Gunung Budek Tulungagung, Gunung Api Purba di Tengah Kota yang Punya Kisah Joko Budek

Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 18:20 WIB
Gunung Budek Tulungagung merupakan gunung api purba di tengah kota yang menyimpan kisah Joko Budek dan upaya pelestarian lingkungan. (Gemini AI)
Gunung Budek Tulungagung merupakan gunung api purba di tengah kota yang menyimpan kisah Joko Budek dan upaya pelestarian lingkungan. (Gemini AI)

TULUNGAGUNG - Gunung Budek Tulungagung menjadi salah satu tujuan para pecinta alam sekaligus kawasan yang menyimpan jejak sejarah dan budaya. Gunung api purba ini dikenal memiliki kaitan dengan cerita rakyat Joko Budek dan Roro Kembang Sore, serta dipercaya pernah menjadi tempat pertapaan tokoh-tokoh pada masa lalu.

Gunung Budek juga disebut sebagai salah satu situs gunung api purba yang terdaftar sebagai warisan geologi. Letaknya yang berada di tengah kota membuat kawasan ini memiliki posisi unik. Dari pusat kota, jaraknya disebut hanya sekitar 9 kilometer.

Agus Utomo, sejarawan sekaligus pelestari lingkungan dan budaya Gunung Budek, telah merawat kawasan tersebut sejak 2003. Selama puluhan tahun, ia menanam pohon sekaligus menjaga berbagai peninggalan dan cerita yang berkembang di kawasan tersebut.

Baca Juga: Rayakan Hari Pelanggan Nasional 2026, Adira Finance Hadirkan #TerimaKasihSahabat di Tulungagung

Jejak Gunung Api Purba dan Joko Budek

Menurut Agus, berdasarkan cerita yang disampaikan para peneliti geologi, Gunung Budek terbentuk sekitar 30 juta tahun lalu. Prosesnya berkaitan dengan patahan lempeng bumi di dasar laut selatan yang kemudian memicu jalur lava purba hingga membentuk bukit.

Pada masa megalitikum, masyarakat disebut telah membuat menhir di atas gunung. Batu tersebut kini dikenal sebagai Watu Joko Budek. Agus menjelaskan, bentuk menhir itu menggambarkan perwujudan manusia dan berkaitan dengan praktik pemujaan masyarakat Jawa pada masa tersebut.

Memasuki era Kerajaan Kediri, masyarakat di sekitar kawasan itu disebut telah mengenal agama Hindu dan Buddha. Gunung Budek kemudian dipercaya menjadi salah satu tempat bagi orang-orang tua untuk menepi dan menjalani pertapaan sebelum meninggal.

Baca Juga: Pawai Budaya Meriahkan Puncak PHBN Desa Penjor Tulungagung 2026, Lebih 20 RT Tampilkan Kreasi

Cerita Joko Budek muncul pada masa Majapahit. Dalam kisah yang disampaikan Agus, Joko Tawang pergi bertapa karena jatuh cinta kepada Roro Kembang Sore. Ia tidak berpamitan kepada ibunya, Mbok Rondo Dadapan.

Sang ibu kemudian mencari anaknya hingga menemukan Joko Tawang sedang bertapa di Gunung Budek. Karena salah memahami keadaan, Mbok Rondo mengeluarkan kalimat yang dalam cerita rakyat tersebut membuat Joko Budek berubah menjadi batu.

Pernah Jadi Titik Penting pada Masa Belanda

Jejak sejarah Gunung Budek tidak berhenti pada era kerajaan. Pada masa Belanda, kawasan puncak timur disebut pernah memiliki sebuah gardu yang dikenal masyarakat sebagai kelop.

Baca Juga: Sembahyang Ulam Bana di TITD Tjoe Tik Kiong Tulungagung, 3.000 Paket Sembako Disiapkan

Agus menyebut gardu tersebut berukuran sekitar 2 meter. Di bagian atasnya terdapat kaca atau cermin besar. Berdasarkan cerita yang ia dengar dari para sesepuh, cermin tersebut digunakan sebagai penanda apabila ada pesawat melintas.

Gardu itu juga dikaitkan dengan penentuan titik koordinat agraria di Tulungagung. Namun, bangunan tersebut kini sudah tidak ada.

Agus menilai Gunung Budek lebih tepat disebut sebagai kawasan wingit daripada angker. Ia juga menceritakan sejumlah pengalaman terkait penampakan dan kejadian yang dianggap tidak biasa selama menjaga kawasan tersebut.

Meski memiliki tebing curam, ia menyebut puluhan ribu pendaki telah datang sejak 2003 dan sejauh yang ia ketahui berangkat serta pulang dengan selamat.

Baca Juga: Dorong Minat Peneliti Muda, Tim Dosen UB Hadirkan Inovasi "BUSA-PLANT" di SMKN 1 Tulungagung

Puluhan Tahun Menanam Pohon

Salah satu fokus utama Agus adalah memulihkan kondisi lingkungan Gunung Budek. Ketika mulai masuk pada 2003, ia menyebut kondisi vegetasi kawasan tersebut sangat memprihatinkan. Tutupan tanaman diperkirakan hanya sekitar 10 persen dari luas lahan.

Kini, menurut Agus, tutupan lahan telah mencapai sekitar 90 persen. Sebagian besar bibit diperolehnya sendiri dan ditanam secara bertahap.

Pada periode 2006-2007, ia mendirikan pos kecil untuk menyimpan peralatan seperti cangkul dan perlengkapan menanam. Kemudian, sekitar dua tahun penanaman di kawasan puncak menghasilkan sekitar 500 batang pohon dengan tingkat pertumbuhan yang disebut mencapai 90 persen.

Agus mengatakan kegiatan tersebut dilakukan bukan untuk mencari keuntungan. Ia bahkan menyebut lebih dari 70 persen gajinya masih digunakan untuk kebutuhan Gunung Budek.

Baca Juga: Karnaval Ringinpitu Tulungagung Pecahkan Suasana, 42 Tim Karnaval Rayakan Hari Kemerdekaan Ke-81 RI

Baginya, keberadaan vegetasi bukan sekadar menjaga pemandangan. Tanaman juga berfungsi membantu menahan air dan mengurangi risiko longsor yang dapat mengancam jalan, sawah, irigasi, hingga keselamatan warga.

“Saya sadar bahwa saya ini bukan pemilik. Saya ini hanya orang yang sebatas nunut urip dan ngawulo di tempat ini,” kata Agus.

Ia berharap pemerintah dapat memberi perhatian terhadap upaya pelestarian Gunung Budek. Agus menegaskan dirinya tidak mencari pujian, tetapi ingin kawasan tersebut tetap terawat dan manfaatnya bisa dirasakan masyarakat.

Baca Juga: Sembahyang Ulam Bana di TITD Tjoe Tik Kiong Tulungagung, 3.000 Paket Sembako Disiapkan

Bagi Agus, menjaga Gunung Budek merupakan bentuk tanggung jawab terhadap alam, sejarah, budaya, dan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari
Sumber : Radar Tulungagung TV
Joko Budek tulungagung Gunung Budek agus utomo Gunung Budek Tulungagung