RADAR TULUNGAGUNG- Patung macan putih Kediri mendadak viral dan menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Patung yang baru selesai dibangun di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, itu menuai beragam komentar warganet.
Bentuknya yang dinilai tak menyerupai sosok harimau pada umumnya membuat publik terbelah antara kritik pedas dan pembelaan dari sudut pandang seni.
Keberadaan patung macan putih Kediri pertama kali ramai setelah cuplikan videonya tersebar luas di berbagai platform media sosial.
Alih-alih terlihat gagah dan sangar, patung berwarna hitam putih tersebut justru dianggap memiliki proporsi tubuh yang janggal. Sejumlah warganet bahkan menyebut patung itu lebih mirip zebra, kuda nil, hingga tapir.
Patung tersebut berdiri di area desa dengan ukuran cukup mencolok. Panjangnya sekitar 1,5 meter, lebar 1 meter, dan tinggi mencapai 2,5 meter termasuk bagian pondasi.
Meski dimaksudkan sebagai ikon desa, visual patung inilah yang kemudian memicu gelombang komentar dan kritik dari masyarakat luas.
Baca Juga: Awal Tahun Baru 2026 di Tulungagung Justru Disambut dengan Menghela Nafas Panjang, Kenapa?
Viral di Media Sosial, Tuai Kritik Warganet
Kritik warganet terhadap patung macan putih Kediri sebagian besar menyoroti bentuk kepala, tubuh, hingga corak warnanya.
Banyak yang menilai hasil akhir patung tidak sesuai dengan ekspektasi awal tentang sosok macan putih yang dikenal gagah dan berwibawa dalam berbagai cerita rakyat maupun simbol budaya Jawa.
Namun di tengah kritik yang mengalir deras, muncul pula suara pembelaan, khususnya dari kalangan pelaku seni.
Seniman bernama Emprasitio menilai karya tersebut seharusnya tidak dilihat semata dari kemiripan bentuk dengan hewan aslinya.
Menurut dia, karya seni memiliki kebebasan ekspresi dan konteks yang perlu dipahami secara utuh.
“Menilai karya seni tidak bisa hanya dari bentuk visual. Harus dilihat latar belakang pembuatannya, fungsi patung itu, serta kesepakatan awal antara pembuat dan pihak yang memesan,” ujarnya.
Baca Juga: Hari-hari Terakhir 2025 di Tulungagung, Semua Hal di Depan Mata Tidak Harus Ikut Berakhir
Patung sebagai Simbol Legenda Desa
Kepala Desa Balongjeruk, Syafi’i, turut memberikan penjelasan terkait polemik tersebut. Ia menegaskan bahwa pembangunan patung macan putih merupakan inisiatif pemerintah desa yang telah melalui proses pembahasan dan kesepakatan dalam sejumlah rapat.
Menurut Syafi’i, patung itu dibuat untuk mengangkat legenda macan putih yang telah lama hidup dalam cerita turun-temurun warga Desa Balongjeruk.
Sosok macan putih diyakini sebagai simbol penjaga desa sekaligus bagian dari identitas lokal yang ingin terus dikenalkan kepada generasi muda.
“Patung ini diharapkan menjadi pengingat sejarah dan legenda desa, sekaligus memperkuat identitas Balongjeruk,” kata Syafi’i.
Dikerjakan Warga Lokal Selama 18 Hari
Proses pengerjaan patung macan putih Kediri dilakukan oleh warga setempat yang dikenal memiliki kemampuan membuat patung.
Patung tersebut dibuat dari bahan campuran besi dan semen, dengan waktu pengerjaan sekitar 18 hari. Pembangunan dimulai sejak bulan lalu hingga akhirnya selesai dan dipasang di lokasi.
Meski demikian, Syafi’i mengakui bahwa hasil akhir patung tidak sepenuhnya sesuai dengan gambaran awal yang direncanakan.
Namun pihak desa memilih menyikapi kritik publik dengan terbuka dan tidak menyalahkan pembuat patung. “Kami menerima semua masukan. Ini menjadi bahan evaluasi ke depan,” ujarnya.
Fenomena viralnya patung macan putih Kediri menjadi pengingat bahwa ruang publik kini tak lepas dari sorotan media sosial.
Setiap karya, terutama yang berada di ruang terbuka, berpotensi mendapat penilaian luas dari masyarakat.
Di sisi lain, polemik ini juga membuka diskusi tentang batas antara selera publik, fungsi simbolik sebuah karya, dan kebebasan berekspresi dalam seni.
Bagi pemerintah desa, kejadian ini menjadi pengalaman berharga dalam merencanakan proyek visual yang melibatkan identitas dan citra daerah.
Terlepas dari pro dan kontra, patung macan putih di Desa Balongjeruk kini telah menjadi ikon yang dikenal luas, bahkan melampaui batas wilayah desa.
Nama Balongjeruk dan Kabupaten Kediri pun ikut terangkat dalam percakapan publik nasional. ****
Editor : Dharaka R. Perdana