Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Viral Video Klaim Rekayasa Cuaca dan Geoengineering Global, Disebut Bukan Bencana Alam Murni tapi Hasil Engineering

Natasha Eka Safrina • Sabtu, 7 Februari 2026 | 16:40 WIB

Video viral mengklaim rekayasa cuaca dan geoengineering global. Benarkah bencana bukan alami? Simak penjelasan lengkapnya.
Video viral mengklaim rekayasa cuaca dan geoengineering global. Benarkah bencana bukan alami? Simak penjelasan lengkapnya.

JAKARTA – Sebuah video diskusi panjang yang beredar luas di YouTube kembali memicu perdebatan publik setelah memuat klaim bahwa berbagai bencana alam, termasuk cuaca ekstrem, gempa bumi, hingga siklon, bukan sepenuhnya peristiwa alamiah, melainkan hasil rekayasa cuaca atau geoengineering yang dilakukan oleh kekuatan global.

Dalam tayangan tersebut, pembicara menyebut istilah environmental engineering dan geoengineering sebagai bukti bahwa fenomena cuaca ekstrem tidak terjadi secara alami. Ia menegaskan bahwa istilah tersebut secara harfiah berarti hasil rekayasa, bukan kehendak alam atau Tuhan, sebagaimana dipahami masyarakat selama ini.

Sejak diunggah, video ini ramai diperbincangkan di media sosial karena memuat narasi besar tentang dugaan pengendalian cuaca, biometrik digital, hingga agenda global yang disebut sedang dijalankan secara sistematis.

Baca Juga: PKH Tahap 1 Februari 2026 Ramai Cair di KKS BSI, Ini Fakta Terbaru KKS BRI dan Urutan Bank Penyalur Selanjutnya

Klaim Geoengineering dan Rekayasa Cuaca

Dalam video tersebut, pembicara menuding bahwa istilah “cuaca ekstrem” bukan sekadar fenomena alam, melainkan merujuk pada adanya energi eksternal yang sengaja dimasukkan ke sistem alam. Ia menafsirkan kata “ekstrem” sebagai external energy mechanism, yang menurutnya menunjukkan intervensi manusia terhadap sistem cuaca.

Beberapa bencana seperti banjir bandang, siklon, dan bahkan gempa bumi disebut sebagai bagian dari rekayasa teknologi berskala besar. Ia juga mengaitkan proyek-proyek bawah laut dan aktivitas industri tertentu sebagai pihak yang disebut diuntungkan dari proses tersebut.

Namun, klaim ini disampaikan tanpa disertai bukti ilmiah terverifikasi atau penjelasan teknis yang dapat diuji secara akademik.

Isu Biometrik dan Digitalisasi

Selain soal rekayasa cuaca, video tersebut juga menyinggung penerapan teknologi biometrik, termasuk pengenalan wajah (face recognition), yang dikaitkan dengan kebijakan digitalisasi di berbagai negara. Pembicara mengklaim bahwa sistem biometrik merupakan bagian dari ekosistem global yang memungkinkan kontrol jarak jauh terhadap individu.

Ia bahkan menyebut kemungkinan terjadinya kondisi darurat, termasuk pemadaman sistem (blackout), dan menganjurkan masyarakat untuk menyiapkan diri menghadapi krisis selama 72 jam hingga tujuh hari sebagai bentuk kesiapsiagaan.

Narasi ini kemudian berkembang ke ajakan untuk meningkatkan kesadaran dan kemandirian masyarakat, bukan untuk menciptakan kepanikan.

Baca Juga: PKH Tahap 1 Tahun 2026 Resmi Cair! Ini Daftar KKS yang Sudah Masuk, Lalu Kapan Giliran KKS Bank BNI?

Narasi Konspirasi dan Kritik Media

Video tersebut juga mengkritik peran media arus utama yang dianggap lebih menonjolkan konflik dan sensasi. Pembicara menyebut istilah bad news is good news sebagai strategi yang diklaim sengaja digunakan untuk mengalihkan perhatian publik dari agenda yang lebih besar.

Selain itu, sistem pendidikan, politik, ekonomi, hingga hukum turut disinggung sebagai bagian dari sistem global yang dinilai membentuk pola pikir masyarakat secara tidak sadar.

Respons Publik Beragam

Menanggapi video ini, reaksi publik terbelah. Sebagian warganet menganggap diskusi tersebut sebagai upaya membangun kesadaran kritis dan mempertanyakan narasi resmi tentang bencana dan kebijakan global.

Baca Juga: Wisata Pantai Sine Tulungagung Makan Korban, Satu Pemuda Asal Malang Masih Hilang Terseret Ombak

Namun, banyak pula yang mengingatkan bahwa klaim tentang rekayasa cuaca dan geoengineering harus dibedakan antara opini, spekulasi, dan fakta ilmiah. Hingga kini, lembaga ilmiah internasional memang mengakui adanya riset geoengineering, namun penerapannya masih terbatas pada kajian dan eksperimen berskala kecil, bukan pengendalian bencana global seperti yang diklaim dalam video.

Pentingnya Literasi dan Verifikasi

Pakar komunikasi publik menilai fenomena viralnya video semacam ini menunjukkan meningkatnya ketidakpercayaan publik terhadap otoritas dan narasi resmi. Namun, masyarakat diimbau tetap mengedepankan literasi informasi, verifikasi sumber, serta membandingkan dengan kajian ilmiah yang kredibel.

Di era digital, konten dengan narasi besar dan emosional memang mudah menarik perhatian. Karena itu, sikap kritis dan rasional menjadi kunci agar diskursus publik tetap sehat dan tidak terjebak pada kesimpulan yang belum terbukti.

Baca Juga: Pencairan PKH BPNT Tahap 1 2026 Terus Berlanjut, Ini Daftar Daerah dan Bank yang Sudah Cair Hari Ini

Editor : Natasha Eka Safrina
#geoengineering #video viral YouTube Jajago #cuaca ekstrem #rekayasa cuaca