RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Jenang Jelita, makanan khas Kabupaten Tulungagung yang juga dikenal masyarakat sebagai jenang sabun, kini menghadapi tantangan berat akibat kondisi ekonomi yang belum stabil. Pemilik usaha mengungkapkan omzet penjualan bahkan mengalami penurunan hingga sekitar 50 persen dibanding beberapa tahun sebelumnya.
Meski demikian, usaha kuliner tradisional yang telah bertahan selama puluhan tahun itu tetap berupaya menjaga kualitas dan mempertahankan cita rasa khasnya.
Owner Jenang Jelita, Ibu Sri Wanudinarni, mengatakan dirinya merupakan generasi ketiga penerus usaha keluarga yang dirintis sejak puluhan tahun lalu.
Berawal dari Kreasi Mbah Haji Askandar
Menurut Sri, pendiri pertama Jenang Jelita adalah kakeknya, Mbah Haji Askandar. Awalnya, jenang tersebut hanya dibuat sebagai makanan rumahan.
Berbeda dengan jenang pada umumnya yang menggunakan gula merah, sang nenek mencoba berinovasi dengan memakai gula putih, susu, dan cokelat.
Hasilnya ternyata disukai oleh keluarga dan tetangga. Dari situlah pesanan mulai berdatangan, terutama saat Lebaran dan acara hajatan.
"Saudara dan tetangga banyak yang suka. Lama-lama mulai terkenal dan banyak yang meminta untuk dijual," ujarnya.
Asal-Usul Nama Jenang Sabun dan Jenang Jelita
Di kalangan masyarakat, makanan ini lebih populer dengan sebutan jenang sabun. Namun ternyata nama resmi produk tersebut adalah Jenang Jelita.
Sri menjelaskan, nama Jelita merupakan singkatan dari beberapa kata.
Huruf "J" berarti jenang, "Li" berarti licin karena teksturnya yang lembut saat dimakan, sedangkan "Ta" merujuk pada Tulungagung.
Sementara sebutan jenang sabun berasal dari nama seseorang yang dekat dengan keluarga pendiri.
Menurut cerita yang diwariskan turun-temurun, neneknya memiliki seseorang bernama Mbah Saibun. Anak-anak kecil kala itu kesulitan mengucapkan nama tersebut hingga lama-kelamaan berubah menjadi "Mbah Sabun".
Dari situlah masyarakat kemudian mengenal produk ini sebagai jenang sabun.
Dijual Keliling Hingga Kampus
Perjalanan bisnis Jenang Jelita juga tidak mudah.
Awalnya, keluarga Sri memiliki usaha batik. Namun saat industri batik mulai mengalami penurunan pada era 1970-an hingga 1980-an akibat persaingan dengan produk konveksi, keluarga kemudian fokus mengembangkan usaha jenang.
Ayah Sri memasarkan produk tersebut dengan cara dipikul dan dijual berkeliling.
Salah satu strategi yang dilakukan adalah menjajakan jenang ke kawasan kampus.
Menurut Sri, mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah membuat promosi produk berlangsung lebih cepat melalui cerita dari mulut ke mulut.
Usaha tersebut kemudian terus berkembang dan dikenal hingga sekarang.
Berinovasi dengan Aneka Rasa Buah
Saat meneruskan usaha keluarga sekitar 20 tahun lalu, Sri mulai melakukan sejumlah inovasi.
Jika sebelumnya hanya tersedia varian Jenang Jelita dan jenang manten, kini hadir berbagai rasa baru seperti tape, durian, nangka, sirsak, hingga nanas.
Ia menegaskan seluruh varian menggunakan bahan alami dan tidak memakai perasa tambahan.
Tujuannya agar konsumen tetap dapat menikmati jajanan tradisional yang sehat.
"Saya maunya yang alami agar orang yang makan tetap sehat," katanya.
Kendala Daya Tahan Produk
Meski memiliki banyak pelanggan, Jenang Jelita menghadapi kendala utama berupa masa simpan produk yang relatif singkat.
Tanpa bahan pengawet, jenang hanya mampu bertahan sekitar satu minggu hingga 10 hari.
Untuk mengatasi hal tersebut, Sri mulai mencoba metode pembungkusan menggunakan daun pisang dan sistem vakum.
Menurutnya, penggunaan daun pisang justru membuat jenang lebih tahan lama, bahkan bisa mencapai hampir satu bulan.
Selain itu, aroma daun pisang juga memberikan cita rasa yang lebih khas dan tradisional.
Pernah Dipesan hingga Luar Negeri
Produk Jenang Jelita ternyata tidak hanya diminati masyarakat lokal.
Sri mengaku beberapa kali menerima permintaan pengiriman ke luar negeri, termasuk Texas, Swiss, hingga Yunani.
Banyak konsumen asing yang awalnya penasaran dengan rasa jenang, kemudian kembali melakukan pemesanan setelah mencobanya.
Meski demikian, keterbatasan daya tahan produk masih menjadi tantangan utama untuk pengembangan pasar ekspor.
Omzet Turun Drastis
Di tengah upaya mempertahankan bisnis, kondisi ekonomi saat ini justru menjadi tantangan terbesar.
Sri mengungkapkan penjualan mengalami penurunan cukup signifikan.
Jika sebelumnya momen liburan dan Lebaran selalu ramai, kini permintaan cenderung menurun.
Bahkan, omzet usaha disebut turun hingga sekitar 50 persen.
Penurunan daya beli masyarakat juga membuat jumlah pengiriman ke toko-toko oleh-oleh ikut dikurangi untuk menghindari produk retur.
"Kalau dulu satu toko bisa sampai lebih dari 40, sekarang sekitar 15 saja karena khawatir banyak yang kembali," ujarnya.
Ia bahkan menilai kondisi saat ini lebih berat dibanding masa pandemi Covid-19.
Berharap Generasi Muda Mau Melanjutkan
Meski menghadapi berbagai tantangan, Sri tetap optimistis Jenang Jelita dapat terus bertahan.
Ia telah mulai mengajarkan anak-anaknya mengenai cara membuat, berdagang, hingga mengelola bisnis keluarga.
Sri juga berharap generasi muda tidak malu meneruskan usaha orang tua.
Menurutnya, perjuangan membangun sebuah usaha membutuhkan pengorbanan yang sangat besar.
Ia berharap Jenang Jelita semakin dikenal luas, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di mancanegara, sekaligus tetap menjadi identitas kuliner khas Tulungagung.
Editor : Ingge Nayla Ayu KarinaSumber : Radar Tulungagung TV, You Tube, DIOLAH