Rahasia Reco Sewu Tulungagung: Makam Megah Pendiri Rokok Reco Pentung yang Dipenuhi Ribuan Arca

Natasha Eka Safrina • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 21:55 WIB
Kompleks makam Reco Sewu Tulungagung tempat pendiri rokok Reco Pentung diungkap. Simak fakta ribuan arca Dwarapala dan ritual seribu paranormal.
Kompleks makam Reco Sewu Tulungagung tempat pendiri rokok Reco Pentung diungkap. Simak fakta ribuan arca Dwarapala dan ritual seribu paranormal.

 

TULUNGAGUNG - Kompleks makam Reco Sewu Tulungagung yang menjadi tempat peristirahatan terakhir pendiri perusahaan rokok Reco Pentung menyuguhkan keunikan arsitektur spiritual berbalut tradisi Kejawen yang kental. Situs yang berlokasi di kawasan pesisir ini dibangun sebagai bukti kejayaan sang pengusaha kretek pada masanya. Ribuan patung penjaga berdiri mengitari kawasan makam pribadi yang kini juga menjadi destinasi ritual bagi sebagian masyarakat.

Kawasan wisata religi Reco Sewu Tulungagung ini secara geografis terletak di dekat Pantai Popoh, Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Tempat bersejarah ini menjadi saksi bisu penghormatan terhadap mendiang Haji Sumiran Karsodiwiryo dan sang istri tercinta. Area makam ini dirancang dengan konsep arsitektur yang sangat unik dan sarat akan makna simbolis kebudayaan Jawa.

Destinasi Reco Sewu Tulungagung didirikan langsung atas prakarsa mendiang Sumiran Karsodiwiryo semasa beliau masih hidup memimpin perusahaan rokoknya. Roda perekonomian daerah sempat meroket drastis ketika produk rokok kreteknya merajai seluruh pangsa pasar di kawasan Jawa Timur. Keberadaan bangunan megah ini menjadi legasi monumental yang menyatukan unsur religi, budaya nenek moyang, serta sejarah kejayaan ekonomi.

Baca Juga: Sejarah Pabrik Rokok Reco Pentung Tulungagung: Imperium Kretek Sumiran Karsodiwiryo yang Kini Tinggal Kenangan

Kronologi Pembangunan Kompleks Makam

Proses pembangunan fisik kompleks makam pribadi ini memakan waktu yang cukup lama dan dilakukan secara bertahap. Berdasarkan catatan sejarah pengelola, peletakan batu pertama pembangunan kawasan ini dimulai pada tahun 1990 silam. Seluruh pengerjaan arsitektur dan penataan lahan perbukitan tersebut memerlukan waktu pengerjaan kurang lebih selama dua tahun.

Pada tahun 1992, struktur utama bangunan megah di dekat pesisir laut selatan ini dilaporkan sudah selesai dikerjakan. Setelah seluruh fasilitas pendukung rampung disiapkan, acara peresmian akbar kompleks ini akhirnya digelar secara resmi pada tahun 1995. Bangunan ini awalnya ditujukan khusus sebagai area pemakaman keluarga internal sang pemilik modal.

Sang pelopor industri kretek lokal, Haji Sumiran Karsodiwiryo, wafat pada tanggal 21 Februari 1997 karena faktor usia yang sudah sepuh. Jenazah sang pengusaha kemudian dikebumikan di area inti kompleks Reco Sewu di balik arca penjaga raksasa. Istri beliau menyusul wafat beberapa tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 15 Juni 2013, dan dimakamkan berdampingan.

Fakta Unik Angka Sembilan dan Ribuan Arca Dwarapala

Keunikan utama dari kompleks makam ini terletak pada keberadaan ribuan patung batu yang berjejer memenuhi seluruh area pagar. Masyarakat awam sering menyebut kawasan ini dipenuhi sekitar 3.000 patung karena jumlahnya yang sangat banyak. Namun, berdasarkan data riil dari pihak perawat situs, jumlah pasti arca di lokasi ini adalah 2.898 atau 2.899 buah.

Seluruh koleksi patung batu andesit buatan baru tersebut berwujud sosok Arca Dwarapala yang berfungsi sebagai penjaga pintu gerbang suci. Menariknya, jika jumlah ribuan arca tersebut dihitung secara matematis dan dibagi, hasilnya akan selalu merujuk pada angka sembilan. Angka sembilan ini sengaja diadopsi oleh sang pendiri untuk menggambarkan filosofi suci dari jumlah Wali Songo.

Penerapan filosofi angka sembilan ini juga diimplementasikan langsung pada jumlah anak tangga atau trap menuju ke makam utama. Pengunjung harus meniti tepat sebanyak 9 undakan tangga dari area pelataran bawah untuk mencapai titik nisan teratas. Selain itu, ukuran terkecil dari relief arca di sini adalah 9 sentimeter, sedangkan patung Dwarapala terbesar mencapai tinggi 9 meter.

Baca Juga: Eksplorasi Gua Pasir Tulungagung: Meniti Jalur Batuan Terjal Berlatar Sunset di Cagar Budaya Purbakala

Ritual Peresmian Megah Melibatkan Seribu Paranormal

Acara peresmian kompleks makam pada tahun 1995 silam berlangsung sangat meriah dan sarat akan prosesi adat leluhur Jawa. Menurut penuturan petugas kebersihan setempat, pemilik perusahaan mengundang kurang lebih sekitar 1.000 orang pintar atau paranormal. Prosesi ritual doa bersama tersebut tidak dilakukan sekaligus, melainkan digelar secara bertahap demi menjaga kesucian lokasi.

Para tokoh spiritual yang datang dari berbagai daerah diwajibkan mengenakan pakaian adat tradisi Jawa lengkap selama ritual. Hajatan besar ini berlangsung dalam kurun waktu yang sangat lama, yaitu dilaksanakan hampir selama satu bulan penuh. Pihak keluarga juga menyelenggarakan pertunjukan seni tradisional secara besar-besaran untuk menghibur masyarakat sekitar pesisir Pantai Popoh.

Pementasan kesenian tradisional tersebut didominasi oleh pertunjukan kesenian rakyat berupa kuda lumping sebanyak 8 unit atau 8 macam kelompok. Sebagai pelengkap ritual penutup yang sakral, pementasan kesembilan menghadirkan kesenian reog berupa dadak merak berukuran besar. Kombinasi delapan kelompok kuda lumping dan satu dadak merak ini kembali menggenapi simbol suci angka sembilan.

Misteri Paleman Nyai Roro Kidul dan Punden Bambu Kuning

Selain berfungsi sebagai makam pribadi, kompleks Reco Sewu juga menyediakan tempat khusus yang dialokasikan bagi masyarakat umum. Di sebelah kanan dari arah bawah pelataran, berdiri sebuah bangunan berwarna biru yang dikenal sebagai Paleman Nyai Roro Kidul. Tempat ini didirikan sebagai wadah bagi warga yang memegang teguh sistem kepercayaan Kapitayan maupun aliran Kejawen.

Pada masa awal berdirinya kompleks ini, tingkat kunjungan masyarakat umum untuk melakukan ritual spiritual tergolong sangat ramai. Sekitar 70 persen dari total pengunjung yang datang dipastikan memilih menuju ke area gedung Paleman Nyai Roro Kidul tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu, peta kunjungan ritual mengalami pergeseran orientasi tempat secara signifikan di kawasan pantai.

Saat ini, sekitar 60 persen pengunjung beralih melakukan ritual langsung ke area pesisir, tepatnya di Pesanggrahan Madya Nirwana. Di area Pesanggrahan tersebut, terdapat sebuah punden desa berwujud gundukan tanah yang terletak persis di bawah pohon bambu kuning. Keunikan punden ini adalah tanah hitamnya yang sangat keras dan berat akan tumbuh kembali secara misterius jika diambil.

Baca Juga: Misteri Gua Pasir Tulungagung: Tempat Tapabrata Ratu Gayatri Majapahit dan Jejak Sejarah Sungai Brantas

Fasilitas Cuci Pasuryan untuk Khasiat Awet Muda

Kompleks makam ini juga dilengkapi dengan fasilitas bangunan khusus keluarga yang dinamakan sebagai area Paseban pertemuan. Ruangan Paseban ini didesain sebagai tempat berkumpulnya perwakilan keluarga besar Sumiran Karsodiwiryo saat mengadakan agenda ziarah bersama. Tidak jauh dari gedung Paseban, terdapat ornamen berupa empat patung naga yang dipasang di setiap sudut bangunan.

Di sekitar area pelataran tengah, terdapat fasilitas saluran air unik yang diberi nama sebagai tempat Cuci Pasuryan. Fasilitas ini dilengkapi dengan sebuah papan prasasti yang memuat tulisan mengenai filosofi penting dari air sebagai sumber kehidupan. Air digambarkan berfungsi untuk membersihkan dan menyegarkan seluruh makhluk hidup tanpa membeda-bedakan serta tanpa pandang bulu.

Saluran air Cuci Pasuryan ini terhubung langsung ke sumber mata air alami melalui instalasi pipa bawah tanah. Hingga saat ini, sistem pengairan dan gayung kayu atau siwur di tempat ini masih berfungsi dengan sangat baik. Banyak pengunjung luar daerah memanfaatkan air ini untuk membasuh muka karena dipercaya memiliki khasiat mistis membuat wajah awet muda.

Warisan Budaya Kejawen Sang Punggawa Kretek Lokal

Meskipun kompleks makam dipenuhi oleh ribuan arca Dwarapala Hindu-Buddha, Haji Sumiran Karsodiwiryo dipastikan memeluk agama Islam yang taat. Penempatan ribuan patung tersebut murni didasari atas kecintaan mendalam beliau terhadap nilai-nilai kelestarian adat dan budaya nenek moyang. Pihak keluarga menegaskan bahwa bangunan ini merupakan bentuk nyata aktivitas uri-uri budaya Jawa agar tidak punah.

Petugas kebersihan situs menyatakan bahwa nuansa magis dan aura medis di area gerbang depan memang terasa sangat kuat. Keanehan-keanehan metafisika di sekitar lokasi makam ini seringkali dirasakan secara langsung oleh anak-anak kecil yang jiwanya masih bersih. Kendati demikian, pihak pengelola tetap rutin menjaga kebersihan area agar suasana makam tetap terasa teduh bagi peziarah.

Sebelum masa pandemi, kompleks makam pribadi ini selalu dipadati oleh rombongan peziarah yang hendak melakukan ritual ngalap berkah. Mayoritas pengunjung memilih hari-hari baik kalender Jawa seperti malam Jumat Legi, Jumat Kliwon, dan Selasa Kliwon untuk berdoa. Warisan arsitektur ini menjadi pengingat penting mengenai pentingnya tatanan cara hidup masyarakat Jawa dalam memelihara keselarasan dengan alam.

Editor : Natasha Eka Safrina
Rokok Reco Pentung Reco Sewu Tulungagung makam Sumiran Karsodiwiryo arca Dwarapala Pantai Popoh Besuki