Kisah legendaris Pabrik Rokok Reco Pentung Tulungagung ini bermula dari kelahiran Sumiran Karsodiwiryo pada tanggal 9 September 1921 di sebuah desa kecil di Tulungagung. Sumiran lahir sebagai putra sulung dari pasangan Kars Guno dan Tukinem, sebuah keluarga kelas pekerja yang hidup dalam kondisi serba kekurangan. Ayahnya berprofesi sebagai buruh lapangan serabutan, mulai dari penggali tanah hingga pemasang tiang listrik di bawah terik matahari.

Lingkungan yang keras membentuk karakter Sumiran menjadi pribadi yang sangat tangguh dan akrab dengan dunia kerja keras sejak usia 6 tahun. Pengalaman pahit di masa kecil, termasuk insiden tercebur ke dalam sumur saat bekerja menimba air sebagai pembantu, justru menempa mentalnya. Latar belakang inilah yang kemudian menjadi modal spiritual terbesar bagi Sumiran saat mulai merintis bisnis Pabrik Rokok Reco Pentung Tulungagung pasca-masa kemerdekaan.

Baca Juga: Eksplorasi Gua Pasir Tulungagung: Meniti Jalur Batuan Terjal Berlatar Sunset di Cagar Budaya Purbakala

Awal Mula Kretek Klobot dan Filosofi Perlawanan Reco Pentung

Langkah awal Sumiran di dunia industri tembakau dimulai pada bulan Mei 1946 dengan mendirikan usaha rokok kretek klobot rumahan. Proses produksi dilakukan secara manual di mana Sumiran bertugas meracik cengkeh dan tembakau, sementara istrinya, Supatmi, melinting dengan tangan. Produk perdana hasil racikan mandiri tersebut diberi nama Cap Ikan Dorang dan dipasarkan sendiri oleh Sumiran dari pasar ke pasar.

Memasuki tahun 1948, agresi militer Belanda membuat situasi keamanan di wilayah Kabupaten Tulungagung menjadi porak-poranda dan tidak kondusif. Salah satu dampak dari pendudukan kembali oleh pasukan penjajah tersebut adalah dirubuhkannya sebuah patung batu ikonik bernama Reco Pentung di perbatasan kota. Peristiwa perusakan simbol daerah ini justru memantik api semangat nasionalisme di dalam dada Sumiran untuk melakukan sebuah perlawanan simbolis.

Ketika situasi keamanan mulai berangsur aman pada awal tahun 1949, Sumiran secara resmi meluncurkan sebuah merek dagang baru dinamakan Reco Pentung. Nama tersebut dipilih sebagai bentuk penghormatan sekaligus simbol kebangkitan atas ikon kota yang sempat dihancurkan oleh pihak tentara kolonial. Pada masa awal operasionalnya, pabrik rokok skala rumahan ini hanya didukung oleh staf pekerja berkisar antara 5 hingga 20 orang saja.

Masa Keemasan Industri dan Ekspansi ke Sektor Pariwisata Pantai Popoh

Dalam waktu singkat, produk kretek aromatik buatan Sumiran mendapat sambutan yang sangat luar biasa dari kalangan pencinta rokok tradisional. Karakter rasa rokoknya yang kuat dan wangi membuat permintaan pasar melonjak drastis hingga memaksa pabrik untuk merekrut ribuan tenaga kerja baru. Pertumbuhan pesat ini secara langsung berhasil mengubah konstelasi perekonomian daerah Tulungagung menjadi sangat hidup berkat kepulan asap industri lokal.

Memasuki dekade 1980-an, setelah sempat terpukul akibat krisis politik nasional pasca-peristiwa G30S PKI tahun 1965, perusahaan ini melakukan manuver besar. Pada tahun 1982, Sumiran menghidupkan kembali merek Reco Pentung dengan standar kualitas yang jauh lebih premium dan kemasan modern. Langkah berani ini membuahkan hasil luar biasa dengan melonjaknya jumlah karyawan hingga mencapai 4.500 orang pada tahun 1991.

Baca Juga: Misteri Gua Pasir Tulungagung: Tempat Tapabrata Ratu Gayatri Majapahit dan Jejak Sejarah Sungai Brantas

Pabrik utamanya yang berdiri megah di Jalan Mayor Sujadi Nomor 165 Tulungagung menjadi bukti fisik kejayaan ekonomi lokal pada era tersebut. Sumiran juga memperluas varian produknya ke segmen rokok filter melalui lini merek seperti Minah, Rejo Pentung Wasiat, dan Rejo Pentung Jaya. Ekspansi produk ini dipersiapkan secara matang untuk menantang dominasi para raksasa kretek nasional asal Kudus dan Kediri.

Merek Rokok Produksi Sumiran Jenis Produk Kompetitor Utama
Cap Ikan Dorang Kretek Klobot Manual Industri Tembakau Rumahan
Reco Pentung / Rejo Pentung Sigaret Kretek Tangan Gudang Garam, Jarum, Bentul
Minah / Rejo Pentung Wasiat Sigaret Kretek Tangan / Filter Sampoerna, Nojorono

Keberhasilan di industri tembakau membawa Sumiran menduduki posisi strategis sebagai Ketua Gapero (Gabungan Pengusaha Rokok Indonesia) wilayah Kediri pada tahun 1952. Tidak berhenti di situ, ia juga melebarkan sayap bisnisnya ke sektor pariwisata melalui bendera PT Sutera Bina Samudra. Perusahaan ini memegang peran krusial dalam membuka dan mengembangkan potensi kawasan pariwisata Pantai Popoh Tulungagung sejak tahun 1972.

Terpaan Globalisasi dan Berhentinya Roda Produksi Tahun 1995

Memasuki era modern di dekade 1990-an, lanskap kompetisi bisnis rokok nasional mengalami pergeseran ke arah kapitalisasi modal dan mekanisasi. Perusahaan-perusahaan besar dengan dukungan modal triliunan rupiah dan mesin teknologi mutakhir mulai menguasai jaringan distribusi pasar dari hulu ke hilir. Kondisi ini berbanding terbalik dengan Reco Pentung yang masih mempertahankan metode produksi semi-manual demi menyerap tenaga kerja lokal.

Faktor eksternal seperti pembengkakan biaya produksi akibat kenaikan tarif cukai tembakau semakin mempersempit ruang gerak keuangan dari perusahaan. Akibat tekanan pasar yang kian kompetitif, aktivitas produksi di Pabrik Rokok Reco Pentung terpaksa dihentikan sepenuhnya sekitar tahun 1995. Penutupan total ini berujung pada pemutusan hubungan kerja ribuan buruh dan memicu sengketa hukum terkait masalah pembayaran uang pesangon.

Seluruh aset berharga milik perusahaan, termasuk bangunan fisik pabrik utama, akhirnya disita dan dilelang secara resmi melalui mekanisme putusan pengadilan. Sebelum mengembuskan napas terakhir, Sumiran sebenarnya telah menunjuk anak laki-laki tertuanya, Ismanu Sumiran, untuk mengelola kelangsungan roda bisnis keluarga. Ismanu yang lahir pada 3 Mei 1949 mencoba melakukan reformasi manajerial melalui mekanisasi ringan, namun tetap gagal membendung arus globalisasi.

Bantahan Mitos Ratu Kidul dan Warisan Abadi Pioniir Ekonomi

Seiring dengan meroketnya pamor bisnis keluarga Karsodiwiryo, muncul berbagai desas-desus mistis yang berkembang di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Kedekatan lokasi proyek pariwisata Pantai Popoh dengan tempat yang kerap digunakan oleh Sumiran untuk menyendiri memicu lahirnya sebuah mitos gaib. Sebagian warga mempercayai bahwa kekayaan melimpah yang diperoleh pemilik Reco Pentung berasal dari hasil pesugihan Penguasa Laut Selatan, Nyi Roro Kidul.

Asumsi mistis tersebut dibantah secara tegas oleh pihak keluarga besar, termasuk oleh salah satu cucu kandung Sumiran, Deni Darko. Pihak keluarga memberikan klarifikasi bahwa Sumiran adalah seorang pemeluk agama Islam yang taat dalam menjalankan kewajiban ibadah di masa tuanya. Menurut penuturan sang cucu, kakeknya sama sekali tidak pernah terlibat dalam praktik ritual pesugihan hitam yang dituduhkan.

Keluarga menegaskan bahwa Sumiran hanyalah seorang pencinta kebudayaan Jawa yang memiliki rasa hormat tinggi terhadap kelestarian alam dan warisan tradisi. Penyediaan tempat di kawasan Pantai Popoh murni ditujukan guna memfasilitasi warga masyarakat yang memang masih memegang teguh kepercayaan tradisional. Mitos tersebut dinilai sebagai cara pandang masyarakat dalam menerjemahkan kesuksesan luar biasa dari seorang anak buruh kasar.

Kini, sisa-sisa kejayaan imperium bisnis rokok kretek pertama di Tulungagung tersebut hanya menyisakan dinding-dinding bisu yang mulai rapuh. Sebagian dari kompleks bangunan fisik pabrik kini telah berpindah kepemilikan dan sebagian lainnya dibiarkan terbengkalai dimakan oleh waktu. Walaupun demikian, kontribusi besar Sumiran Karsodiwiryo dalam merintis sistem ekonomi kerakyatan akan selalu melekat erat dalam ingatan kolektif warga Tulungagung.

Editor : Natasha Eka Safrina
Sumiran Karsodiwiryo Pabrik Rokok Reco Pentung Tulungagung sejarah kretek Tulungagung Deni Darko pantai popoh