
TULUNGAGUNG - Kisah perjalanan Raden Arjuna meraih cita-cita tidak hanya dikenal melalui lakon wayang.
Jejak cerita tersebut juga tersimpan pada relief yang terpahat di dinding Gua Pasir, Desa Junjung, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung.
Dinding batu di Gua Pasir menyimpan sejumlah tinggalan yang berkaitan dengan cerita dan kebudayaan masa lalu.
Salah satu yang menarik adalah relief Arjuna yang digambarkan sedang bertapa dan mendapat godaan dari para bidadari.
Relief tersebut menjadi bagian dari kisah Arjunawiwaha. Cerita itu berkembang pada masa Prabu Airlangga dan berkaitan dengan perjalanan Arjuna ketika menjalani pertapaan sebelum mendapat tugas menghadapi Niwatakawaca.
Baca Juga: Maharani Zoo Lamongan dan Goa Maharani, Wisata Keluarga dengan Kebun Binatang hingga Gua Bawah Tanah
Ichwan Nugroho dari komunitas Asta Gayatri menjelaskan, penggambaran Arjuna bertapa menjadi salah satu bagian penting dari relief di Gua Pasir.
“Di Gua Pasir, reliefnya menggambarkan Arjuna yang sedang bertapa dan digoda bidadari. Di sisi kiri dan kanan dinding juga terdapat sosok figur gemuk yang memakai semacam penutup kepala,” jelas Ichwan.
Kisah dengan tema serupa juga dapat ditemukan di Gua Selomangleng, Tulungagung. Kemiripan relief tersebut menunjukkan adanya keterkaitan tema antara kedua tinggalan tersebut.
Namun, penggambaran di Gua Selomangleng lebih lengkap. Relief di lokasi tersebut menampilkan rangkaian cerita Arjunawiwaha secara lebih utuh.
Gua Pasir tidak hanya menyimpan relief yang berkaitan dengan kisah Arjuna. Pada bagian bawah dinding juga terdapat relief berbentuk kera.
Lana Faizatussulaimah dari komunitas Gua Pasir Tulungagung menyimpan relief Arjuna bertapa dan digoda bidadari, relief kera, serta arca berciri karakter masa Majapahit.
Gayatri mengaitkan keberadaan relief tersebut dengan kondisi lingkungan sekitar Gua Pasir. Kawasan tersebut sejak lama diketahui menjadi habitat kera.
“Di Gua Pasir juga ada relief kera. Itu berkaitan dengan kondisi lingkungannya yang memang menjadi habitat kera,” ujar Lana.
Selain relief, terdapat pula tinggalan berupa arca dengan detail teratai yang tumbuh dari dalam vas. Detail tersebut menjadi salah satu petunjuk karakter masa yang melekat pada peninggalan di kawasan Gua Pasir.
“Ada juga arca yang memiliki teratai yang tumbuh dari dalam vas. Karakter seperti itu merupakan salah satu ciri yang menunjukkan pengaruh atau karakter masa Majapahit,” ujarnya.
Ragam relief dan arca yang berada di kawasan tersebut membuat Gua Pasir tidak sekadar memiliki nilai sebagai objek wisata sejarah.
Setiap tinggalan menyimpan informasi yang dapat membantu membaca perjalanan kebudayaan masa lalu di Tulungagung.
Keberadaan berbagai tinggalan tersebut juga membuat upaya pelestarian menjadi bagian penting. Perlindungan dinilai tidak cukup hanya mengandalkan kepedulian masyarakat, tetapi juga membutuhkan payung hukum dan pengaturan kawasan.
Lana mengatakan, perlindungan secara yuridis diperlukan untuk melengkapi upaya pelestarian situs Gua Pasir. Bentuknya antara lain melalui penetapan zonasi dan penetapan kawasan tersebut sebagai situs cagar budaya.
“Untuk melengkapi upaya pelestarian situs Gua Pasir diperlukan perlindungan secara yuridis, antara lain melalui penetapan zonasi dan penetapan sebagai situs cagar budaya,” pungkas Lana.(bac)
Editor : Vidya Sajar Fitri