Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Viral Tepuk Sakinah di TikTok, Tradisi Baru di Akad Nikah yang Bikin Gen Z Tambah Bimbang Menikah

Resma Putri Anggraini • Jumat, 10 Oktober 2025 | 21:42 WIB

Tren Tepuk Sakinah bikin heboh Gen Z! Dari edukasi pra-nikah jadi ajang gengsi sosial. Benarkah makin jauh dari makna sakral?(Antaranews)
Tren Tepuk Sakinah bikin heboh Gen Z! Dari edukasi pra-nikah jadi ajang gengsi sosial. Benarkah makin jauh dari makna sakral?(Antaranews)

RADAR TULUNGAGUNG – Dunia maya, khususnya di kalangan Generasi Z (Gen Z), tengah diramaikan dengan tren “Tepuk Sakinah”.

Gerakan edukatif yang awalnya diperkenalkan dalam program Bimbingan Perkawinan (Bimwin) Kementerian Agama (Kemenag) ini kini menjelma menjadi fenomena budaya baru yang viral di media sosial, terutama di platform TikTok dan Instagram.

Yel-yel yang berisi pesan cinta dan keharmonisan rumah tangga ini mencuri perhatian karena memadukan unsur edukasi dengan cara yang menghibur.

Namun, di balik viralitasnya, tren ini justru menambah lapisan baru kegelisahan bagi Gen Z yang sudah memiliki banyak pertimbangan sebelum melangkah ke jenjang pernikahan.

Awalnya, Tepuk Sakinah digunakan sebagai metode interaktif untuk mencairkan suasana kelas Bimwin agar sesi pembekalan pra-nikah terasa lebih menarik, ringan, dan menyenangkan, terutama bagi pasangan muda.

Gerakan ini dirancang oleh Kantor Urusan Agama (KUA) untuk membantu calon pengantin memahami dan mengingat lima pilar keluarga sakinah.

Pilar-pilar yang diucapkan dalam lirik bertepuk tangan tersebut meliputi Zawaj (berpasangan), Mitsaqan Ghalizan (janji kokoh), Mu’asyarah Bil Ma’ruf (saling cinta, hormat, sayang, dan menjaga), Taradhin (saling rida), dan Musyawarah (berdiskusi dalam kebaikan).

Meskipun memiliki nilai positif karena membuat nilai-nilai keluarga sakinah mudah diingat dengan cara yang menyenangkan, tren Tepuk Sakinah justru menambah lapisan baru dalam ketakutan dan gengsi Gen Z terhadap pernikahan.

Sejak video dari salah satu KUA menjadi viral, banyak calon pengantin kini merasa harus menguasai dan menampilkan gerakan ini dengan sempurna saat akad agar acara mereka dianggap keren atau kekinian.

Bahkan, muncul anggapan yang menekan: “Belum sah nikah kalau belum Tepuk Sakinah”. Gen Z, yang pada dasarnya sudah terbebani oleh ekspektasi finansial dan tuntutan sosial, kini juga harus menghadapi tekanan untuk tampil “sempurna” di depan kamera.

Kekhawatiran Gen Z dan Akar Masalah Pernikahan

Generasi Z (Gen Z, lahir sekitar tahun 1997–2012) adalah generasi yang tumbuh dalam arus digital yang sangat deras dan cenderung lebih hati-hati serta penuh pertimbangan dalam urusan pernikahan. Mereka sering menyimpan ketakutan dan keraguan yang jarang diungkapkan secara terbuka.

Beberapa faktor utama yang mendasari keraguan Gen Z untuk menikah, yang kini beririsan dengan tekanan tren Tepuk Sakinah, meliputi:

1. Masalah Ekonomi: Banyak Gen Z merasa belum memiliki pondasi finansial yang kuat. Sulitnya memiliki pekerjaan tetap, tingginya harga kebutuhan pokok, dan impian untuk punya rumah sendiri membuat pernikahan tampak seperti beban besar.

2. Ekspektasi Ideal Media Sosial: Gen Z tumbuh dengan standar kehidupan pernikahan yang ideal dan "sempurna" di media sosial (romantis, rumah indah, liburan mewah), sehingga merasa belum layak menikah jika belum memenuhi standar tersebut.

3. Ketakutan Kehilangan Kebebasan: Sebagian Gen Z terbiasa menghargai ruang personal dan bebas berekspresi, sehingga menikah dibayangkan sebagai keharusan untuk terus berkompromi dan kehilangan sebagian kebebasan pribadi.

4. Trauma Keluarga: Ada pula yang membawa pengalaman pahit dari pertengkaran orang tua atau perceraian yang menimbulkan trauma, sehingga mereka ragu terhadap pernikahan.

Baca Juga: Pekanbaru Berseri, Perpaduan Adat dan Modernitas dalam Pernikahan Melayu Riau yang Memukau

Dengan adanya tren viral seperti Tepuk Sakinah, calon pengantin yang tidak percaya diri tampil di depan umum pun merasa terbebani.

Respon Kemenag dan Skeptisisme Publik

Viralitas gerakan ini juga menarik perhatian pejabat tinggi. Menteri Agama, Nazaruddin Umar, mengungkapkan gagasan ini sebagai 'jurus' baru Kemenag untuk memperkuat ketahanan keluarga dan menekan lonjakan angka perceraian. Namun, gagasan ini disambut skeptis oleh publik.

Skeptisisme muncul karena nama dan konsep "Tepuk Sakinah" dianggap terlalu menyederhanakan masalah rumah tangga yang sangat kompleks.

Warganet mempertanyakan efektivitasnya di tengah masalah-masalah fundamental penyebab perceraian, seperti kesulitan finansial/utang, ketidaksetiaan, atau kekerasan fisik dan psikis.

Kekhawatiran publik adalah bahwa program ini hanya akan menjadi seremoni tanpa menyentuh akar permasalahan yang sesungguhnya.

Meskipun Kemenag belum merilis detail teknis mengenai implementasi program ini, mereka menjelaskan bahwa "Tepuk" bisa diartikan sebagai simbol dukungan, semangat, atau pengingat bagi pasangan untuk kembali ke komitmen awal pernikahan.

Bukan Kewajiban, Hanya Alat Ice Breaking

Menanggapi anggapan bahwa Tepuk Sakinah adalah ritual wajib, pejabat Kemenag memberikan klarifikasi.

Dirjen Bimas Islam Kemenag, Abu Rokhmad, menegaskan bahwa pendekatan ini dibuat agar pembekalan pra-nikah terasa lebih menarik.

Dia menjelaskan bahwa Tepuk Sakinah hanyalah bagian dari ice breaking dan gerakan ini bukan kewajiban dalam akad nikah.

Kepala Biro Humas Kemenag, Thobib Al Asyhar, juga menambahkan bahwa jika digunakan, sifatnya hanya untuk mencairkan suasana.

Baca Juga: Pesta Pernikahan di Kampung Tulungagung Seminggu Sebelum, Kampung Sudah Hidup!

Meskipun pesan yang dibawa—bahwa keluarga harus dibangun dengan cinta, ketenangan, dan kasih sayang—tetap relevan, KUA sendiri sudah menegaskan bahwa gerakan ini hanyalah alat bantu pemahaman nilai keluarga.

Fokus pada Kesiapan, Bukan Viralitas

Meskipun sebagian warganet menilai gerakan ini lucu dan edukatif, sebagian lainnya menganggapnya terlalu kekanak-kanakan.

Para ahli menegaskan bahwa jika tidak dipahami secara bijak, tren ini dapat menggeser makna sakral pernikahan menjadi sekadar tontonan viral.

Ketakutan Gen Z terhadap pernikahan sebetulnya menunjukkan kesadaran dan kehati-hatian dalam melangkah.

Namun, gengsi terhadap tren seperti Tepuk Sakinah bisa membuat pernikahan dipandang sebagai beban, bukan ibadah yang penuh berkah.

Pada akhirnya, pernikahan tidak seharusnya diukur dari viral atau tidaknya sebuah acara, melainkan dari kesiapan mental, spiritual, dan komitmen kedua belah pihak. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#tepuk sakinah #tren nikah di kua #Gen Z nikah muda