JAKARTA - Fenomena langit seperti gerhana matahari sering menjadi bahan perbincangan hangat di media sosial. Belakangan ini, publik dihebohkan oleh kabar yang menyebut akan terjadi gerhana matahari total pada 2 Agustus 2025.
Dalam unggahan viral di platform X, disebutkan bahwa dunia akan gelap gulita selama 6 menit karena gerhana ini. Bahkan, diklaim sebagai peristiwa langka yang baru akan terjadi lagi 100 tahun mendatang.
Namun, klaim tersebut sudah dikonfirmasi tidak benar. Profesor Riset Astronomi BRIN, Thomas Djamaluddin, menegaskan bahwa gerhana matahari 2 Agustus 2025 tidak akan terjadi. BRIN menepis semua kabar tersebut sebagai hoaks yang menyesatkan masyarakat.
Gerhana Matahari Total Akan Terjadi di Tahun 2027, Bukan 2025
Gerhana matahari total yang dimaksud dalam unggahan viral itu memang nyata, tapi akan berlangsung pada 2 Agustus 2027. Fenomena ini akan menjadi salah satu gerhana terlama dalam abad ke-21.
Durasi totalitas mencapai 6 menit 22 detik, menjadikannya sebagai gerhana matahari total terpanjang di era modern. Inilah alasan mengapa banyak pihak menjulukinya sebagai "gerhana abad ini".
Namun, klaim bahwa kejadian ini hanya terjadi sekali dalam 100 tahun tidak akurat. Gerhana serupa akan kembali terjadi pada 16 Juli 2114, atau 87 tahun kemudian, bukan 100 tahun.
Jalur gerhana total ini akan melintasi negara-negara seperti Spanyol, Maroko, Tunisia, Mesir, dan Arab Saudi. Indonesia tidak termasuk dalam wilayah yang dapat menyaksikan gerhana ini, baik secara total maupun sebagian.
Jalur Totalitas Gerhana Matahari 2 Agustus 2027
Negara yang Dilewati Jenis Gerhana
Spanyol Total
Maroko Total
Tunisia Total
Libya Total
Mesir Total
Arab Saudi Total
Sudan Total
Somalia Total
Indonesia Tidak Terlihat
Fenomena Langit Lain pada Tahun 2025
Meskipun gerhana matahari total tidak terjadi pada 2 Agustus 2025, langit tetap menyajikan beberapa fenomena menarik. Salah satunya adalah gerhana matahari sebagian yang akan terjadi pada 21 September 2025.
Gerhana ini akan terlihat di Samudra Pasifik Selatan dan sebagian wilayah Selandia Baru serta Antartika. Sekitar 80% Matahari akan tertutup oleh Bulan di wilayah-wilayah tersebut.
Berikut ini wilayah dan persentase gerhana yang dapat diamati:
Auckland, Selandia Baru: 61%
Oban, Selandia Baru: 73%
Antartika: Bervariasi tergantung lokasi
Selain itu, terdapat kemungkinan gerhana matahari hibrida pada 29 Maret 2025, meskipun lokasi dan detail pastinya masih dikaji.
Cara Terbaik Menyaksikan Gerhana Matahari Secara Aman
Masyarakat diimbau untuk selalu waspada saat mengamati fenomena langit seperti gerhana matahari. Menatap Matahari secara langsung tanpa pelindung dapat merusak retina secara permanen.
Gunakan alat bantu seperti:
Kacamata matahari bersertifikasi ISO
Kamera lubang jarum (pinhole)
Filter khusus pada teleskop atau DSLR
Layar proyeksi tidak langsung
Mengamati gerhana dengan cara yang salah bisa menyebabkan kebutaan parsial atau permanen. Edukasi tentang pengamatan yang aman harus terus disosialisasikan.
Fakta Tentang Gerhana Matahari Secara Umum
Gerhana matahari terjadi saat Bulan berada di antara Matahari dan Bumi dalam orbitnya. Posisi ini menyebabkan sinar Matahari terhalang, menimbulkan bayangan di Bumi.
Fenomena langit ini bisa berupa:
Gerhana total – seluruh Matahari tertutup Bulan.
Gerhana sebagian – hanya sebagian Matahari yang tertutup.
Gerhana cincin – Bulan menutupi tengah Matahari, menyisakan lingkaran cahaya.
Di seluruh dunia, gerhana matahari terjadi setiap 18 bulan. Namun, tidak semua orang dapat menyaksikannya, tergantung pada jalur totalitasnya.
Fenomena langit seperti gerhana matahari selalu menarik, tetapi informasi yang beredar perlu diverifikasi agar tidak menjadi korban misinformasi. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah