MAGETAN – Video yang menampilkan puluhan orang berpakaian serba putih di Puncak Gunung Lawu mendadak viral dan memicu perdebatan luas di media sosial.
Aksi mereka pada Jumat (12/7/2025) yang mengelilingi tugu Trianggulasi, titik tertinggi Gunung Lawu, menimbulkan berbagai spekulasi publik soal motif dan tujuan kegiatan tersebut.
Dalam video yang diunggah akun TikTok @faaiiiq._ tampak sekelompok pria dan wanita mengenakan busana putih yang menyerupai ihram. Mereka berjalan perlahan mengitari tugu bertuliskan Puncak Lawu 3265 Mdpl dengan formasi rapi.
Hingga Senin pagi (14/7), video tersebut telah ditonton lebih dari 21,7 juta kali, mendapat lebih dari 1 juta tanda suka, dan dibanjiri ribuan komentar.
Beberapa menyebut aksi itu sebagai ritual, sementara lainnya menghubungkannya dengan momen spiritual tertentu.
“Seperti ada prosesi ibadah, tapi di gunung. Ini unik, tapi juga bikin bertanya-tanya,” tulis seorang pengguna TikTok.
Sebagian lain menduga kegiatan tersebut berkaitan dengan peringatan Bulan Suro, yang kerap dianggap sakral dalam kalender Jawa.
Namun, belum ada keterangan resmi dari pihak berwenang maupun kelompok yang terlibat dalam video tersebut hingga saat ini.
Oleh karenanya belum bisa dipastikan apakah aksi itu merupakan bagian dari ritual keagamaan, tradisi lokal, atau sekadar kegiatan komunitas tertentu yang memiliki nilai spiritual.
Gunung Lawu sendiri sejak lama dikenal sebagai salah satu lokasi yang diyakini memiliki aura mistis dan spiritual.
Puncaknya yang berada di perbatasan Kabupaten Magetan (Jawa Timur) dan Karanganyar (Jawa Tengah) menjadi tujuan favorit para peziarah, pelaku semedi, hingga pendaki spiritualis.
Fenomena kelompok berpakaian putih ini bukan pertama kalinya terjadi di kawasan Lawu.
Menurut pengelola jalur pendakian Cemoro Sewu, peristiwa serupa kerap dijumpai setiap menjelang atau bertepatan dengan Bulan Suro, bulan pertama dalam kalender Jawa yang identik dengan ritual kebatinan.
Meski begitu, penampakan dengan formasi dan jumlah peserta sebanyak ini tergolong langka.
Terlebih lagi, mereka tampak melakukan gerakan berulang sehingga menimbulkan kesan ritualistik yang kuat bagi penonton.
Warganet pun berdebat. Ada yang mengapresiasi sebagai bagian dari kebebasan berekspresi dan pelestarian tradisi. Namun tak sedikit pula yang mempertanyakan maksud kegiatan tersebut.
Bahkan, beberapa mengkhawatirkan potensi penyalahgunaan kawasan konservasi untuk kegiatan yang belum tentu mendapat izin resmi.
“Kalau memang ritual, seharusnya dijelaskan ke publik agar tidak salah paham,” ujar salah satu komentar yang viral.
Ada pula yang khawatir fenomena ini akan ditiru atau dijadikan konten hanya demi viralitas tanpa pemahaman mendalam terhadap nilai-nilai spiritual atau budaya yang mungkin terkandung di dalamnya.
Fenomena ini juga membuka ruang diskusi lebih luas soal batas antara keyakinan, tradisi, dan aktivitas publik di ruang alam terbuka.
Selain sebagai tempat wisata dan olahraga alam, gunung juga menjadi titik temu berbagai ekspresi spiritual masyarakat.
Hingga saat ini, belum ada keterangan dari pihak Balai Taman Nasional Gunung Lawu ataupun otoritas setempat terkait tindakan lanjutan atau klarifikasi atas kegiatan tersebut.
Sementara itu, sejumlah tokoh masyarakat adat dan pemerhati budaya menyarankan agar publik tidak buru-buru menghakimi atau mengaitkan dengan ajaran agama tertentu, mengingat Indonesia kaya akan tradisi yang kerap tak lazim di mata awam.
Apakah aksi tersebut bagian dari ritual spiritual, tradisi lokal, atau sekadar ekspresi kelompok pencari kedamaian batin, publik masih menunggu kejelasan.
Namun satu hal pasti, Puncak Lawu kembali menjadi titik perhatian nasional. Bukan karena cuaca ekstrem atau jalur curam, melainkan oleh misteri dari barisan putih yang menyelimuti puncaknya.
Editor : Matlaul Ngainul Aziz