Pesugihan Ngujang, Pengakuan Pengusaha Bengkel Asal Bengkulu yang Terlilit Utang

Syarifatul Insaniyah • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 08:10 WIB
Pesugihan Ngujang menjadi pengalaman Rio Raharjo, pengusaha bengkel asal Bengkulu yang mengaku menjalani ritual saat terlilit utang.(ILUSTRASI AI)
Pesugihan Ngujang menjadi pengalaman Rio Raharjo, pengusaha bengkel asal Bengkulu yang mengaku menjalani ritual saat terlilit utang.(ILUSTRASI AI)

TULUNGAGUNG - Pesugihan Ngujang menjadi bagian dari kisah Rio Raharjo, pengusaha bengkel sepeda motor asal Bengkulu yang mengaku pernah menjalani ritual di Ngujang, Tulungagung, saat usahanya mengalami keterpurukan dan terlilit utang.

Rio menceritakan pengalamannya dalam sebuah video yang membahas praktik pesugihan di Jawa Timur. Ia mengatakan mulai membuka bengkel motor pada 2017. Usaha yang dijalankannya di desa tersebut sempat berkembang hingga omzet mencapai sekitar Rp10 juta-Rp15 juta.

Namun, kondisi berubah setelah 2019. Omzet bengkelnya terus menurun. Rio kemudian berusaha mencari jalan keluar dengan berkonsultasi kepada sejumlah orang, termasuk paranormal dan ustaz.

Menurut cerita yang diterimanya, penurunan usaha tersebut dikaitkan dengan adanya pesaing di depan tempat usahanya. Rio mengaku sempat diberi tahu bahwa tanah dari makam orang yang meninggal karena gantung diri telah digunakan untuk mencelakainya.

Rio mengaku awalnya tidak percaya. Namun, karena kondisi usahanya semakin sulit, ia tetap mencoba berbagai cara. Ia bahkan mencari bantuan kepada seseorang yang dikenalnya melalui temannya.

Baca Juga: Misteri Pesugihan Kembang Sore Tulungagung Belum Terpecahkan, Kisah Pencari Kekayaan Gaib Ini Terus Mengundang Rasa Penasaran

Dalam kondisi utang yang semakin menumpuk, Rio kemudian pergi ke Malang. Tujuannya mencari cara agar bisa memperoleh uang dan melunasi utang kepada agen spare part.

Dari seseorang bernama Aris, Rio diarahkan menuju Ngujang, Tulungagung. Ia juga ditawari sesuatu yang disebut sebagai “uang kembali”. Rio mengatakan mahar yang diminta sekitar Rp3 juta.

Setelah dari Malang, Rio bersama beberapa orang melanjutkan perjalanan menuju Ngujang. Sesampainya di lokasi, mereka mencari seorang kuncen bernama Mbah Ribut.

Rio kemudian menjalani ritual di sebuah ruangan yang disebut memiliki makam keramat. Dalam ritual tersebut terdapat sejumlah perlengkapan seperti rokok, kopi, pisang, bunga dan dupa.

Menurut penuturannya, setelah membaca mantra, Mbah Ribut menanyakan identitas Rio, termasuk nama, alamat di Bengkulu dan usaha yang dijalankannya.

Rio juga mengaku diminta membuat nazar jika usahanya kembali berhasil. Ia memilih bernazar menyembelih dua ekor kambing.

“Kalau pada saat seandainya kamu sudah berhasil, nazar kamu enggak dipenuhin, ya akan ada yang terjadi, entah itu anak kamu entah itu istri kamu,” ujar Rio, mengulang pesan yang diterimanya saat ritual.

Setelah ritual, Rio membawa sebuah kantung kain dan kertas berisi rapalan. Ia kemudian diminta melakukan ritual di rumah setiap malam Jumat dengan sejumlah perlengkapan tertentu.

Baca Juga: Misteri Pesugihan Monyet TPU Ngujang Tulungagung, Ritual Tengah Malam hingga Dugaan Tumbal Nyawa Bu Darmi

Rio mengaku menjalankan ritual tersebut hampir satu tahun. Namun, ia mengatakan kondisi bengkelnya tidak berubah. Usaha tetap sepi dan tidak menunjukkan perkembangan seperti yang diharapkannya.

Di sisi lain, paket “uang kembali” yang diperolehnya dari Aris juga tidak memberikan hasil sesuai harapan. Paket tersebut baru dibuka setelah sekitar 40 hari. Di dalam kardus kecil itu, Rio menemukan sejumlah pecahan uang, beras kuning dan minyak.

Ia kemudian kembali menghubungi Aris untuk menanyakan cara menggunakannya. Dari penjelasan yang diterimanya, uang tersebut bukan untuk langsung digunakan sebagai modal, melainkan disimpan di laci tempat menyimpan uang usaha.

Rio mengaku tetap menjalankan petunjuk tersebut. Namun, hari berganti minggu dan bulan, kondisi ekonominya tidak kunjung membaik.

Setelah berbagai upaya itu tidak berhasil, Rio kembali mengambil pinjaman dari bank. Pada sekitar Oktober 2022, ia mencoba bisnis jual beli sawit. Usaha tersebut sempat membantu pembayaran utang, tetapi kemudian kembali mengalami kerugian.

Rio mengatakan dirinya telah mencoba ritual yang disebut berkaitan dengan pesugihan sekitar tiga kali. Namun, seluruh upaya tersebut menurut pengakuannya tidak menghasilkan perubahan yang diharapkan.

Kisah Rio menjadi bagian dari cerita tentang praktik pesugihan Ngujang yang berkembang di tengah masyarakat. Dalam penuturannya, keputusan menjalani ritual muncul ketika ia berada dalam kondisi terdesak akibat usaha yang merosot dan utang yang menumpuk.

Pada akhirnya, Rio mengakui upayanya tersebut tidak berhasil. Ia menyebut mungkin memang belum menjadi jalannya.

Editor : Syarifatul Insaniyah
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
Ngujang Tulungagung pesugihan Ngujang rio raharjo tulungagung