Cancel Culture di Indonesia Belum Sekuat Korea, Artis Penuh Skandal Tetap Eksis dan Ada yang Sengaja Pansos
Manda Dwi Agustin• Kamis, 5 Februari 2026 | 13:16 WIB
Cancel culture di Indonesia dinilai belum sekuat Korea. Artis penuh skandal tetap eksis, bahkan ada yang sengaja pansos dari kontroversi.
RADARTULUNGAGUNG- Fenomena cancel culture di Indonesia kembali menjadi perbincangan seiring maraknya skandal yang melibatkan figur publik, khususnya artis dan influencer.
Berbeda dengan Korea Selatan yang dikenal memiliki budaya cancel culture ketat, di Indonesia pelaku skandal justru kerap tetap eksis, bahkan popularitasnya tidak jarang semakin meningkat.
Cancel culture sendiri merujuk pada praktik penolakan massal terhadap figur publik akibat perilaku yang dianggap melanggar norma sosial, etika, atau hukum.
Di Korea Selatan, satu skandal saja dapat membuat karier artis runtuh dalam waktu singkat.
Setelah beberapa waktu menghilang, mereka kembali muncul tanpa konsekuensi berarti.
Bahkan, beberapa di antaranya justru mendapat sorotan lebih besar karena rasa penasaran publik.
Dalam konteks ini, cancel culture di Indonesia sering kali berhenti pada kritik di media sosial tanpa tindak lanjut nyata.
Pengamat media menilai, industri hiburan Tanah Air masih menempatkan popularitas dan engagement sebagai prioritas utama.
Selama seorang figur publik masih mendatangkan penonton, rating, dan klik, pintu panggung tetap terbuka lebar.
Skandal Dijadikan Alat Pansos
Fenomena yang lebih mengkhawatirkan adalah munculnya oknum yang secara sadar memanfaatkan skandal sebagai strategi pansos atau panjat sosial.
Alih-alih menghindari kontroversi, sebagian figur publik justru sengaja memicu drama agar tetap relevan di tengah persaingan industri hiburan.
Skandal pribadi kerap diolah menjadi konten, mulai dari klarifikasi di podcast, wawancara eksklusif, hingga sinetron kehidupan pribadi di media sosial.
Pola ini menciptakan siklus di mana kontroversi tidak lagi dianggap sebagai ancaman, melainkan peluang.
Dalam situasi seperti ini, cancel culture kehilangan daya tekan.
Kritik publik berubah menjadi komoditas, sementara pelaku skandal justru diuntungkan oleh algoritma media sosial yang menyukai kontroversi.
Meski demikian, sejumlah pihak menilai cancel culture juga perlu dijalankan secara proporsional.
Kritik publik seharusnya bertujuan mendorong tanggung jawab dan perubahan perilaku, bukan sekadar menghukum tanpa ruang klarifikasi.
Ke depan, tantangan terbesar cancel culture di Indonesia adalah menemukan keseimbangan antara akuntabilitas, edukasi publik, dan etika industri hiburan.
Tanpa itu, skandal berpotensi terus menjadi panggung, bukan peringatan.***