RADAR TULUNGAGUNG - Kontroversi pernyataan Kepala BNPB Suharyanto tentang banjir Sumatera yang disebut “hanya mencekam di media sosial” masih menjadi perbincangan hangat publik.
Meski sudah diralat dan disertai permohonan maaf, ucapan Kepala BNPB Suharyanto terlanjur memantik respons luas.
Publik menilai persoalan banjir Sumatera bukan sekadar narasi di dunia maya, melainkan bencana yang berdampak langsung pada banyak warga.
Dalam riuh kritik yang muncul, masyarakat justru kembali mengingat dua figur penting BNPB terdahulu: Doni Monardo dan Sutopo Purwonugroho.
Kedua sosok itu dianggap memiliki gaya kepemimpinan dan komunikasi publik yang kuat, terutama saat menghadapi bencana berskala nasional.
Tak heran jika pernyataan yang menyinggung banjir Sumatera tersebut memunculkan perbandingan dari banyak kalangan.
Mereka menilai bagaimana Doni dan Sutopo dulu hadir di garis depan, menyampaikan informasi dengan transparan sekaligus menunjukkan empati pada korban.
Doni Monardo dan Rekam Jejak Kepemimpinan di Masa Pandemi
Nama Doni Monardo kembali mencuat sebagai figur yang dinilai memiliki kepemimpinan tangguh.
Ia dikenal bekerja tanpa henti saat memimpin Satuan Tugas Penanganan Covid-19.
Selama berbulan-bulan, Doni memilih tinggal di Graha BNPB demi merespons percepatan penanganan pandemi.
Ia turun langsung ke daerah rawan, memastikan penanganan darurat berjalan dengan cepat dan tepat.
Salah satu hal yang menonjol dari Doni adalah ketegasannya menyuarakan isu lingkungan.
Ia konsisten mengingatkan bahaya penggunaan merkuri, kerusakan alam, hingga pentingnya edukasi kebencanaan.
Kepeduliannya terhadap keberlanjutan lingkungan membuatnya diganjar gelar doktor kehormatan dari IPB.
Tidak hanya itu, Wakil Presiden ke-13 RI, Ma’ruf Amin, pernah menyebut Doni sebagai tokoh terbaik yang sangat dibutuhkan negara.
Gaya Doni yang fokus pada aksi lapangan dianggap sesuai dengan kebutuhan penanganan bencana yang menuntut kecepatan.
Dalam konteks kontroversi banjir Sumatera ini, publik menilai Doni selama bertugas mampu menjaga kepercayaan masyarakat melalui pendekatan langsung dan bahasa komunikasi yang menenangkan.
Sutopo: Simbol Keteguhan dan Empati
Selain Doni, publik juga mengenang sosok almarhum Sutopo Purwonugroho, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB yang melegenda.
Sutopo menjadi simbol keteguhan setelah tetap menjalankan tugas meski berjuang melawan kanker paru stadium empat.
Dari ruang perawatan, ia tetap menyampaikan informasi bencana, bahkan sering hingga larut malam.
Komunikasinya yang jernih dan empatik membuat informasi dari BNPB saat itu menjadi rujukan utama masyarakat.
Sutopo aktif di Twitter (sekarang X), menjawab pertanyaan warganet, mengklarifikasi hoaks, dan menenangkan publik setiap kali bencana terjadi.
Ketulusannya membuat banyak pihak, termasuk media internasional, memberikan penghargaan kepadanya.
Warisan Sutopo tidak hanya berupa data bencana yang akurat, tetapi juga rasa humanis dalam setiap penyampaiannya.
Publik menilai gaya komunikasi inilah yang kini mulai dirindukan, terutama saat muncul pernyataan pejabat yang dianggap kurang sensitif seperti terkait banjir Sumatera*
Publik Mencari Figur yang Menghadirkan Empati
Kemunculan kembali nama Doni Monardo dan Sutopo dalam diskusi publik bukan tanpa alasan.
Bencana alam di Indonesia kerap menyisakan trauma, sehingga kehadiran figur yang empatik dan mampu menenangkan sangat diperlukan.
Dalam beberapa kesempatan, komentar pejabat yang dianggap kurang tepat memicu kekecewaan publik, seperti yang terjadi pada polemik banjir Sumatera ini.
Bagi banyak orang, keduanya mewakili era BNPB yang responsif dan komunikatif.
Doni dengan gaya kepemimpinannya yang tegas, Sutopo dengan kelembutan dan keteguhannya menyampaikan informasi.
Publik menilai bahwa karakter seperti itulah yang dibutuhkan saat negara menghadapi bencana.
Meski Suharyanto telah mengoreksi pernyataannya dan menyampaikan permintaan maaf, reaksi masyarakat memperlihatkan bahwa standar komunikasi pejabat kebencanaan kini sudah cukup tinggi.
Figur-figur seperti Doni dan Sutopo telah meninggalkan benchmark yang kuat: hadir, merespons cepat, dan menyampaikan informasi secara empatik.
Dalam situasi bencana yang rawan menimbulkan kegelisahan, publik membutuhkan pemimpin yang mampu membangun kepercayaan dan menghadirkan ketenangan.
Kontroversi banjir Sumatera ini menjadi pengingat bahwa sensitivitas dan empati sangat menentukan bagaimana sebuah pernyataan diterima masyarakat.***
Editor : Vidya Sajar Fitri