RADAR TULUNGAGUNG- Pencarian pendaki hilang di Gunung Slamet atas nama Syafiq Ridan Ali Razan resmi dihentikan setelah berlangsung selama 13 hari.
Hingga akhir operasi, keberadaan pendaki asal Magelang, Jawa Tengah tersebut belum juga ditemukan meski tim SAR gabungan telah menyisir jalur pendakian hingga medan ekstrem di kawasan Gunung Slamet.
Syafiq Ridan Ali Razan dilaporkan hilang sejak Minggu, 28 Desember 2025. Ia diketahui berangkat mendaki seorang diri menuju Gunung Slamet melalui jalur Dipa Jaya, Kabupaten Pemalang.
Sebelum pendakian, Syafiq sempat memberi kabar kepada orang tuanya bahwa ia telah tiba di Basecamp Dipa Jaya.
Namun setelah itu, komunikasi terputus dan ponsel korban tidak lagi dapat dihubungi. Kasus pendaki hilang di Gunung Slamet ini pun menjadi perhatian luas masyarakat dan komunitas pendaki.
Upaya pencarian dilakukan secara intensif sejak laporan kehilangan diterima. Operasi SAR awalnya digelar selama tujuh hari, kemudian diperpanjang dua hari, dan kembali dilanjutkan hingga total 13 hari pencarian.
Namun, hingga batas akhir operasi, tanda-tanda keberadaan pendaki hilang di Gunung Slamet tersebut belum berhasil ditemukan.
Operasi SAR Libatkan Ratusan Personel Gabungan
Komandan Basarnas Kantor SAR Pemalang, Handika, menyampaikan bahwa operasi pencarian melibatkan ratusan personel gabungan dari berbagai unsur.
Tim SAR terdiri atas Basarnas, TNI, Polri, relawan, komunitas pendaki, hingga personel dengan kualifikasi khusus yang disesuaikan dengan karakter ekstrem Gunung Slamet.
“Selama 13 hari, tim SAR telah melakukan penyisiran secara menyeluruh mulai dari jalur pendakian via Basecamp Dipa Jaya hingga mendekati puncak Gunung Slamet,” ujar Handika.
Pencarian tidak hanya difokuskan pada jalur utama, tetapi juga mencakup lintasan sumber air, lereng-lereng curam, medan terjal, semak belukar rapat, hingga jurang-jurang dalam yang berpotensi menjadi lokasi korban terjatuh atau tersesat.
Medan Ekstrem dan Cuaca Jadi Kendala
Gunung Slamet dikenal memiliki karakter medan yang berat dan cuaca yang cepat berubah. Selama proses pencarian, tim SAR menghadapi sejumlah kendala, mulai dari kabut tebal, hujan, suhu dingin ekstrem, hingga jalur licin yang membahayakan keselamatan personel.
Vegetasi rapat di beberapa sektor juga menyulitkan proses penyisiran. Meski demikian, tim SAR memastikan seluruh prosedur pencarian telah dilakukan sesuai standar operasi penyelamatan di wilayah pegunungan.
“Kami sudah mengerahkan seluruh kemampuan dan sumber daya yang ada. Semua area yang dicurigai telah disisir,” tambah Handika.
Jalur Dipa Jaya Jadi Fokus Utama
Syafiq diketahui mendaki melalui jalur Dipa Jaya, salah satu jalur resmi pendakian Gunung Slamet yang berada di wilayah Kabupaten Pemalang.
Jalur ini cukup populer di kalangan pendaki, namun dikenal memiliki tingkat kesulitan tinggi, terutama bagi pendaki solo.
Selama 13 hari operasi, jalur Dipa Jaya menjadi fokus utama pencarian. Tim SAR membagi area pencarian ke dalam beberapa sektor untuk mempercepat proses penyisiran.
Namun hingga operasi dinyatakan selesai, tidak ditemukan barang bawaan, jejak, maupun petunjuk yang mengarah pada keberadaan korban.
Operasi Ditutup, Pencarian Dialihkan ke Pemantauan
Basarnas menyatakan bahwa operasi SAR resmi dihentikan dan dialihkan ke tahap pemantauan. Meski demikian, peluang pencarian lanjutan tetap terbuka apabila ada informasi baru atau inisiatif dari relawan dan komunitas pendaki.
“Jika ada pihak yang ingin melakukan pencarian lanjutan, kami persilakan berkoordinasi dengan pengelola Basecamp Dipa Jaya maupun Bambangan,” jelas Handika.
Kasus pendaki hilang di Gunung Slamet ini kembali menjadi pengingat pentingnya keselamatan dan kesiapan sebelum melakukan pendakian.
Faktor kondisi fisik, peralatan memadai, pemantauan cuaca, serta komunikasi menjadi aspek krusial, terutama saat mendaki gunung dengan karakter ekstrem seperti Gunung Slamet.
Hingga kini, keluarga korban masih menunggu kabar dan berharap adanya titik terang terkait nasib Syafiq Ridan Ali Razan. ****
Editor : Dharaka R. Perdana