RADAR TULUNGAGUNG- Cuaca ekstrem kembali melanda sejumlah wilayah di Provinsi Bali, menyebabkan banjir di beberapa titik seperti Denpasar, Gianyar, Badung, dan Tabanan.
Hujan deras dengan intensitas tinggi sejak dini hari memicu genangan dan luapan sungai di berbagai lokasi.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui siaran pers resminya menjelaskan bahwa fenomena ini disebabkan oleh aktivitas gelombang atmosfer Madden-Julian Oscillation (MJO) yang memicu peningkatan awan hujan di wilayah Indonesia tengah, termasuk Bali.
Kepala BMKG Wilayah III Denpasar, I Made Wardana, mengungkapkan bahwa kondisi atmosfer saat ini sangat labil.
“Terdapat penguatan massa udara basah dari Samudra Hindia menuju Bali. Ini menyebabkan pembentukan awan konvektif secara masif, sehingga hujan deras turun dalam waktu singkat namun intens,” ujarnya.
Selain itu, faktor suhu permukaan laut yang hangat di perairan selatan Bali juga memperkuat potensi pembentukan awan hujan.
Berdasarkan data sementara dari BPBD Provinsi Bali, berikut beberapa wilayah yang terdampak banjir:
1. Denpasar Timur: Jalan-jalan utama tergenang, aktivitas warga terganggu.
2. Gianyar: Beberapa desa di Kecamatan Blahbatuh dan Sukawati tergenang air setinggi 30–50 cm.
3. Tabanan: Luapan Sungai Yeh Ho menyebabkan banjir bandang di Desa Kerambitan.
4. Badung: Sejumlah titik di Kuta dan Dalung mengalami genangan parah.
Hingga pukul 11.00 WITA, belum ada laporan korban jiwa, namun puluhan rumah dan fasilitas umum mengalami kerusakan ringan hingga sedang.
Baca Juga: Viral! Netizen Malaysia Kirim Kopi Susu dan Nasi Lemak Lewat Ojol ke Massa Demo DPR RI di Indonesia
BMKG mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem hingga 13 September 2025. Warga diminta untuk menghindari aktivitas di luar rumah jika tidak mendesak, memantau informasi cuaca dari kanal resmi BMKG dan BPBD, serta siaga jika tinggal di wilayah rawan longsor atau dekat aliran sungai.
Cuaca ekstrem yang melanda Bali bukan hanya berdampak pada aktivitas warga, tetapi juga menjadi peringatan penting terkait perubahan iklim dan kondisi lingkungan.
Masyarakat diharapkan tetap waspada dan mengikuti perkembangan informasi dari pihak berwenang untuk meminimalisir risiko yang lebih besar. ****
Editor : Dharaka R. Perdana