Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Dua Pelari Meninggal saat Ikut Siksorogo Lawu Ultra 2025, Medan Ekstrem dan Dugaan Serangan Jantung Ungkap Fakta Mengejutkan

Naufal Shafa Diya • Rabu, 10 Desember 2025 | 23:08 WIB
Dua pelari Siksorogo Lawu Ultra 2025 meninggal diduga serangan  jantung.(ilustrasi AI)
Dua pelari Siksorogo Lawu Ultra 2025 meninggal diduga serangan jantung.(ilustrasi AI)

RADAR TULUNGAGUNG - Kabar duka datang dari ajang lari Siksorogo Lawu Ultra 2025.

Dua pelari meninggal saat ikut Siksorogo Lawu Ultra 2025 yang digelar di Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Minggu (7/12/2025).

Informasi ini dibenarkan dewan pembina Siksorogo, Tony Hatmoko, yang mengonfirmasi bahwa korban bernama Pujo Kuntoro, 55, dan Sigit Joko Purnomo, 45. Keduanya mengikuti kategori lari 15 kilometer.

Insiden pelari meninggal saat ikut Siksorogo Lawu Ultra 2025 ini mengejutkan komunitas lari jarak jauh, sebab kedua korban dikenal bukan sebagai pelari pemula.

Mereka tercatat aktif mengikuti berbagai event lari ultra sebelumnya. Sigit merupakan ASN asal Jakarta Pusat, sementara Pujo adalah PNS asal Karanganyar.

Menurut informasi awal, Sigit roboh di titik Bukit Cemoro Mitis, tepatnya di KM 12 sekitar pukul 10.44 WIB.

Petugas PMI serta marshall yang berjaga di jalur langsung memberikan pertolongan pertama. Namun kondisi Sigit tidak membaik. Ia dinyatakan meninggal dunia saat dievakuasi menuju RSUD Karanganyar.

Selang beberapa menit kemudian, sekitar pukul 10.55 WIB, peserta lain bernama Pujo juga ditemukan terkapar di rute Bukit Cemorowayang di KM 8.

Evakuasi dilakukan dengan cepat, tetapi nyawanya tak tertolong. Kedua jenazah kini berada di RSUD Karanganyar untuk pemeriksaan lanjutan.

Medan Tanjakan Ekstrem dan Riwayat Penyakit Diduga Jadi Pemicu

Tony Hatmoko menjelaskan bahwa dugaan sementara penyebab kematian keduanya adalah serangan jantung. Pujo disebut mengalami sesak napas sesaat sebelum tumbang.

Selain itu, Pujo juga memiliki riwayat gangguan pada paru-paru. Faktor medan menjadi perhatian khusus.

Jalur Siksorogo Lawu Ultra dikenal menantang karena menggabungkan lintasan menanjak, turunan terjal, serta jalur tanah hutan yang licin.

Tony menegaskan bahwa rute tersebut membutuhkan kondisi fisik prima. Kombinasi antara berlari dan mendaki membuat beban tubuh meningkat drastis, terutama pada pelari usia di atas 40 tahun.

Meski demikian, ia menepis anggapan bahwa korban adalah pelari yang kurang berpengalaman.

“Keduanya bahkan sempat bertegur sapa sebelum lomba dimulai. Mereka sudah sering mengikuti lomba jarak jauh,” ujarnya.

Evakuasi Cukup Berat karena Hujan Sehari Sebelumnya

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar turut membantu proses evakuasi.

Kepala Pelaksana BPBD, Hendro Prayitno, mengatakan bahwa petugas BPBD membutuhkan hampir satu jam untuk mengevakuasi Pujo dari lokasi kejadian menuju titik aman.

Menurutnya, medan jalur saat itu sangat licin karena hujan yang turun sehari sebelumnya. Hal tersebut memperlambat pergerakan tim penyelamat dan meningkatkan risiko tergelincir.

Petugas sempat melakukan pacu jantung kepada Pujo. Namun upaya tersebut tidak berhasil mengembalikan kesadarannya.

Hendro menambahkan bahwa Pujo merupakan suami dari Kepala Bagian Perekonomian Setda Karanganyar. Tak hanya keluarga korban, komunitas pelari dan panitia juga terpukul oleh kejadian tersebut.

Polisi Lakukan Pendalaman dan Pemeriksaan Medis

Hingga saat ini, polisi bersama panitia lomba masih mendalami penyebab pasti kematian kedua pelari tersebut.

Pemeriksaan medis forensik di RSUD Karanganyar masih berlangsung. Kapolsek Tawangmangu menegaskan bahwa penyelidikan dilakukan untuk memastikan apakah insiden ini semata-mata akibat faktor kesehatan atau ada kemungkinan lain seperti kelelahan ekstrem.

Panitia juga tengah mengevaluasi sistem keselamatan dan kesiapan jalur. Termasuk jumlah marshall di titik rawan, ketersediaan paramedis, serta mekanisme respons cepat terhadap peserta yang mengalami kondisi darurat.

Komunitas Lari Berduka dan Serukan Evaluasi Keselamatan

Kematian dua pelari ini membuat komunitas pelari di seluruh Indonesia berduka. Banyak yang menyerukan evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan event lari jarak jauh, terutama yang melibatkan rute ekstrem di pegunungan.

Meski lari ultra memang dikenal penuh risiko, beberapa pelari menilai bahwa pemeriksaan kesehatan sebelum lomba serta edukasi risiko bagi peserta berusia di atas 40 tahun perlu diperketat.

Kondisi jalur yang licin akibat cuaca juga perlu menjadi faktor pertimbangan bagi panitia sebelum lomba dimulai.

Di sisi lain, para peserta yang hadir di lokasi menyebut bahwa panitia sudah berupaya maksimal membantu korban.

Mereka berharap kejadian ini menjadi pelajaran bersama agar ke depan keselamatan peserta bisa semakin diutamakan.

Insiden pelari meninggal saat ikut Siksorogo Lawu Ultra 2025 menjadi pengingat bahwa olahraga ekstrem membutuhkan persiapan fisik, mental, dan medis yang matang.

Panitia, peserta, dan komunitas harus bekerja sama agar tragedi serupa tidak terulang.***

Editor : Vidya Sajar Fitri
#serangan jantung #siksorogo lawu ultra 2025 #evakuasi karanganyar #pelari meninggal #medan ekstrem