TULUNGAGUNG - Candi Dadi menjadi salah satu peninggalan kuno di Kabupaten Tulungagung yang berada di puncak perbukitan Walikukun. Berada di ketinggian sekitar 360 meter di atas permukaan laut, Candi Dadi disebut sebagai peninggalan Kerajaan Majapahit yang diperkirakan dibangun pada akhir abad ke-14 atau abad ke-15. Selain menawarkan bangunan candi di lokasi yang sulit dijangkau, tempat ini juga menyimpan kisah mengenai kehidupan keagamaan hingga dugaan fungsi sebagai tempat pembakaran jenazah.
Perjalanan menuju Candi Dadi tidak mudah. Pengunjung harus melewati jalur perbukitan yang cukup menanjak dengan waktu tempuh pendakian sekitar satu hingga dua jam. Sepanjang perjalanan, terdapat sejumlah kompleks pemakaman kuno yang menjadi bagian dari cerita perjalanan menuju puncak.
Salah satu makam yang disebut dalam video adalah makam Eyang Akung Hanyoro Kusumo. Sosok tersebut disebut sebagai penasihat Sultan Agung, raja dari kerajaan Islam, dan dimakamkan sekitar 1620 Masehi.
Perjalanan menuju Candi Dadi dilakukan bersama anak-anak dari kampung sekitar. Setelah sekitar satu jam berjalan, rombongan berhenti untuk beristirahat di pinggir sungai yang lokasinya tidak jauh dari jalur pendakian.
Saat perjalanan berlangsung pada musim kemarau, debit sungai disebut tidak terlalu besar. Setelah beristirahat, perjalanan kemudian dilanjutkan menuju puncak.
Kondisi jalur menjadi tantangan tersendiri. Dalam video disebutkan terdapat banyak percabangan dan minim petunjuk arah. Kehadiran anak-anak kampung sekitar pun membantu rombongan agar tidak salah memilih jalur.
Setelah sampai di puncak, kemegahan Candi Dadi menjadi perhatian utama. Bangunan tersebut terlihat berada di lokasi yang cukup tinggi dan sulit dijangkau. Kondisi ini kemudian memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana masyarakat pada masa lalu membangun candi di atas perbukitan dengan teknologi yang tentu berbeda dengan masa sekarang.
Menurut narasi dalam video, Candi Dadi merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit yang diperkirakan dibangun pada akhir abad ke-14 atau abad ke-15.
Pembangunannya disebut berkaitan dengan masa suram Kerajaan Majapahit setelah wafatnya Prabu Hayam Wuruk. Kondisi politik yang tidak stabil disebut turut memengaruhi kehidupan masyarakat, termasuk kehidupan keagamaan.
Sebagian masyarakat kemudian disebut memilih mengasingkan diri ke daerah perbukitan untuk menjalankan kehidupan agama dengan lebih tenang. Pemilihan kawasan tersebut juga dikaitkan dengan kepercayaan masyarakat masa lalu bahwa gunung merupakan tempat suci yang dipercaya sebagai tempat bersemayamnya para dewa.
Dalam narasi video, kondisi tersebut diduga menjadi salah satu alasan Candi Dadi dibangun di kawasan perbukitan. Candi ini disebut digunakan sebagai tempat pemujaan. Selain itu, terdapat pula dugaan bahwa Candi Dadi pernah difungsikan sebagai tempat pembakaran jenazah karena praktik tersebut pada masa lalu disebut biasa dilakukan di tempat tinggi.
Di bagian tengah Candi Dadi terdapat sebuah lubang menyerupai sumur dengan kedalaman sekitar 3,5 meter. Fungsi lubang tersebut masih menjadi bagian dari cerita yang berkembang. Ada pendapat yang menyebut lubang itu dulunya merupakan tempat dudukan arca. Jika benar, ukuran arca yang ditempatkan di sana diperkirakan cukup besar.
Candi Dadi juga disebut pernah menjadi perhatian sejumlah peneliti pada masa Hindia Belanda. Dalam video disebut nama PGF pada 1878 hingga MG Krom pada 1923.
Laporan Belanda pada abad ke-19 disebut mencatat adanya lima kelompok candi di lereng utama Pegunungan Walikukun. Candi Dadi menjadi salah satu di antaranya dan disebut masih berada dalam kondisi relatif baik.
Namun, kondisi tersebut tidak berarti kawasan candi terbebas dari persoalan. Video memperlihatkan masih adanya coretan dan vandalisme pada bagian candi yang diduga dilakukan oleh pengunjung.
Kondisi jalur yang bercabang dan minim petunjuk juga menjadi perhatian bagi wisatawan. Karena itu, perjalanan menuju Candi Dadi dalam video tersebut dilakukan dengan bantuan anak-anak kampung sekitar yang lebih mengenal medan.
Candi Dadi akhirnya bukan hanya menjadi tujuan perjalanan, tetapi juga memperlihatkan jejak masa lalu yang berada di tengah kawasan perbukitan. Kisah sejarah, kondisi bangunan, jalur pendakian, dan cerita misteri yang berkembang di masyarakat membuat perjalanan menuju situs ini memiliki daya tarik tersendiri.
Editor : Syarifatul InsaniyahSumber : Diolah dari berbagai sumber