TULUNGAGUNG - Pesugihan kera Ngujang selama ini menjadi rumor yang membuat banyak orang datang ke kawasan makam Ngujang, Tulungagung. Namun, juru kunci sekaligus juru pelihara, Mbah Ribut, meluruskan sejumlah cerita yang berkembang. Menurutnya, kawasan tersebut bukan tempat mencari kekayaan secara instan dengan tumbal atau korban.
Mbah Ribut mengatakan dirinya mulai menjadi juru kunci pada 27 Januari 2000. Tugas tersebut diteruskan secara turun-temurun dalam keluarganya, setelah sebelumnya dijalankan kakek dan sejumlah kerabatnya.
Selama lebih dari 25 tahun menjaga kawasan tersebut, ia mengaku telah menemui banyak tamu dari berbagai daerah. Mereka datang dengan beragam cerita dan tujuan, termasuk mencari keberkahan serta kekayaan.
Menurut Mbah Ribut, anggapan Ngujang sebagai tempat pesugihan kera muncul karena masyarakat mengaitkan kekayaan dengan kera yang menjadi penghuni kawasan tersebut.
Rumor Pesugihan Kera Ngujang
Mbah Ribut menyebut istilah pesugihan sebenarnya berkaitan dengan upaya mencari kekayaan. Namun, cara mendapatkannya bisa berbeda-beda.
Orang yang datang ke Ngujang, menurut dia, umumnya ingin mendapatkan keberkahan untuk usaha yang dijalankan. Petani berharap hasil tanamannya melimpah, pedagang ingin dagangannya laris, sementara orang yang menjalankan jasa berharap mendapatkan lebih banyak pelanggan.
“Pesugihan itu kan kekayaan sebenarnya,” kata Mbah Ribut.
Ia menegaskan, di Ngujang tidak ada konsep mencari kekayaan secara cepat dan singkat dengan korban tumbal. Menurutnya, orang yang datang justru diarahkan untuk mencari keberkahan dengan kesabaran, keikhlasan, dan kejujuran.
Ia juga menyinggung cerita mengenai syarat melihat sumur untuk mendapatkan kekayaan. Menurutnya, cerita tersebut tidak sesuai dengan kondisi yang ada di lokasi.
Cerita serupa datang dari tamu yang berasal dari berbagai daerah. Ada yang mendapat informasi bahwa uang di Ngujang bisa berlipat dalam waktu tertentu. Ada pula yang mendengar cerita tentang tuyul yang dapat diperoleh dengan membayar sejumlah uang.
Baca Juga: Ramalan Zodiak September 2026: 6 Zodiak Disebut Keluar dari Zona Penderitaan
Mbah Ribut menyebut cerita tersebut merupakan informasi dari luar yang belum tentu benar. Ia mengatakan tuyul yang disebut-sebut memang ada dalam cerita masyarakat, tetapi Ngujang bukan tempat jual beli tuyul.
Kera Ngujang Bukan Kera Gaib
Selain pesugihan, keberadaan kera menjadi bagian penting dari cerita Ngujang. Mbah Ribut membedakan antara kera secara fisik, kera yang disebut dilindungi secara gaib, dan kera gaib.
Kera yang dapat dilihat pengunjung, menurutnya, merupakan hewan secara fisik. Kera tersebut lahir, tumbuh, dewasa, tua, beranak-pinak, bahkan dapat mati.
Ia mengatakan pernah menguburkan kera yang mati karena tertabrak kendaraan atau karena usia. Hal itu menjadi alasan baginya bahwa kera yang terlihat masyarakat bukan kera gaib.
Baca Juga: Legenda Desa Ngujang Tulungagung: Monyet Keramat, Pesugihan, dan Kearifan Lokal
“Kera di sini itu bukan kera gaib, tapi kera yang dilindungi gaib,” ujarnya.
Mbah Ribut juga menjelaskan kera-kera tersebut tidak selalu berada di satu titik. Mereka dapat berpindah dan berkelompok di kawasan sekitar makam.
Karena itu, ketika pengunjung datang dan tidak menemukan kera di tempat biasanya, bukan berarti hewan tersebut hilang. Mereka bisa saja sedang berada di bagian lain kawasan tersebut.
Baca Juga: Legenda Desa Ngujang Tulungagung: Monyet Keramat, Pesugihan, dan Kearifan Lokal
Ia juga meluruskan anggapan bahwa kera di Ngujang melakukan migrasi jauh. Menurutnya, jika kera keluar hingga sekitar kampung, hewan tersebut akan kembali lagi ke kawasan Ngujang.
Asal-usul Kera dan Makna Kaya
Mbah Ribut menyebut asal-usul kera di Ngujang memiliki beberapa versi cerita. Salah satunya berkaitan dengan Sunan Kalijaga dan murid-muridnya yang disebut pernah berada di kawasan tersebut.
Ada pula cerita bahwa santri yang naik pohon mendapat sabda Sunan Kalijaga sehingga kemudian dikaitkan dengan asal-usul kera. Versi lainnya menyebut orang yang mencari pesugihan di tempat tersebut akan berubah menjadi kera setelah meninggal.
Mbah Ribut tidak memaksakan salah satu cerita sebagai kebenaran. Menurutnya, masyarakat bebas mempercayai versi yang diyakininya.
Ia justru mengingatkan agar masyarakat tidak hanya mempercayai cerita yang beredar dari luar tanpa memahami kondisi sebenarnya di lokasi.
Pesan yang ia sampaikan kepada masyarakat juga berkaitan dengan makna kekayaan. Menurutnya, kaya tidak semata-mata berarti memiliki banyak harta.
Ia menekankan pentingnya menjadi “sugih eling”, “sugih ngerti”, dan “sugih sabar”. Kekayaan semacam itu, menurutnya, tidak dapat dibeli dengan uang.
“Luwih becik penak sing sabar, temen lan ikhlas,” ujar Mbah Ribut.
Bagi Mbah Ribut, mencari keberkahan membutuhkan kesabaran, kejujuran, dan keikhlasan. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terbawa rumor tentang pesugihan kera Ngujang yang berkembang dari cerita ke cerita.
Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al AkhbariSumber : Petuah Kehidupan