RADAR TULUNGAGUNG- Kasus getok harga Telaga Sarangan kembali mencoreng wajah pariwisata Jawa Timur.
Keluhan wisatawan yang harus merogoh kocek hampir Rp 600 ribu hanya untuk membeli minuman di kawasan wisata Telaga Sarangan, Kabupaten Magetan, viral di media sosial dan menuai sorotan publik.
Keluhan tersebut diunggah oleh pemilik akun Facebook Agus Suyono, yang diketahui merupakan pemilik agen travel asal Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.
Dalam unggahannya, Agus menceritakan pengalaman tidak menyenangkan saat membawa rombongan wisatawan berkunjung ke Telaga Sarangan pada 3 Januari 2026 lalu.
Menurut Agus, kejadian getok harga Telaga Sarangan itu terjadi saat dirinya bersama sekitar 20 wisatawan menunggu jemputan lanjutan menuju kawasan wisata lain.
Ia kemudian mengajak rombongan singgah di sebuah warung makan bernama Primarasa untuk sekadar minum dan mengganjal perut.
“Saya hanya minum kopi, ada yang minum jahe, sebagian makan mi instan dan bakso. Tapi totalnya hampir Rp600 ribu,” ujar Agus saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Rabu (7/1/2026).
Harga Minuman Dinilai Tak Masuk Akal
Agus mengaku terkejut setelah menerima tagihan dari pemilik warung.
Ia menilai harga yang dipatok jauh dari kewajaran, bahkan dibandingkan standar harga di kawasan wisata.
“Kopi sachet yang harga belinya sekitar Rp 1.500 dijual Rp 20 ribu. Jeruk hangat juga Rp 20 ribu. Kalau Rp 10 ribu atau Rp 15 ribu, kami masih maklum karena ini daerah wisata,” tegasnya.
Padahal, Agus bukan kali pertama singgah di warung tersebut. Ia mengaku sudah lebih dari 10 kali mampir ke tempat yang sama saat membawa rombongan wisatawan ke Telaga Sarangan.
Namun, baru kali ini ia merasa benar-benar dirugikan.
Yang paling disesalkan, lanjut Agus, di warung tersebut tidak terpampang daftar harga makanan dan minuman.
Hal ini membuat wisatawan tidak memiliki gambaran sejak awal mengenai harga yang harus dibayar.
Pedagang Kecil Justru Lebih Transparan
Ironisnya, Agus menilai pelaku usaha kecil di sekitar Telaga Sarangan justru lebih transparan dan ramah terhadap wisatawan.
Penjual sate kelinci, sate ayam, hingga penyedia jasa wisata seperti kuda tunggang dan speedboat disebutnya memiliki standar harga yang jelas.
“Pedagang kecil justru pasang harga. Kita jadi tahu dan bisa memilih. Tapi restoran malah tidak punya standar harga, ini yang merugikan wisatawan,” ucapnya.
Kasus getok harga Telaga Sarangan ini pun mendapat perhatian dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Magetan.
Namun, dinas mengakui keterbatasan kewenangan dalam menindak pelaku usaha nakal.
Dispar Magetan Akui Kejadian Berulang
Kepala Bidang Pengelolaan Pariwisata Disparbud Magetan, Eka Radityya, membenarkan bahwa praktik getok harga di kawasan Telaga Sarangan bukan kali pertama terjadi.
Bahkan, menurutnya, kejadian serupa pernah dilaporkan sebelumnya di lokasi yang sama.
“Kami sudah berulang kali mengingatkan pelaku usaha. Bahkan sudah kami keluarkan surat edaran agar rumah makan dan restoran menerapkan harga wajar serta mencantumkan daftar harga,” jelas Eka.
Ia menegaskan, pencantuman harga merupakan bentuk perlindungan bagi wisatawan sekaligus upaya menjaga citra destinasi wisata unggulan Magetan.
Imbauan untuk Wisatawan Lebih Teliti
Selain menyoroti pelaku usaha, Disparbud Magetan juga mengimbau wisatawan agar lebih bijak dan teliti sebelum membeli makanan atau minuman.
“Kalau harga tidak sesuai atau di luar batas kewajaran, ya tidak usah dibeli. Wajib menanyakan harga sejak awal,” ujarnya.
Meski demikian, Disparbud Magetan memastikan akan melakukan evaluasi menyeluruh atas viralnya kasus getok harga Telaga Sarangan tersebut.
Langkah ini diharapkan dapat mencegah kejadian serupa terulang, sekaligus memulihkan kepercayaan wisatawan terhadap Telaga Sarangan sebagai destinasi favorit di Jawa Timur.***
Editor : Vidya Sajar Fitri