Sejarah Tulungagung: Jejak Medang, Panjalu hingga Majapahit yang Masih Terekam

Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 18:25 WIB
Sejarah Tulungagung menyimpan jejak Medang, Erlangga, Panjalu-Jenggala hingga Majapahit yang terekam dalam prasasti dan situs kuno. (Gemini AI)
Sejarah Tulungagung menyimpan jejak Medang, Erlangga, Panjalu-Jenggala hingga Majapahit yang terekam dalam prasasti dan situs kuno. (Gemini AI)

TULUNGAGUNG - Sejarah Tulungagung memiliki jejak panjang yang terhubung dengan sejumlah kerajaan besar di Jawa, mulai Medang, masa Erlangga, Panjalu-Jenggala hingga Majapahit. Berbagai prasasti, candi, dan situs kuno menjadi penanda bahwa wilayah di selatan Jawa Timur ini pernah memainkan peran penting dalam dinamika politik dan kehidupan masyarakat masa lampau.

Tulungagung dahulu dikenal dengan sejumlah nama, antara lain Nerawa atau Ngrawa, Lodoyong, dan Lawadan. Nama Nerawa berkaitan dengan kondisi wilayah yang sebagian berupa rawa luas.

Sementara itu, nama Tulungagung berasal dari bahasa Jawa Kawi. “Tulung” berarti pertolongan atau sumber air, sedangkan “agung” berarti besar.

Baca Juga: Karya Bhakti TNI di Manding Tulungagung Rampung Sepekan Lagi, Perbaikan Jalan Masih Dibutuhkan

Nama Tulungagung secara resmi digunakan sebagai nama kabupaten pada 1 April 1901. Namun, hari jadi Kabupaten Tulungagung ditetapkan pada 18 November 1205, berdasarkan Prasasti Lawadan.

Jejak Medang hingga Masa Erlangga

Jejak sejarah Tulungagung dapat ditelusuri setidaknya sejak masa Kerajaan Medang. Pada 898 Masehi, Raja Balitung mengeluarkan Prasasti Penampihan I yang berkaitan dengan pemberian tanah perdikan.

Penampihan berada di kawasan lereng Gunung Wilis. Wilayah tersebut diduga memiliki peran dalam perjalanan ekspansi Medang menuju Jawa Timur.

Baca Juga: SMKN 3 Boyolangu Tulungagung Bidik Juara Bahlil Mini Soccer 2026, Siap Tampil Maksimal

Prasasti Kubu-Kubu yang bertarikh 905 Masehi juga mencatat peristiwa penaklukan Kanjuruhan. Sejumlah nama tokoh dan wilayah yang tercatat dalam prasasti tersebut diduga memiliki kaitan dengan kawasan Tulungagung.

Setelah pusat Medang di Jawa Tengah mengalami keruntuhan akibat konflik dengan Sriwijaya, Empu Sindok memindahkan pusat kekuasaan ke Jawa Timur. Perpindahan itu menjadi awal berkembangnya Medang di wilayah timur Pulau Jawa.

Pada masa Raja Erlangga, wilayah Tulungagung dikenal sebagai Lodoyong. Daerah ini disebut menjadi salah satu kekuatan penting di selatan Jawa Timur.

Baca Juga: Sekolah Rakyat Tulungagung Tetap Dibangun, Desain Diubah karena Jalur Sutet

Lodoyong dipimpin tokoh perempuan bernama Ratu Diah Tulodong. Pada 1032 Masehi, pasukannya menyerang pusat pemerintahan Erlangga di Watatanmas hingga sang raja harus melarikan diri.

Erlangga kemudian berhasil mengalahkan Lodoyong. Namun, Diah Tulodong tidak dibunuh dan tetap memimpin wilayah tersebut sebagai bawahan Erlangga.

Pada periode yang sama, wilayah tersebut juga berkaitan dengan upaya pengendalian banjir Sungai Brantas. Erlangga membangun Bendungan Waringin Sapta untuk mengatasi banjir yang merusak pertanian sekaligus mengganggu aktivitas perdagangan.

Masyarakat Lodoyong turut terlibat dalam pembangunan bendungan tersebut. Saluran air baru kemudian dibuat untuk mengurangi genangan rawa di kawasan selatan Brantas.

Prasasti Lawadan dan Hari Jadi Tulungagung

Setelah masa Erlangga, kerajaan terbagi menjadi Panjalu dan Jenggala. Tulungagung atau Lodoyong berada di kawasan strategis yang ikut terseret dalam dinamika perebutan kekuasaan kedua kerajaan.

Baca Juga: Debut di Mini Soccer, SMKN 1 Tulungagung Genjot Latihan Jelang Bahlil Mini Soccer 2026

Sejumlah prasasti menjadi bukti keberadaan wilayah penting di Tulungagung. Di antaranya Prasasti Padlegan, Prasasti Jaring, dan Prasasti Kamulan.

Pada 1194 Masehi, Raja Kertajaya mengeluarkan Prasasti Kamulan. Prasasti tersebut berkaitan dengan daerah Katan dan Sakapat yang kini dikaitkan dengan kawasan Kalangbret, Tulungagung.

Ketika Kertajaya menghadapi serangan dari Tumapel, masyarakat Lawadan disebut memberikan perlindungan. Peristiwa tersebut kemudian menjadi dasar penting dalam penetapan hari jadi Tulungagung.

Pada 18 November 1205 Masehi, Kertajaya mengeluarkan Prasasti Lawadan. Isinya mencatat pemberian anugerah tanah perdikan kepada masyarakat Lawadan sebagai penghargaan atas bantuan mereka kepada raja.

Baca Juga: Bantuan Beras Tiga Bulan Disalurkan di Tulungagung, Plt Bupati Tekankan Jangan Diperjualbelikan

Masyarakat Lawadan mendapatkan sejumlah hak istimewa serta pembebasan dari kewajiban pajak. Peristiwa itu kemudian menjadi dasar penetapan hari jadi Kabupaten Tulungagung.

Wilayah Lawadan pada masa tersebut diperkirakan memiliki pemerintahan sendiri. Nama Lawadan pun menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan terbentuknya wilayah Tulungagung.

Jejak Kuat pada Masa Majapahit

Memasuki masa Majapahit, posisi Tulungagung semakin penting. Sejumlah tokoh kerajaan memiliki hubungan dengan wilayah selatan Brantas tersebut.

Raden Wijaya, pendiri Majapahit, didarmakan di Simping. Sementara Maharaja Patni Diah Gayatri memiliki kaitan kuat dengan kawasan Boyolangu dan Junjung.

Baca Juga: Karnaval Ringinpitu Tulungagung Pecahkan Suasana, 42 Tim Karnaval Rayakan Hari Kemerdekaan Ke-81 RI

Di Junjung terdapat sejumlah situs bersejarah, antara lain Gua Pasir, Candi Dadi, dan Candi Sanggrahan. Situs-situs tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas keagamaan dan pendarmaan tokoh kerajaan.

Candi Boyolangu dikenal sebagai tempat pendarmaan Diah Gayatri. Dalam Kakawin Nagarakretagama, pembangunan tempat pendarmaan tersebut disebut telah selesai pada 1365 Masehi.

Pada masa Hayam Wuruk, sejumlah wilayah Tulungagung juga tercatat sebagai kawasan penting. Prasasti Trowulan I tahun 1358 Masehi menyebut Waringin Pitu sebagai salah satu pelabuhan penyeberangan penting di Sungai Brantas.

Baca Juga: SMKN 3 Boyolangu Tulungagung Bidik Juara Bahlil Mini Soccer 2026, Siap Tampil Maksimal

Waringin Pitu kemudian ditetapkan sebagai daerah perdikan dharma kerajaan. Status tersebut dikukuhkan melalui Prasasti Wijaya Parakrama Wardhana atau Prasasti Waringin Pitu pada 1447 Masehi.

Catatan tersebut memperlihatkan perhatian keluarga kerajaan Majapahit terhadap Waringin Pitu dan kawasan Brang Kidul Tulungagung.

Jejak tokoh, prasasti, candi, dan situs pertapaan akhirnya membentuk rangkaian panjang sejarah Tulungagung. Wilayah yang dahulu dikenal sebagai Nerawa, Lodoyong, dan Lawadan itu bukan sekadar daerah pinggiran.

Baca Juga: HUT Kejaksaan Ke-81, Kejari Tulungagung Tegaskan Perkara Harus Berdasar Alat Bukti Sah

Sejak masa Medang hingga Majapahit, kawasan tersebut berada dalam dinamika politik, ekonomi, keagamaan, dan pemerintahan kerajaan besar di Jawa. Peninggalan yang masih dikenal hingga kini menjadi bagian penting untuk memahami perjalanan panjang Tulungagung.

Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari
Sumber : GHAZALIYIN
Kerajaan Medang tulungagung sejarah tulungagung prasasti lawadan kerajaan majapahit