Reco Pentung, Jejak Pabrik Rokok yang Pernah Mempekerjakan 4.500 Orang di Tulungagung

Syarifatul Insaniyah • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 08:15 WIB
Reco Pentung berawal dari usaha rokok rumahan Sumiran Karsodi Wiryo dan pernah mempekerjakan 4.500 orang sebelum berhenti beroperasi.(ANTARA NEWS)
Reco Pentung berawal dari usaha rokok rumahan Sumiran Karsodi Wiryo dan pernah mempekerjakan 4.500 orang sebelum berhenti beroperasi.(ANTARA NEWS)

TULUNGAGUNG - Reco Pentung pernah menjadi salah satu pabrik rokok besar di kawasan Jawa Timur bagian selatan. Berawal dari usaha rumahan yang dirintis Sumiran Karsodi Wiryo pada 1946, perusahaan tersebut berkembang hingga mempekerjakan sekitar 4.500 orang pada 1991 sebelum akhirnya berhenti beroperasi sekitar 1995.

Sumiran lahir di sebuah desa di Tulungagung pada 9 September 1921. Ia merupakan putra sulung Kars Guno dan Tukinem. Keluarganya hidup serba kekurangan. Sang ayah bekerja sebagai buruh lapangan, mulai dari menggali tanah, memasang tiang listrik hingga pekerjaan kasar lainnya.

Sejak berusia enam tahun, Sumiran sudah membantu ayahnya. Sepulang sekolah, ia ikut bekerja dan menimba air. Pengalaman tersebut kemudian membentuk pandangannya mengenai kehidupan.

“Sebagai anak tertua, saya harus memberi contoh bagi adik-adik,” demikian pernyataan Sumiran yang dikutip dalam tayangan tersebut.

Pendidikan formalnya ditempuh melalui Sekolah Rakyat atau SR. Namun, selain pendidikan di sekolah, Sumiran belajar berdagang sejak muda. Ia menjajakan pisang goreng, kacang dan serabi dari kampung ke kampung. Keuntungan yang diperoleh ditabung untuk membantu keluarga.

Menjelang 1941, Sumiran menikah dengan Supatmi. Keduanya kemudian mulai berjualan dari rumah. Setelah melewati masa perang, pada Mei 1946 Sumiran memulai usaha pembuatan rokok kretek kelobot rumahan.

Produksi dilakukan secara sederhana. Sumiran meracik tembakau, sementara istrinya membantu melinting rokok dengan tangan. Produk awal tersebut diberi nama Cap Ikan Dorang dan dipasarkan sendiri dari pasar ke pasar.

Baca Juga: Juru Kunci Makam Ngujang Tulungagung Bongkar Fakta Pesugihan Kera, Sebut Tak Ada Tumbal hingga Sumur Gaib

Nama Reco Pentung kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan usaha tersebut. Dalam tayangan, nama itu dikaitkan dengan Patung Batu Reco Pentung yang pernah menjadi ikon kota dan dirubuhkan ketika Belanda kembali menduduki Tulungagung pada 1948.

Setelah situasi kembali aman pada awal 1949, Sumiran menggunakan nama tersebut sebagai simbol perlawanan dan kebangkitan. Produksi awal hanya melibatkan sekitar 5 hingga 20 pekerja. Namun, permintaan kemudian meningkat dan jumlah pekerja berkembang hingga ribuan orang.

Pada dekade 1960-an, bisnis kembali menghadapi masa sulit. Situasi politik nasional setelah G30S PKI disebut berdampak terhadap usaha rokok tersebut. Produksi menurun drastis dan ribuan pekerja harus dirumahkan. Jumlah pekerja yang tersisa hanya puluhan orang.

Sumiran kembali melakukan inovasi. Ia meluncurkan sigaret kretek putih dengan nama Gaya Baru. Memasuki awal 1970-an, usaha mulai menggeliat lagi.

Pada 1982, merek Reco Pentung dihidupkan kembali dengan konsep dan kualitas yang diperbarui. Perusahaan kemudian mengembangkan sejumlah produk, termasuk rokok filter, Minah, Reco Pentung Wasiat dan Reco Pentung Jaya.

Puncaknya terjadi pada 1991. Jumlah karyawan mencapai sekitar 4.500 orang. Dalam tayangan tersebut, Reco Pentung disebut menjadi salah satu pabrik rokok terbesar di Jawa Timur bagian selatan.

Sumiran juga disebut aktif di luar bisnis rokok. Ia pernah menjadi ketua Gapero, Gabungan Pengusaha Rokok Indonesia, serta ketua PPI wilayah Kediri pada 1952. Ia juga berperan dalam pengembangan wisata Pantai Popoh melalui PT Sutera Bina Samudra.

Baca Juga: Pesugihan Kembang Sore Tulungagung Jadi Sorotan, Kisah Mistis yang Konon Membuat Pelakunya Mendadak Kaya Masih Dipercaya Hingga Kini

Memasuki 1990-an, persaingan industri rokok semakin berat. Perusahaan besar memiliki modal dan teknologi yang lebih kuat, sementara Reco Pentung masih mengandalkan sistem semimanual dan jaringan lokal. Kenaikan cukai, biaya produksi serta persaingan pasar turut menjadi tekanan.

Sekitar 1995, pabrik Reco Pentung akhirnya berhenti beroperasi. Aset pabrik kemudian menjadi objek sengketa hukum dan dilelang oleh pengadilan. Sebagian bangunan lama disebut masih berdiri, meski sebagian lainnya telah beralih tangan atau terbengkalai.

Sebelum tutup usia, Sumiran telah menyiapkan putra sulungnya, Ismanu Sumiran, sebagai penerus. Ismanu lahir di Tulungagung pada 3 Mei 1949. Ia kemudian menjabat sebagai direktur pabrik rokok Reco Pentung sekaligus direktur utama PT Sutera Bina Samudra.

Di balik sejarah perusahaan tersebut, berkembang pula mitos yang mengaitkan kejayaan Reco Pentung dengan Nyi Roro Kidul. Cerita itu dikaitkan dengan kedekatan Sumiran dengan kawasan Pantai Popoh dan aktivitas semedi.

Namun, keluarga Sumiran, termasuk cucunya Deni Darko, membantah anggapan tersebut. Dalam tayangan disebutkan bahwa Sumiran merupakan seorang muslim yang pada masa tuanya semakin taat serta dikenal sebagai pencinta budaya Jawa yang menghormati alam dan tradisi.

Terlepas dari mitos yang berkembang, perjalanan Reco Pentung meninggalkan jejak dalam sejarah ekonomi Tulungagung. Dari usaha rumahan dengan produksi manual, bisnis tersebut pernah berkembang menjadi perusahaan yang mempekerjakan ribuan orang sebelum akhirnya berhenti beroperasi.

Editor : Syarifatul Insaniyah
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
reco petung sumiran karsodi wiryo pabrik rokok tulungagung pantai popoh