Salah satu peserta aksi yang diunggah melalui akun TikTok menyampaikan bahwa pengibaran bendera One Piece bukanlah bentuk penggantian terhadap Merah Putih, melainkan cara untuk menyuarakan rasa cinta terhadap negeri ini yang dibarengi dengan kekecewaan, serta sikap menolak untuk tetap diam.
TULUNGAGUNG- Perayaan Hari Kemerdekaan (HUT) RI ke 80 tahun ini diwarnai fenomena unik sekaligus kontroversial. Di berbagai daerah, sejumlah orang terlihat mengibarkan bendera bajak laut One Piece, lengkap dengan lambang tengkorak dan topi jerami, alih-alih Sang Merah Putih.
Fenomena jelang HUT RI ke-80 ini cepat menyebar di media sosial TikTok @mytarmidi1, memicu perdebatan nasional tentang makna, etika, dan bentuk cinta Tanah Air.
Bagi sebagian kalangan, jelang HUT RI ke-80 pengibaran bendera One Piece bukanlah bentuk pengkhianatan terhadap negara.
Justru, itu adalah simbol perlawanan tanpa kekerasan terhadap sistem yang mereka nilai menindas dan jauh dari nilai-nilai keadilan.
Mereka beranggapan bahwa bendera Merah Putih terlalu sakral untuk dikibarkan dalam kondisi sosial-politik yang dianggap tidak mencerminkan cita-cita kemerdekaan.
Dengan hukum dan nurani yang mereka anggap "telah mati", ekspresi melalui simbol bajak laut ini menjadi alternatif dari demonstrasi konvensional, yang sering kali dicap sebagai "bayaran" atau "rekayasa".
Baca Juga: Game Upin Ipin Universe Menjadi Kekecewaan Para Fans
Dalam serial anime dan manga One Piece, bendera bajak laut Straw Hat melambangkan kebebasan, pemberontakan terhadap kekuasaan yang korup, dan semangat petualangan.
Para pendukung tren ini menjadikan bendera tersebut sebagai metafora untuk menyuarakan keresahan: bahwa mereka bukan anti-NKRI, melainkan kecewa terhadap arah negara saat ini.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting: apakah mencintai negara harus selalu diwujudkan dengan cara konvensional? Atau justru, ekspresi kekecewaan yang damai adalah bentuk cinta yang lebih jujur?
Baca Juga: Perbandingan Harga Emas dan Bitcoin Pasca Perang Dagang, Pilih Investasi Mana ?
Sebagian pengamat sosial menilai bahwa pengibaran bendera One Piece merupakan bentuk nasionalisme baru, di mana rakyat menggunakan simbol populer dan budaya massa untuk menyampaikan kritik yang lebih relatable bagi generasi muda.
Pengibaran bendera One Piece saat Hari Kemerdekaan jelas bukan sekadar tren viral. Ia mencerminkan kekecewaan mendalam terhadap realitas sosial, hukum, dan politik yang dirasa tak sejalan dengan cita-cita bangsa.
Apakah ini hanya tren sesaat? Atau pertanda bahwa semakin banyak anak muda Indonesia yang merasa terasing dari sistem negaranya? Yang jelas, simbol ini berbicara banyak tentang harapan, tentang kritik, dan tentang cinta yang tak harus selalu diam. (*)
Baca Juga: Hidup dalam Kegelapan, Inilah 5 Kota Tak Tersentuh Cahaya Matahari
Editor : Didin Cahya Firmansyah