Asal-usul Tulungagung, Berawal dari Rawa Ngowo dan Sayembara Adipati Betak

Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 18:30 WIB
Asal-usul Tulungagung dikisahkan berawal dari rawa Ngowo yang berhasil dikeringkan Jaka Baru setelah mengikuti sayembara Adipati Betak. (Gemini AI)
Asal-usul Tulungagung dikisahkan berawal dari rawa Ngowo yang berhasil dikeringkan Jaka Baru setelah mengikuti sayembara Adipati Betak. (Gemini AI)

TULUNGAGUNG - Asal-usul Tulungagung dalam kisah yang berkembang di masyarakat tidak lepas dari rawa luas bernama Ngowo atau Nerowo. Kawasan tersebut awalnya sulit dikeringkan karena memiliki sumber mata air yang terus mengalir. Hingga akhirnya, seorang pemuda bernama Jaka Baru berhasil mengatasinya dan mendapat jabatan sebagai patih.

Kisah ini bermula ketika Kadipaten Betak menghadapi persoalan akibat semakin banyak pendatang yang ingin bermukim. Lahan yang tersedia telah penuh. Satu-satunya wilayah yang tersisa adalah rawa-rawa luas.

Adipati Betak kemudian memerintahkan pasukannya mengeringkan rawa tersebut. Namun berbagai upaya selalu gagal. Setiap kali air surut, genangan kembali muncul dalam waktu singkat.

Baca Juga: Kecelakaan Jalan Pahlawan Kedungwaru Tulungagung, Motor Vario Tabrak Belakang Truk

Di tengah rawa ternyata terdapat sumber mata air yang terus memancar. Kondisi itu membuat sang adipati kebingungan. Berbagai cara telah dilakukan, tetapi tidak satu pun berhasil mengeringkan wilayah tersebut.

Sayembara untuk Mengeringkan Rawa

Seorang penasihat kemudian mengusulkan agar Adipati Betak mengadakan sayembara. Siapa pun yang berhasil mengeringkan rawa akan mendapat hadiah berupa jabatan patih di kadipaten.

Usulan itu diterima. Kabar sayembara segera disebarkan ke berbagai penjuru negeri. Banyak orang datang karena tergiur kedudukan yang ditawarkan.

Para peserta mencoba berbagai cara. Hari berganti hari, tetapi tidak ada yang berhasil. Air selalu kembali menggenangi kawasan tersebut.

Baca Juga: SMAN 1 Gondang Tulungagung Matangkan Kekompakan dan Mental Jelang Bahlil Mini Soccer 2026

Di tengah suasana itu, datang seorang pemuda yang bernama Jaka Baru. Ia berasal dari lereng Gunung Wilis dan menyatakan keinginannya mengikuti sayembara.

Adipati Betak sempat mengingatkan bahwa banyak orang sakti telah mencoba dan semuanya gagal. Bahkan Jaka Baru diminta siap menanggung risiko jika tidak berhasil.

Jaka Baru menyatakan kesanggupannya. Namun sebelum mengikuti sayembara, ia meminta izin pulang untuk memohon restu orang tuanya.

Jaka Baru kemudian menemui ayahnya, Ki Ageng Mangir, yang sedang menjalani laku tapa di lereng Gunung Wilis. Ia menceritakan rencananya sekaligus meminta petunjuk untuk menghadapi rawa yang dianggap bukan tempat sembarangan.

Baca Juga: Sembahyang Ulam Bana di TITD Tjoe Tik Kiong Tulungagung, 3.000 Paket Sembako Disiapkan

Ki Ageng Mangir memberikan sebuah petunjuk. Jaka Baru diminta mencari pohon aren, mengambil segenggam ijuk dan sebatang lidi sebelum memasuki kawasan rawa.

Ijuk Aren Menjadi Kunci

Setelah mendapat restu, Jaka Baru berangkat menuju Kadipaten Betak. Dalam perjalanan, ia menemukan pohon aren dan mengambil ijuk serta sebatang lidi seperti pesan ayahnya.

Sesampainya di kadipaten, Jaka Baru menghadap Adipati Betak. Keduanya kemudian menuju lokasi sayembara.

Baca Juga: SMAN 1 Gondang Tulungagung Matangkan Kekompakan dan Mental Jelang Bahlil Mini Soccer 2026

Di tepi rawa, Jaka Baru berhenti sejenak untuk memanjatkan doa. Setelah itu, ia terjun ke dalam rawa untuk mencari sumber mata air yang selama ini membuat kawasan tersebut tidak pernah kering.

Setelah menemukan sumbernya, Jaka Baru menyumbat aliran air menggunakan segenggam ijuk aren. Dalam kisah tersebut, aliran air kemudian berhenti seketika.

Ia lalu menancapkan sebatang lidi di sisi sumber air. Perlahan, air di kawasan rawa mulai surut. Genangan terus berkurang hingga akhirnya wilayah tersebut benar-benar kering.

Baca Juga: Tim Sepak Bola Muda Tulungagung Berangkat ke Piala Soeratin Jatim, Plt Bupati Tekankan Pembinaan

Adipati Betak menyaksikan keberhasilan itu dengan penuh kegembiraan. Ia menyebut keberhasilan Jaka Baru sebagai pertolongan besar dari Sang Pencipta.

“Ini pitulungan agung. Ini benar-benar pitulungan agung,” ujar Adipati Betak dalam kisah tersebut.

Atas keberhasilannya, Jaka Baru kemudian diangkat menjadi patih di Kadipaten Betak.

Baca Juga: GAYATRI Diluncurkan, BKPSDM Tulungagung Dorong ASN Sadar Data

Dari Rawa Menjadi Tempat Bermukim

Setelah rawa berhasil dikeringkan, kawasan tersebut perlahan berubah menjadi tanah yang dapat ditempati. Tahun demi tahun berlalu, masyarakat dan para pendatang mulai membangun kehidupan di wilayah itu.

Baca Juga: Dorong Minat Peneliti Muda, Tim Dosen UB Hadirkan Inovasi "BUSA-PLANT" di SMKN 1 Tulungagung

Daerah tersebut kemudian berkembang semakin ramai. Pusat pemerintahan Kabupaten Betak juga disebut akhirnya dipindahkan dan menetap di kawasan tersebut.

Dari peristiwa itulah muncul penyebutan “Tulung Agung”. Nama tersebut dikaitkan dengan ucapan Adipati Betak yang berulang kali menyebut “pitulungan agung” setelah Jaka Baru berhasil mengeringkan rawa.

Kisah tersebut menjadi salah satu cerita mengenai asal-usul Tulungagung yang menghubungkan nama daerah dengan perjuangan mengubah kawasan rawa menjadi tempat kehidupan bagi masyarakat dan para pendatang.

Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari
Sumber : gromore studio series
Asal-usul Tulungagung Rawa Ngowo tulungagung Adipati Betak Jaka Baru