RADAR TULUNGAGUNG - Fenomena edit foto AI berlebihan yang melibatkan selebritas, atlet, hingga musisi kini menjadi sorotan tajam di media sosial.
Teknologi kecerdasan buatan (AI) yang seharusnya menjadi alat kreativitas, justru disalahgunakan sebagian penggemar untuk menciptakan konten yang melanggar batas privasi dan etika.
Foto-foto editan yang menampilkan pose tidak pantas, seperti dipeluk, dirangkul, hingga dicium, menyebar luas dan menimbulkan keresahan di kalangan figur publik.
Kemudahan yang ditawarkan aplikasi berbasis AI memungkinkan siapa saja merombak wajah seseorang dalam hitungan detik, mulai dari menghaluskan kulit hingga mengubah latar belakang.
Namun, tren edit foto AI bersama idola ini telah sampai pada tahap yang meresahkan, di mana wajah para idola ditempelkan pada tubuh atau adegan yang bukan milik mereka.
Bagi para figur publik yang telah bekerja keras membangun citra profesional, penyalahgunaan ini membuat mereka merasa kehilangan kendali atas wajah dan tubuh mereka sendiri di dunia digital.
Keresahan ini memicu lahirnya seruan massal untuk menghentikan praktik edit foto AI berlebihan.
Sebuah template imbauan yang berisi pesan "Idola kita adalah manusia, bukan objek fantasi. Yuk belajar sama-sama menghargai," telah dibagikan oleh lebih dari 22.000 akun di Instagram.
Aksi ini didukung oleh sejumlah selebritas ternama seperti Adhisty Zara, Adipati Dolken, Tissa Biani, hingga Abidzar Al Ghifari yang turut menyuarakan keprihatinan serupa.
Fenomena ini menjadi pengingat keras bahwa kreativitas digital harus diimbangi dengan etika dan rasa hormat terhadap hak orang lain.
Deretan Atlet dan Musisi Gerah, Sampaikan Protes Terbuka
Rasa tidak nyaman akibat editan foto AI tidak hanya dirasakan oleh kalangan artis, tetapi juga para pemain Timnas Indonesia yang fotonya kerap disalahgunakan oleh penggemar.
Bek Timnas, Rizky Ridho, secara terbuka menyatakan kekecewaannya setelah menemukan foto editan AI yang menampilkan dirinya seolah memegang bagian sensitif seorang wanita.
"Teman teman minta tolong lebih sopan lagi ya, tidak perlu edit yang kayak gini," ujarnya melalui akun Instagram pribadinya, menekankan pentingnya menjaga kesopanan.
Pemain naturalisasi Sandy Walsh juga memberikan peringatan keras.
Ia menilai foto-foto editan AI yang menampilkan dirinya merangkul seorang wanita tanpa izin berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dan masalah serius di kemudian hari.
Walsh bahkan mengancam akan memblokir akun penggemar yang terus menyebarkan konten semacam itu.
"Jika aku terus melihat ini di Instagram, aku akan mulai memblokir orang karena aku tidak bisa menerima hal ini," tegasnya.
Serupa dengan rekan-rekannya, Justin Hubner juga menjadi korban editan yang tidak pantas. Sebuah foto viral menunjukkan dirinya seolah-olah sedang mencium seorang gadis, yang langsung memicu reaksinya.
Hubner meminta para penggemarnya untuk berhenti membuat editan semacam itu dan menegaskan kesetiaannya pada pasangannya.
"Teman-teman, bisakah kita berhenti membuat editan seperti aku mencium gadis lain? Satu-satunya yang ingin aku cium hanyalah Jen," tulisnya.
Baca Juga: 10 Pekerjaan yang Tidak Bisa Digantikan oleh AI, Ini Alasannya!
Ancaman di Balik Tren: Dari Deepfake hingga Kejahatan Digital
Masalah ini bukan sekadar soal estetika atau fantasi penggemar. Teknologi AI yang disalahgunakan membuka pintu bagi berbagai bentuk kejahatan digital yang lebih serius.
Salah satu yang paling ekstrem adalah deepfake, teknologi yang mampu menciptakan foto atau video palsu yang sangat realistis.
Banyak figur publik, baik lokal maupun internasional, telah menjadi korban di mana wajah mereka ditempelkan pada konten pornografi atau hoaks, yang menyebabkan trauma psikologis dan merusak reputasi secara permanen.
Lebih jauh lagi, penyalahgunaan foto publik figur dapat memicu kejahatan lain.
Seperti pencurian identitas, pembuatan akun palsu untuk penipuan daring, hingga doxing (penyebaran informasi pribadi) dan perundungan siber (cyberbullying).
Para idola menjadi target yang sangat rentan karena wajah mereka sudah dikenal luas oleh masyarakat.
Dampak dari manipulasi informasi ini tidak hanya berhenti pada korban, tetapi juga bisa menyeret penggemar, keluarga, dan masyarakat luas ke dalam pusaran informasi yang salah.
Baca Juga: Gemini AI 2.5 vs ChatGPT: Siapa yang Lebih Pintar, Lebih Cepat, dan Lebih Berguna di Dunia Nyata?
Oleh karena itu, fenomena ini menuntut adanya langkah-langkah serius dari berbagai pihak. Pengguna media sosial harus lebih kritis dan bertanggung jawab atas setiap konten yang mereka buat dan bagikan.
Di sisi lain, pemerintah dan platform digital juga memiliki kewajiban untuk memperkuat regulasi dan mengembangkan teknologi pendeteksi deepfake yang lebih efektif.
Pada akhirnya, seperti yang ditegaskan para ahli, AI hanyalah sebuah alat. Dampak baik atau buruknya sepenuhnya bergantung pada bagaimana manusia menggunakannya.
Sudah saatnya kreativitas digital berjalan beriringan dengan etika, memastikan bahwa teknologi digunakan untuk berkarya, bukan untuk merendahkan martabat dan merampas rasa aman orang lain. ****
Editor : Dharaka R. Perdana