RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Di tengah cuaca hujan yang mengguyur Tulungagung, semangkuk soto hangat menjadi pilihan yang tepat untuk mengusir dingin. Salah satu kuliner yang masih bertahan dan menjadi favorit masyarakat adalah Soto Mbah Giso, warung legendaris yang telah beroperasi selama sekitar 40 tahun.
Kuliner ini dikenal karena memiliki cita rasa berbeda dibanding soto dari daerah lain di Jawa Timur. Kuahnya menggunakan santan sehingga menghasilkan rasa gurih yang khas, namun tetap terasa ringan saat disantap.
Dengan harga yang relatif murah, Soto Mbah Giso masih menjadi tujuan para pecinta kuliner lokal maupun wisatawan yang datang ke Tulungagung.
Berawal dari Jualan di Pinggir Jalan
Penerus usaha Soto Mbah Giso, Sutini, mengungkapkan bahwa warung tersebut awalnya berjualan di pinggir jalan raya sebelum akhirnya menetap di lokasi saat ini.
Usaha keluarga tersebut kini sudah memasuki generasi kedua dan tetap mempertahankan resep yang diwariskan oleh pendirinya.
"Kalau di sini sudah sekitar 20 tahunan. Sebelumnya jualan di jalan raya," ujar Sutini.
Warung ini buka setiap hari mulai pukul 16.30 WIB hingga sekitar pukul 21.00 WIB.
Ciri Khas Soto Tulungagung
Salah satu daya tarik utama Soto Mbah Giso adalah kuah santannya.
Berbeda dengan soto Lamongan yang cenderung bening atau soto dari wilayah Mataraman lainnya, soto khas Tulungagung memiliki kuah berwarna kuning pucat dengan tekstur sedikit keruh akibat penggunaan santan.
Meski menggunakan santan, rasa kuahnya tidak terlalu berat.
Perpaduan kaldu ayam dan santan justru menghasilkan sensasi gurih yang segar.
Dalam satu porsi, soto disajikan bersama nasi, suwiran ayam, kol, serta tauge pendek yang memberikan tekstur renyah.
Bagi pencinta rasa pedas dan segar, tambahan sambal serta perasan jeruk dapat membuat cita rasa soto semakin nikmat.
Menghabiskan Puluhan Ekor Ayam Setiap Hari
Sutini menyebut warungnya menggunakan ayam petelur sebagai bahan utama.
Jenis ayam ini dipilih karena memiliki tekstur yang lebih kenyal dibanding ayam biasa.
Selain daging ayam, pelanggan juga dapat menambahkan berbagai pelengkap seperti jeroan, ceker, kepala ayam, dan kerongkongan.
Dalam sehari, Soto Mbah Giso mampu menghabiskan sekitar 30 hingga 35 ekor ayam.
Jumlah tersebut menunjukkan bahwa kuliner tradisional ini masih memiliki banyak penggemar.
Sate Jadi Pelengkap Favorit
Selain soto, pelanggan juga kerap memesan sate sebagai menu pendamping.
Sate tersebut memiliki tekstur kenyal dan disajikan dengan bumbu kacang yang gurih manis.
Kombinasi antara soto santan dan sate menjadi salah satu menu favorit pelanggan.
Harga satu porsi sate dibanderol sekitar Rp10 ribu.
Sementara satu porsi soto dijual hanya Rp7 ribu, menjadikannya salah satu kuliner legendaris dengan harga yang masih sangat terjangkau.
Tetap Bertahan Tanpa Layanan Online
Meski telah dikenal luas, Soto Mbah Giso hingga kini belum melayani pemesanan secara daring.
Pengelola mengaku lebih memilih fokus melayani pelanggan yang datang langsung ke lokasi.
Saat cuaca hujan, jumlah pembeli memang mengalami penurunan.
Namun, pada hari-hari normal, warung ini hampir selalu ramai dan dagangannya habis terjual.
Usaha ini juga melibatkan sekitar tujuh orang pekerja yang sebagian besar masih memiliki hubungan keluarga.
Menjadi Identitas Kuliner Tulungagung
Keberadaan Soto Mbah Giso menjadi bukti bahwa kuliner tradisional masih mampu bertahan di tengah banyaknya makanan modern.
Cita rasa khas yang konsisten serta harga yang bersahabat membuat warung ini terus mendapat tempat di hati masyarakat.
Bagi wisatawan yang ingin mencicipi makanan khas Tulungagung, Soto Mbah Giso menjadi salah satu destinasi kuliner yang layak dikunjungi.
Terlebih saat musim hujan, menikmati semangkuk soto santan hangat di sore hari menjadi pengalaman kuliner yang sulit dilupakan.
Editor : Ingge Nayla Ayu KarinaSumber : billiejohnSidoarjo, You Tube, DIOLAH