Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

#SaveRajaAmpat Viral: Warganet Desak Hentikan Tambang Nikel di Raja Ampat

Aini Nihayatul Khusna • Jumat, 6 Juni 2025 | 02:30 WIB
Tagar #SaveRajaAmpat viral di Instagram sebagai bentuk protes warganet terhadap ekspansi tambang nikel di Raja Ampat.
Tagar #SaveRajaAmpat viral di Instagram sebagai bentuk protes warganet terhadap ekspansi tambang nikel di Raja Ampat.

 

PAPUA— Tagar #SaveRajaAmpat mendadak menjadi tren di Instagram dan media sosial lainnya dalam beberapa hari terakhir.

Ribuan warganet membagikan foto-foto keindahan laut Raja Ampat sambil menyerukan penolakan terhadap ekspansi tambang nikel yang dinilai mengancam keberlangsungan ekosistem laut dan kehidupan masyarakat adat di kawasan tersebut.

Kekhawatiran ini muncul setelah laporan dari organisasi lingkungan Auriga Nusantara mengungkap bahwa luas izin tambang nikel di wilayah Raja Ampat telah mencapai lebih dari 22.000 hektare, dengan pertumbuhan konsesi yang meningkat signifikan dalam lima tahun terakhir.

Aktivitas pertambangan yang terfokus di Pulau Gag dan sekitarnya disebut menyebabkan kerusakan serius pada lingkungan pesisir, termasuk deforestasi, sedimentasi, dan pencemaran air laut.

Sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati laut terbesar di dunia, Raja Ampat memiliki lebih dari 1.300 spesies ikan dan 600 jenis karang.

Aktivitas tambang yang tidak terkendali berpotensi merusak terumbu karang, meningkatkan kekeruhan air laut, dan mengancam populasi satwa laut seperti penyu, ikan karang, dan pari manta.

Tak hanya ekosistem, kehidupan sosial masyarakat adat juga terdampak.

Suku-suku lokal seperti Betew dan Maya yang telah lama menjaga kawasan ini kini merasa terpinggirkan.

Mereka menyuarakan protes terhadap masuknya tambang tanpa keterlibatan dan persetujuan mereka secara penuh.

Viralnya tagar #SaveRajaAmpat tidak lepas dari peran warganet yang aktif membagikan konten edukatif, dokumentasi kerusakan lingkungan, dan narasi-narasi penyelamatan.

Unggahan bertagar tersebut juga disertai pesan kuat seperti “Papua bukan tanah kosong”, sebagai bentuk penolakan terhadap eksploitasi yang mengabaikan keberadaan masyarakat lokal.

Selain menjadi bentuk protes digital, gerakan ini juga memicu perhatian politis.

Komisi VII DPR telah meminta evaluasi izin usaha tambang oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), serta mendesak agar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) ditinjau ulang.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga menyatakan akan mengkaji potensi pelanggaran dan dampaknya terhadap kawasan konservasi.

Raja Ampat selama ini dikenal sebagai simbol konservasi laut Indonesia dan pariwisata berkelanjutan.

Kerusakan yang ditimbulkan oleh pertambangan tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga masa depan ekonomi lokal yang sangat bergantung pada ekowisata.

Tagar #SaveRajaAmpat kini menjadi pengingat bahwa pelestarian lingkungan harus menjadi prioritas utama, bukan dikorbankan demi kepentingan industri jangka pendek. (*)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#SaveRajaAmpat #papua #wisata #tambang #raja ampat